
Setelah lama Rallyn duduk di taman rumah sakit itu. Dia dikejutkan oleh suara Arka dan kedua sahabatnya.
"Rallyn! Bukannya nungguin suami, malah kamu diam di sini," ucap Julia.
"Ngapain. Dia lagi sama pacar gelapnya," sahut Rallyn sembari mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Kalila ada di sini?" tanya Arka.
"Iya. Mungkin sudah satu jam, mereka berduaan di sana," ucap Rallyn lagi.
"Nyebelin banget ya, suami kamu. Kenapa Tuhan gak matiin dia aja sekalian!" ucap Julia dengan suara keras hingga suaranya terdengar oleh Bu Reni yang baru tiba di tempat itu.
"Heh, bisa gak sih, ucapanmu dijaga? Itu suaminya Rallyn," ucap Arka.
"Suami apaan. Kerjanya menyakiti istri, sudah kena azab masih saja menyakiti Rallyn," timpal Alice.
"Ada apa ini? Rallyn, kenapa kamu di sini," ucap Bu Reni.
"Gak ada apa-apa, Ma. Aku bosan di dalam jadi aku cari angin di sini dan ternyata ada mereka," ucap Rallyn.
Bu Reni menatap Rallyn. Dia melihat menantunya itu seprti habis menangis karena ada bekas air mata yang mengering di pipinya.
"Ashka menyakiti kamu?" tanya Bu Reni.
"Kenapa kamu menangis?" sambungnya.
"Nggak, Ma. Aku gak apa-apa, aku cuma sedih aja melihat Mas Jo seperti itu," ucap Rallyn.
__ADS_1
"Jujur aja Rallyn. Bilang kalau di dalam sana ada si ular sawah itu. Suami tukang selingkuh tapi kamu masih belain aja," ucap Julia yang geram karena Rallyn selalu menyimpan sakitnya sendirian.
"Apa? Ada Kalila. Dari mana dia tahu, Ashka ada di sini?" tanya Bu Reni.
Rallyn dan semua orang hanya diam. Tak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan Bu Reni. Rallyn tak ingin memberitahukan kebenarannya, dia tak ingin suaminya dimarah-marahi oleh ibu mertuanya itu, mengingat kondisi sang suami yang kini sangat memprihatinkan.
Sementara itu, Bu Reni langsung berjalan memasuki rumah sakit untuk memastikan kata-kata karyawannya tentang Ashka yang sedang bersama Kalila di ruangan rawatnya. Tak ingin terjadi keributan, Arka langsung mengekor, mengikuti Bu Reni dari belakang. Rallyn dan dua temannya pun ikut berjalan ke rumah sakit itu.
Setibanya di depan ruangan rawat itu. Bu Reni langsung dilanda kemarahan karena melihat Kalila yang sedang mengelus-elus pucuk kepala Jo dengan mesra. Dengan kasar Bu Reni membuka pintu itu hingga Jo dan Kalila terkejut mendengar suara gebrakan yang cukup keras.
"Keterlaluan kamu, Ashka." Bu Reni langsung membentak Jo, dia lupa bahwa dirinya saat ini sedang berada di dalam rumah sakit.
"Mama," ucap Jo.
"Pergi kamu, perempuan pembawa sial. Anak saya sepertinya ini karena kamu. Pergi kamu dari sini!" Bu Reni berjalan cepat menghampiri Kalila lalu menarik tangannya agar Kalila menjauh dari Jo.
"Kamu ini gimana Rallyn, malah membiarkan suami kamu berduaan bersama perempuan lain," ucapan Bu Reni pada Rallyn.
"Ma, udah ya. Udah, jangan membuat keributan di sini, aku juga gak rela suami aku berduaan sama orang lain di sini tapi aku gak mungkin membuat kegaduhan di sini. Udah ya, Ma," udah Rallyn sembari berusaha menenangkan ibu mertuanya.
"Heh ular sawah! Pergi, lo dari sini!" ucap Julia dengan nada ketus.
Di ruangan itu terjadi keributan besar, tapi Jo tidak bisa berbuat apa-apa karena dia memang tidak dapat melihat dan juga tidak dapat berjalan. Dia hanya berusaha melerai keributan itu dengan kata-kata tanpa tindakan.
Bu Reni terus berusaha menyerang Kalila sementara Kalila hanya dian, tanpa adanya perlawanan sedikit pun. Dia tidak mungkin melawan karena atau berusaha membela diri karena di ruangan itu banyak orang-orang yang pastinya berada di pihak Bu Reni dan Rallyn.
"Emang dasar ya, laki-laki kurang ajar. Dasar gak punya perasaan, dalam keadaan begini saja masih ngurusin selingkuh. Heh Pak Ashka! Di mana kurangnya Rallyn itu? Anda sudah tua, bukannya bersyukur punya istri cantik, baik, sholihah seperti Rallyn malah bela-belain ular sawah itu!" ucap Julia dengan nada tinggi sembari menunju-nunjuk Jo yang jelas-jelas tidak mungkin dapat melihatmu ekspresi wajahnya.
__ADS_1
"Julia. Dia itu bos kamu," ucap Arka.
"Bos saya saat di kantor, tapi di sini ... saya bukan karyawannya," sahut Julia yg sudah emosi berat terhadap Jo.
"Apa! Jadi, kemarin Rallyn pulang karena ada masalah dalam rumah tangganya," ucap Bu Herlina yang baru tiba di ruangan rawat Jo.
Semua orang menatap ke pintu masuk. Di sana ada kedua orang tua Rallyn sedang berdiri sambil menatap mereka. Raut wajah kekecewaan terlihat jelas di wajah mereka, orang tua mana yang tidak kecewa dan sedih saat tahu anaknya dikhianati oleh suaminya.
"Ternyata Allah sengaja mengulur waktu kita tiba di sini, Bu. Allah ingin tahu bahwa ternyata laki-laki ini bukan laki-laki yang baik untuk anak kita," ucap Pak Hardi.
"Rallyn, ayo pulang, Nak. Sedikit pun Ayah tidak rela kamu dikhianati oleh dia. Dari awal kalian menikah, Ayah sudah bilang kalau memang tidak bisa dipertahankan, jangan teruskan pernikahan kalian," ucap Pak Hardi lagi.
"Nggak, Ayah. Ayah dan ibu salah mendengar. Tidak terjadi apa-apa dalam rumah tangga aku dan Mas Jo, kami baik-baik saja," ucap Rallyn mencoba membela Jo.
"Ayah dan ibu sudah mendengar semuanya, Rallyn. Apa lagi yang kamu harapkan dari laki-laki seperti dia? Laki-laki yang tidak tahu bagaimana caranya menghormati wanita dan cinta," ucap Bu Herlina.
"Ayah, Ibu, tolong jangan. Saya sangat mencintai Rallyn," ucapan Jo yang masih tetap duduk di atas ranjang pasien. Dia memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dengan kakinya yang sudah lumpuh, ditambah lagi dengan matanya yang sudah tidak bisa melihat lagi.
"Pak, Bu, kita bisa bicara baik-baik," ucap Bu Reni yang juga tidak ingin kehilangan Rallyn.
Bu Reni menatap Arka dan dua teman Rallyn, mengisyaratkan agar mereka meninggalkan ruangan itu. Alice dan Julia langsung keluar dari ruangan itu tanpa berkata apa pun, sedangkan Arka. Dia melangkah mendekati Kalila dan tanpa basa-basi langsung menarik perempuan itu agar keluar dari ruangan itu.
Arka terus menyeret Kalila hingga sampai di depan rumah sakit. Dia baru melepaskan cengkeramannya dari Kalila setelah mereka berada di depan sana, Arka sedikit membanting tangan Kalila hingga perempuan itu terhuyung ke samping, tapi tidak sampai terjauh.
"Dasar wanita gak punya malu, gak punya harga diri, wanita ular. Dasar perempuan gatal," ucap Alice sembari menatap Kalila tajam.
Bersambung
__ADS_1