
Setelah berkendara selama setengah jam. Jo dan Rallyn tiba di depan rumah orang tua Rallyn. Mereka segera turun dari mobilnya setelah Jo memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu.
Dengan langkah penuh bahagia. Rallyn menghampiri pintu utama rumah orang tuanya dan langsung mengetuk pintu itu sambil berucap. "Assalamualaikum."
Jo berdiri di samping Rallyn sembari menggenggam tangan Rallyn. Ada kecemasan dalam dirinya, dia takut sang mertua tidak menerima permintaan maaf darinya. Dirinya tahu, ragu dan tak percaya pasti ada dalam diri semua orang tua yang anaknya pernah dikhianati, tapi dirinya akan berusaha untuk meyakinkan orang tua Rallyn lagi.
Tak lama, Bu Herlina membuka pintu itu. Dia berdiri menatap mereka dengan tatapan sinis yang tertuju pada Jo. Rallyn yang tahu ibunya tidak menyukai suaminya, mengusap lengan Jo memberikan dukungan penuh terhadapnya.
"Bu," ucap Rallyn seraya menyodorkan tangannya hendak mencium punggung tangan sang ibu. Setelah itu baru Jo menyalami sang ibu mertua.
Meski Bu Herlina tak menyukai Jo, tapi dia tetap menjabat tangannya. Sebagai seorang ibu, Bu Herlina masih menghargai Jo sebagai menantinya, dia tahu bahwa putrinya sangat mencintai laki-laki itu.
"Mari masuk!" Bu Herlina berjalan lebih dahulu memasuki rumah dan menyuruh mereka duduk di kursi ruang keluarga.
"Ibu pasti membenciku," ucap Jo setelah Bu Herlina pergi dari ruangan itu.
"Itu risiko yang harus kamu tanggung," sahut Rallyn.
"Aku tahu. Tolong bantu aku untuk membuat mereka percaya padaku, aku tidak mau kehilangan kamu, Sayang. Maafkan aku," ucap Jo sembari menggenggam tangan Rallyn dengan sedikit meremasnya. Terlihat dari wajahmu, Jo begitu khawatir bahkan mungil takut.
Tak lama Pak Hardi datang dan langsung duduk di kursi itu. Dia menatap Rallyn lalu menatap Jo, tapi tak mengucapkan sesuatu. Mulutnya masih tertutup rapat, seakan enggan membuka pembicaraan diantara mereka.
Bu Herlina datang dengan membawa minum untuk mereka semua. Setelah menata gelas itu di meja, dia ikut duduk bergabung bersama mereka. Ditatapnya wajah Rallyn lalu beralih pada Jo.
__ADS_1
"Kamu datang untuk mengembalikan Rallyn pada kami?" tanya Bu Herlina pada Jo.
Karenanya mereka semua hanya diam, akhirnya Bu Herlina membuka pembicaraan antara mereka. Mengetahui Jo yang susah selingkuh di belakang Rallyn, Bu Herlina sudah menduga bahwa saat ini Jo akan menceraikan Rallyn dan mengembalikan putrinya pada mereka.
"Bu, kedatangan saya ke sini bukan untuk itu. Saya datang untuk memintanya maaf pada ibu dan Ayah atas semua kesalahan yang saya lakukan pada Rallyn dan saya ingin meminta izin dari ibu dan Ayah. Saya ingin melanjutkan pernikahan kami, saya janji tidak akan menyakiti Rallyn lagi," jelas Jo.
Pak Hardi dan Bu Herlina terdiam. Sejujurnya mereka sudah tak mempercayai Jo lagi, tapi sebagai orang tua. Mereka tak dapat melakukan apa pun selain menuruti keinginan sang anak. Mereka tidak bisa memutuskan apa pun yang menyangkut dengan kehidupan rumah tangga Rallyn dan Jo, mereka hanya bisa mengikuti keinginan Rallyn saja.
"Ayah, Ibu, aku mohon izinkan Mas Jo memperbaiki dirinya. Aku ingin memberikannya kesempatan satu kali lagi. Aku berharap kami bisa bahagia setelah ini," ucap Rallyn penuh permohonan.
"Lalu bagaimana dengan wanita selingkuhannya itu? Kami tidak ingin kamu tersakiti sampai beberapa kali, Nak," ucap Bu Herlina.
"Saya sadar saya salah, Bu, Yah. Karena itulah kemarin, saya berpura-pura cacat untuk memantapkan hati saya pada Rallyn. Kalila itu ibu kandungnya Alika, jujur saya tidak bisa memilih salah satu diantara Rallyn dan Kalila, tapi sekarang saya memilih Rallyn dan saya janji, tidak akan ada Kalila lagi," jelas Jo.
Pak Hardi menghela napas panjang. Dia tidak bisa kukuh melarang sang anak untuk tetap bertahan dengan Jo, dirinya tidak bisa percaya sepenuhnya pada laki-laki di hadapannya itu, tapi dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena Rallyn sendiri yang mau bertahan dengan suaminya.
"Tapi kalau kejadian seperti kemarin terulang lagi. Kami tidak akan segan-segan membawa Rallyn pulang dan kami yang akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan," jelas Bu Herlina.
Bukan tidak mungkin, Jo akan mengulang kesalahan yang sama. Apa lagi Kalila adalah ibu dari anaknya, pastinya Jo sulit melupakan Kalila karena mereka memiliki ikatan yang kuat yaitu adanya anak. Dengan adanya anak dari Kalila, pastinya Kalila akan datang menemui anaknya. Hal itu bisa saja membuat perasaan cinta diantara mereka tumbuh kembali. Sebagai seorang ibu, Bu Herlina hanya mengingatkan saja pada Jo agar menantunya itu dapat memperbaiki diri lebih baik lagi.
"Tidak akan, Bu. Saya janji hanya ada Rallyn saja," ucap Jo lagi.
"Ya, mau bagaimana lagi. Rallyn sudah terlanjur mencintai kamu dan kami hanya bisa memberi restu pada kalian berdua," ucap Pak Hardi.
__ADS_1
"Terima kasih, Ayah, Ibu." Rallyn segera memeluk sang ibu, dia bahagia karena orang tuanya masih mengizinkannya untuk membina rumah tangga dengan Jo.
*******
Di suatu tempat.
"Heran deh sama Rallyn, ngapain coba masih aja bertahan sama laki-laki seperti Pak Ashka," ucap Julia pada Alice.
Dua gadis itu terus berjalan menuju suatu tempat. Setelah pulang kerja, mereka tak langsung pulang. Rencananya hari ini mereka akan nonton bioskop bareng.
"Aku juga heran, Lice. Kok bisa ya, dia secinta itu sama Pak Ashka. Kalau aku sih pasti udah kutinggalkan sejak lama," sahut Alice.
"Sekarang mau gimana lagi. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, lagian kenapa juga, Pak Ashka tuh kena azabnya sebentar banget," ucap Julia lagi.
"Karena, Pak Ashka masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki dirinya dan hubungannya dengan Rallyn," ucap Arka yang tiba-tiba nongol di tempat itu.
Alice dan Julia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. "Pak Arka," ucap mereka berdua secara bersamaan.
"Buset deh, Pak. Anda macam setan saja. Datang tak diundang, pulang juga tanpa pamit," celetuk Julia.
"Saya mau nonton bioskop," sahut Arka sambil terus berjalan mendekati dua gadis itu.
Alice dan Julia saling menatap. Mereka heran mengapa laki-laki itu bisa satu tujuan dengan mereka. "Kok, bisa, sama?" ucap Alice dengan sedikit bergumam.
__ADS_1
Arka hanya tersenyum. Dia langsung pergi meninggalkan dua gadis itu. Sementara Alice dan Julia masih terdiam di tempatnya sambil menatap kepergian laki-laki itu.
Bersambung