
Bu Reni tersenyum lalu mengusap lengan atas Rallyn.
"Terima kasih. Kamu hadir membawa warna dalam kehidupan kami terutama Alika dan Ashka," ucap Bu Reni.
Rallyn menatap Bu Reni lalu duduk di kursi makan!
"Mama, bisa aja padahal sebelumnya juga kehidupan du rumah ini sudah berwarna," ucap Rallyn.
Bu Reni ikut duduk di kursi makan itu yang letaknya berdekatan dengan Rallyn!
"Setelah Kalila pergi, Ashka tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan, kehidupannya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga Alika. Ashka lebih suka menyendiri saat ada waktu luang bahkan untuk kumpul bersama keluarga saja jarang sekali," jelas Bu Reni.
"Mungkin Mama tidak tahu dia dekat dengan perempuan lain selain mantan istrinya," ucap Rallyn yang tak percaya dengan perkataan Bu Reni, pasalnya dirinya pernah beberapa kali melihat Jo dekat dengan perempuan.
"Tidak, kalau dia punya seseorang yang dekat dengannya dia pasti langsung bawa ke rumah dan langsung dikenalin sama Mama. Mama tuh bersyukur banget Ashka mempunyai kamu, selain cantik kamu juga baik dan perhatian pada Alika," ucap Bu Reni.
Rallyn terdiam dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Padahal aku jauh dari yang, Mama katakan. Aku begini karena aku tidak bisa apa-apa selain menjalankan semua ini, Jo tidak mau menceraikan aku," batin Rallyn.
"Lagi pada ngobrolin apa? Serius banget kayaknya," ucap Jo yang baru tiba di sana.
Bu Reni dan Rallyn langsung menoleh ke arah Jo secara bersama-sama.
"Eh, Mas." Rallyn beranjak dari duduknya dan langsung mengambil teh yang ia buat khusus untuk Jo!
"Ini teh nya, semoga tidak kemanisan atau kurang manis," ucap Rallyn sembari memberikan cangkir berisi teh manis yang masih panas itu pada Jovanka.
Jo tersenyum sembari meraih teh itu! "Apa pun rasanya, selama kamu yang buat pasti enak di lidahku sekalipun kamu menambahkan garam akan tetap terasa manis bila aku meminumnya sambil liatin wajah kamu," ucap Jo.
Rallyn tertawa kecil. "Dasar duda kang gombal," ucapnya.
"Gak gombal, ini serius," ucap Jo lalu menyeruput teh yang masih sedikit panas itu.
"Ahh, rasanya kayak enak, manis kayak yang buat," sambung Jo setelah meminum teh itu.
"Udah, udah. Bercanda mulu ah," ucap Rallyn yang merasa malu terhadap sang ibu mertua.
Bu Reni tersenyum lebar, dia merasa bahagia karena melihat kebahagiaan telah kembali dalam kehidupan Jovanka.
__ADS_1
"Setelah lama kamu terpuruk karena cinta sekarang cinta juga yang membangkitkan kebahagiaan kamu, Nak. Semoga Rallyn adalah perempuan terakhir untukmu yang akan menemani kamu sampai tua nanti," batin Bu Reni.
"Sampai lupa sama Alika, tadi dia lagi ngerjain PR, udah selesai belum ya?" ucap Rallyn yang baru ingat pada Alika.
"Udah. Tadi Mama yang temani dia ngerjain tugasnya," ucap Bu Reni.
"Kalian sedang apa berkumpul di sini?" tanya Bu Ningrum.
"Mama belum tidur? Bukannya tadi udah di kamar?" ucap Bu Reni.
"Belum. Mama belum mengantuk," sahut Bu Ningrum.
"Nenek mau teh atau kopi? Biar aku buatkan," ucap Rallyn.
"Tidak usah, kalau boleh tolong temani Nenek nonton televisi," ucap Bu Ningrum.
"Boleh, kalau gitu ayo kita nonton bareng," ucap Rallyn sembari melangkah ke ruang keluarga!
Jo dan Bu Reni pun ikut pergi dan akan menonton film bersama!
"Rallyn, apa sudah ada tanda-tanda kamu hamil?" tanya Bu Ningrum setelah mereka duduk di kursi depan televisi.
Pertanyaan Bu Ningrum seketika membuat Rallyn dan Jo gugup dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Mama sudah tua, Reni. Bagaimana kalau ajal datang menjemput lebih awal?" ucap Bu Ningrum.
"Nenek, jangan bicara seperti itu," ucap Jo.
"Nek, aku dan Mas Jo sedang berusaha. Nenek yang sabar ya menunggu cucu dari kami," ucap Rallyn.
"Berusaha apanya? Lah main bola nya aja gak gol-gol," batin Jo sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan sedikit senyuman resah di bibirnya.
"Nanti aku bikin cucu yang rajin deh biar Rallyn cepat hamil," ucap Jo.
"Nah gitu. Bikin cucu yang tampan seperti papanya ya," ucap Bu Ningrum lagi sementara Rallyn hanya terdiam karena tidak tahu mau bicara apa.
"Kalian tahu kan bagaimana cara berhubungan yang benar? Rallyn belum pernah menikah bisa saja dia tidak tahu," ucap Bu Ningrum lagi.
"T_tahu kok, Nek. Ya udah ya aku sama Rallyn mau bikin cucu dulu." Jo menarik tangan Rallyn dan membawanya masuk ke dalam kamar sebelum neneknya itu berkata yang tidak-tidak pada Rallyn.
__ADS_1
Bu Reni hanya diam sembari mengulum bibirnya, dirinya tahu bahwa putranya sedang berusaha menghindar dari ceramah sang Nenek.
"Anak itu," ucap Bu Ningrum sembari menatap Jo dan Rallyn yang sudah melangkah pergi.
Setibanya di dalam kamar, Jo baru melepaskan pegangan tangannya dari tangan Rallyn dan membiarkan Rallyn melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Aman deh dari ceramah nenek," ucap Jo.
"Lagian nenek kamu itu aneh masa nanyain gimana caranya bikin cucu padahal tanpa harus dikasih tahu atau latihan terlebih dahulu aku pasti tahu caranya," ucap Rallyn sembari duduk di tempat tidur dengan posisi punggung tersandar di kepala ranjang!
"Emang udah tahu?" Jo menghampiri Rallyn dan ikut duduk di tempat tidur.
"Kamu kan duda, ya aku pasti tahu karena ngikutin kamu," ucap Rallyn dengan malu-malu.
"Dahlah, aku mau istirahat." Jo menggerakkan tubuhnya sedikit menjauh dari Rallyn dan tiba-tiba kejahilannya pun mulai menyapa.
"Aww!" Rallyn terkejut karena tiba-tiba Jo memegang dan sedikit mer***s bagian dadanya.
"Eh. Maaf salah ambil," ucap Jo dengan senyuman jahilnya.
"Tadi aku mau ngambil bantal kenapa malah tanganku lari ke sana," sambung Jo lagi.
Rallyn meraih bantal di sampingnya lalu melemparkan bantal itu pada Jo!
"Emang dasarnya aja sengaja," ucap Rallyn.
Jo menangkap bantal itu lalu meletakkannya di sampingnya! Dia kembali mendekati Rallyn dan baru menghentikan gerakannya saat wajah mereka hampir bersentuhan satu sama lain.
"Aku mencintaimu," ucap Jo dengan suara lembut.
Rallyn tersenyum lalu mendorong pipi Jo agar menjauh dari wajahnya!
"Setiap hari kamu mengatakan itu, apa gak bosan?" ucap Rallyn.
"Aku tidak akan pernah bisa dan tidak akan pernah lupa untuk menyatakan isi hatiku," ucap Jo.
"Aku juga cinta sama kamu tapi baru sedikit," ucap Rallyn.
"Aku mau banyak, aku mau semua cinta kamu hanya untuk aku," ucap Jo sembari meraih pipi Rallyn dan mengelusnya dengan lembut.
__ADS_1
Rallyn meraih tangan Jo lalu menciumnya. "Aku akan berusaha," ucap Rallyn.
Bersambung