Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 66 bahagia berdua


__ADS_3

Malam hari sekitar pukul sembilan belas malam. Saat itu Rallyn baru selesai shalat dan baru saja melipat kembali alat shalatnya. Dia melihat ke tempat tidur tapi Jo tidak ada, dia kental mengalihkan pantangannya ke sofa yang ada di sudut ruangan kamarnya, tapi dia juga tidak melihat sosok Jo di sana.


"Kemana dia? Bukannya tadi udah pulang dari masjid sama ayah," batin Rallyn.


Rallyn memilih tak memikirkan laki-laki itu, toh dirinya juga sedang mempersiapkan diri kalau-kalau nanti Jo benar-benar memilih Kalila dan meninggalkan dirinya. Namun, saat dirinya hendak keluar dari kamar, dia mendengar suara berisik dari dalam kamar mandi.


Penasaran dengan apa yang ada di dalam kamar mandinya, Rallyn berjalan perlahan mendekati pintu kamar mandinya dan ternyata di dalam sana ada Jo yang sedang sibuk dengan kran yang airnya tidak mau keluar itu. Rallyn menghampiri Jo lalu bertanya apa yang sedang dia lakukan.


"Hei, ngapain ke sini?" tanya Jo saat melihat Rallyn di belahannya.


"Kamu lagi ngapain?" bukannya menjawab pertanyaan Jo. Rallyn malah balik bertanya.


"Ini, aku lagi mengecek kran airnya. Siapa tahu gak harus manggil tukang," sahut Jo.


"Emang kamu bisa?" tanya Rallyn lagi.


"Bisa. Semoga saja bisa," ucap Jo ragu-ragu. Dirinya memang tidak pernah melakukan pekerjaan itu, dengan kondisinya yang serba berkecukupan, dirinya hanya perlu membayar orang dan semua masalahnya pun selesai.


"Perasaan ada kran cadang deh. Ayah selalu menyimpan cadangannya," jelas Rallyn.


"Coba cari. Mungkin kran ini perlu diganti," ucap Jo yang sebenarnya tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti sebenarnya apa yang rusak dengan saluran air di dalam kamar mandi Rallyn itu.


Rallyn mengangguk paham. Dia pun segera keluar dari sana untuk menanyakan cadangan kran airnya. Setibanya di ruang keluarga, Rallyn langsung menanyakan apa yang sedang dicarinya pada sang ibu.


"Bu, ada kran air yang gak dipakai gak? Air di kamar mandiku tidak mau keluar, mungkin kran airnya mampet dan harus diganti baru," ucap Rallyn pada Bu Herlina.


"Ada. Sebentar ya, ibu ambilkan." Bu Herlina pun beranjak dari duduknya dan langsung menuju dapur rumahnya.


"Siapa yang mau mengganti kran? Gak mungkin kamu yang melakukannya dan gak mungkin suamimu juga bisa," ucap Pak Hardi.


"Jo sedang memeriksanya. Semoga dia bisa, 'kan udah jadi suami. Masa yang gitu aja gak bisa," ucap Rallyn.


"Dia itu orang kaya. Bukan tidak mungkin seumur hidupnya tidak pernah menemui kran air seperti di rumah kita ini," jelas Pak Hardi.

__ADS_1


"Hmm. Iya, sih. Di rumah mereka tidak ada kran bahkan tidak ada gayung," ucap Rallyn setelah terdiam beberapa saat.


"Nah, itu kamu tahu," ucap Bu Herlina yang datang dengan membawa sebuah kran baru di tangannya.


"Coba aja, Yah, Bu. Kali aja dia bisa," ucap Rallyn sembari mengambil alih kran itu dari tangan sang ibu. Setelah itu, dia pun segera kembali ke kamarnya untuk memberikan kran air itu pada Jo.


Setelah masuk ke dalam kamarnya. Rallyn langsung menuju kamar mandi. "Yakin kamu bisa?" tanya Rallyn karena tidak percaya pada Jo.


"Aku sedang berusaha," sahut Jo sembari memutar kran itu untuk melepaskannya dan mengganti dengan yang baru.


Tiba air langsung keluar setelah kran itu terlepas dari tempatnya dan membasahi mereka berdua. "Aaaa!" Rallyn berteriak karena terkejut.


Dia langsung bersembunyi di pelukan Jo, menghindari air yang menyembur dari lubang kran. Mereka tertawa karena kekonyolan Jo, tak terasa untuk saat itu Rallyn melupakan semua beban pikirannya.


"Kenapa bersembunyi. Kamu curang ya, aku jadi mandi lagi, nih," ucap Jo sembari terus memeluk Rallyn.


"Aku juga basah. Kamu gimana memperbaikinya, sampai kita jadi basah kuyup gini?" ucap Rallyn yang memang sudah kebasahan itu.


"Kran barunya mana, tadi? Aku pasang dulu," ucap Jo sambil melepaskan pelukannya.


Dengan air yang terus menyembur ke arahnya. Jo mencoba memasang kran baru itu, dia memasukannya ke dalam lubang air itu lalu memutarnya dan perlahan air itu pun mulai berhenti menyembur. Sementara itu, Rallyn masih setia menunggu di belakang Jo dengan keadaannya yang juga kebasahan.


Setelah beberapa menit, akhirnya Jo selesai dengan pekerjaannya. Dia membuka kran itu dan airnya pun langsung mengalir dari kran baru itu.


"Berarti kran yang tadi mampet. Mungkin ada kotoran yang menyumbat lubang airnya," jelas Jo.


"Mungkin saja. Yah, jadi mandi lagi deh kita," ucap Rallyn sembari tertawa kecil.


Jo ikut tertawa. Dia menatap Rallyn yang terlihat begitu bahagia, kebahagiaan yang lama tidak dia lihat kini kembali lagi.


"Aku lupa terakhir kali kamu bahagia seperti ini. Maafkan aku," batin Jo.


Jo mendekati Rallyn lalu meraih pinggangnya dengan tangan kiri. Dia mengeratkan pelukan dengan mata yang terus menatap wajah Rallyn. Rallyn hanya diam, dia juga menatap wajah Jo dengan tatapan mata yang tidak berkedip satu kali pun. Tangan kanannya membelai pipi Rallyn dan menyingkirkan anak rambut yang berantakan, menghalangi pipi mulus Rallyn.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku sadar ternyata aku bahagia sama kamu, aku mencintaimu, aku mau kita bersama-sama lagi seperti semula. Aku akan melupakan dia untuk kamu," ucap Jo dengan suara lembut.


Rallyn meneteskan air mata. Kebahagiaannya hilang saat Jo mengingatkannya pada kenyataan hidup yang begitu pahit yang dia rasakan.


"Maafkan aku," ucap Jo dengan suara berbisik. Dia memeluk Rallyn dengan erat, sesekali dia mencium kepala Rallyn.


Tak ada penolakan dari Rallyn. Memang kata-kata itu yang dia tunggu dari mulut suaminya itu. Meski begitu dirinya tak ingin langsung percaya karena biar bagaimana pun, Kalila adalah mantan istri Jo yang memiliki tempat tersendiri di dalam hati suaminya itu. Dia, memeluk suaminya, rindu yang selama ini menggunung, kini mulai terobati dengan pelukan itu.


**********


Waktu terus berjalan, kini pagi sudah tiba. Matahari mulai menampakkan sinarnya, tapi Jo masih tertidur pulas di atas kasur empuk milik Rallyn.


"Mas! Mas bangun," ucap Rallyn mencoba membangunkan Jo dengan cara menepuk-nepuk pipi laki-laki itu.


Merasakan sentuhan dari tangan sang istri, Jo menggerakkan tangannya dan langsung meraih telapak tangan sang istri. Dia menggenggam tangan itu lalu menciumnya, rasa ngantuk yang amat sangat tak dapat membuka matanya meski Rallyn sudah berulang kali membangunkannya.


"Mas, udah pagi. Udah jam enam lewat, kamu gak mau ke kantor?" tanya Rallyn.


"Sebentar lagi. Dua menit lagi," ucap Jo yang malah membawa tangan Rallyn ke dalam pelukannya.


"Mas, tadi mama menelponku. Mama menanyakan kamu, aku bilang saja kalau kamu tidur du rumah Kali–"


"Apa!" Jo langsung terbangun dan duduk di tempat tidur itu.


"Kenapa kamu bilang gitu?" tanya Jo lagi.


"Aku cuma bercanda. Bangunlah dan mandi sana!"


"Kamu mau pulang sama aku 'kan?" tanya Jo sebelum dia beranjak dari tempat tidurnya.


"Aku masih ingin di sini. Beberapa hari lagi saja," sahut Rallyn lalu pergi meninggalkan Jo.


Jo terdiam mematung. Ternyata permohonan maafnya belum cukup membuat Rallyn memaafkannya dan percaya padanya. Dia masih harus berusaha lagi agar Rallyn percaya padanya.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2