
Setelah selesai dengan rutinitasnya di kantor, Jo langsung pulang karena tak sabar ingin berduaan dengan Rallyn.
Layaknya ABG yang baru merasakan jatuh cinta, Jo tak pernah lupa pada Rallyn bahkan senyuman Rallyn terus melintas dibenaknya.
Jo merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang selalu membuatnya bahagia saat bersama dengan Rallyn meski pertemuan mereka tidak disengaja dan pernikahan mereka secara tiba-tiba tapi tak butuh waktu lama, Rallyn berhasil membuatnya mabuk asmara.
Setelah mengendarai mobilnya hampir tiga puluh menit akhirnya ia tiba di rumahnya.
Dengan cepat Jo langsung turun dari mobilnya dan langsung berjalan memasuki rumahnya!
"Hai, Sayang," ucap Jo pada Alika.
"Papa," ucap Alika sembari berjalan menghampiri papanya dan langsung memeluknya!
"Mama mana?" tanya Jo pada Alika.
"Apa, aku di sini," ucap Rallyn yang saat itu sedang duduk sambil menonton televisi.
Jo tersenyum lalu berjalan menghampiri Rallyn!
"Bagaimana hari ini?" tanya Jo saat Rallyn mencium punggung tangannya.
"Jangan tanya bagian mana hari ini karena kamu tahu seperti apa hariku tadi siang," sahut Rallyn.
"Papa, aku mau ngerjain PR apa papa gak mau lepasin tangan aku," ucap Alika.
"Oh ya, Papa lupa abisnya kamu ngegemesin jadinya papa lupa melepaskan tangan kamu," ucap Jo sembari melepaskan tangan Alika dari genggamannya.
"Ikut aku," ucap Jo pada Rallyn setelah Alika pergi.
"Ya, mau apa?" tanya Rallyn.
"Ikut saja. Ayo!" Jo mulai melangkah menuju kamarnya dengan diikuti oleh Rallyn di belakangnya!
"Alika, udah selesai PR nya?" tanya Bu Reni.
"Sedikit lagi, Nek," sahut Alika sambil terus fokus pada buku belajarnya.
Bu Reni duduk di samping Alika dan menemani sang cucu karena Rallyn harus mengurus suaminya yang baru pulang bekerja.
"Sini cepat." Baru Jo melangkah beberapa langkah memasuki kamarnya, dia langsung menarik tangan Rallyn dan langsung menutup pintunya.
"Ada apa denganmu? Gak sabaran banget," ucap Rallyn.
"Aku kangen. Kemarilah, peluk aku," ucap Jo sembari berusaha memeluk Rallyn!
"Kangen? Padahal baru setengah hari gak ketemu," ucap Rallyn yang hanya membiarkan Jo memeluknya.
"Emang gak boleh?" tanya Jo.
__ADS_1
"Boleh, boleh banget," ucap Rallyn sembari mendongakan kepalanya menatap wajah sang suami.
"Bisa gak kalau senyum jangan terlalu manis, aku takut diabetes," ucap Jo sembari memainkan bibir Rallyn dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih melingkar di pinggang Rallyn.
"Ih, gombal," ucap Rallyn dengan senyuman yang semakin lebar.
"Gak ada gombal. Aku serius," ucap Jo lagi.
"Udah, peluknya udah. Kamu mau langsung mandi atau mau istirahat dulu?" ucap Rallyn sembari membuka jas yang dipakai oleh Jo dan setelah itu membukakan dasinya.
"Asal sama kamu, aku siap mau apa aja yang diduluin," ucap Jo.
"Dasar aneh." Rallyn mulai membuka kancing kemeja Jo yang paling atas.
"Kamu mau ngapain bukain semua pakaianku?" tanya Jo.
"Ada baiknya kamu mandi dulu dan setelah itu baru istirahat," ucap Rallyn dengan tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang membuka kancing kemeja Jo.
Jo tersenyum lalu meraih tangan Rallyn!
"Aku pikir kamu mau ngajak bercocok tanam," ucapnya sembari menurunkan tangan Rallyn ke area bawah perutnya.
Rallyn menatap wajah Jo tapi tetap membiarkan tangannya memasuki area menyeramkan itu.
"Jangan salahkan aku kalau tiba-tiba punyamu patah atau terluka. Kuku aku panjang lho kalau aku cakar nanti dia terluka," ucap Rallyn sebelum tangannya benar-benar menyentuh si perkasa itu.
Jo menghentikan gerakan tangannya lalu melepaskan tangan Rallyn.
Rallyn menarik tangannya lalu menatap tangannya sambil dibolak-balikan.
"Kenapa? Dia gak gigit, tidak mungkin luka," ucap Jo.
"Mungkin saja dia mengigit," sahut Rallyn. "Mandi sana!" sambung Rallyn sembari menjauh dari Jo.
"Kamu gak mau sekalian bukain celananya?" tanya Jo.
"Apa setelah itu kamu juga mau minta dimandiin juga?" tanya Rallyn.
"Kalau kamu bersedia, mana mungkin aku menolak," ucap Jo.
"Dasar." Rallyn menatap Jo lalu kembali berbalik arah.
"Kamu mau kemana?" tanya Jo karena Rallyn berjalan menuju pintu.
"Aku mau bikin teh untuk kamu biar pas kamu selesai mandi, teh nya udah anget gak panas-panas banget," jelas Rallyn.
"Sebelum pergi cium aku dulu dong. Dikit aja," ucap Jo sembari berjalan mendekati Rallyn lalu menahan tangan Rallyn yang sudah memegang knop pintu.
Rallyn menatap wajah Jo lalu menghela napas panjang dan membuangnya kasar.
__ADS_1
"Kayaknya aku harus membiasakan diri hidup dengan suami yang kayak kamu ini," ucap Rallyn.
"Aku juga harus membiasakan diri hidup dengan istri yang gak peka kayak kamu, masa apa-apa harus diminta," ucap Jo.
"Ya udah, aku kalah. Di mana aku harus mencium kamu?" ucap Rallyn yang sudah mulai kesal.
"Di sini," ucap Jo sembari menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
Rallyn berjinjit untuk dapat menggapai bibir sang suami dan sebuah ciuman halus pun mendarat di bibir Jo.
"Hah ciuman aneh, masa cuma nempel doang tapi ya udah lah, aku senang kok. Terima kasih istriku sayang," ucap Jo.
Rallyn hanya diam dan langsung pergi keluar dari kamarnya.
"Nanti malam atau besok, aku pastikan kamu akan menjadi milikku seutuhnya," batin Jo sembari menatap kepergian Rallyn, sebuah senyuman penuh arti terukir di bibir Jo.
"Seru juga punya istri kecil," gumam Jo sembari berjalan menuju kamar mandi.
Di dapur.
"Mau ngapain di dapur?" tanya Bu Reni saat melihat Rallyn sedang mencari-cari sesuatu.
"Mama, aku mau bikin teh untuk dia tapi aku tidak menemukan gulanya," ucap Rallyn.
"Dia? Dia, maksud kamu Ashka?" ucap Bu Reni.
"Iya, Mas Ashka," ucap Rallyn canggung.
"Gulanya ada di dalam lemari yang ini." Bu Reni membuka pintu lemari makanan yang letaknya berada di atas wastafel.
"Biasnya Lela menyimpan stoknya di dalam sini," sambung Bu Reni.
"Oh, terima kasih, Ma," ucap Rallyn.
"Iya, Sayang." Bu Reni tersenyum ramah dan membiarkan Rallyn melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Rallyn, Mama boleh bertanya sesuatu sama kamu?" tanya Bu Reni setelah Rallyn hampir selesai dengan pekerjaannya.
"Iya, tanya apa, Ma?" sahut Rallyn.
"Apa kamu bahagia dengan anak Mama?"
Pertanyaan Bu Reni berhasil membuat fokus Rallyn teralihkan, dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk teh itu lalu menatap Bu Reni.
"Kenapa, Mama bertanya seperti itu? Selama ini aku tidak pernah menyakitinya atau Alika," ucap Rallyn.
"Bukan seperti itu. Mama hanya mengkhawatirkan kamu, tiba-tiba kalian menikah dan langsung diajak tinggal di sini. Mama takut kamu merasa terpaksa tinggal di sini dan Alik ... sifat Alika yang manja terhadap kamu mungkin mengganggu kamu," ucap Bu Reni lagi.
"Ma, aku sayang sama Alika dan aku juga tidak merasa terganggu dengan Alika yang manja justru dengan adanya Alika sedih yang kadang menghampiriku bisa sedikit terobati. Jujur aku masih tidak percaya kalau ternyata aku sudah menikah tapi Mama jangan khawatir, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Jo dan menjadi ibu yang baik untuk Alika. Aku tahu aku masih terlalu muda untuk menjalani kehidupan berumah tangga dan menjadi seorang ibu tapi aku akan berusaha," ucap Rallyn.
__ADS_1
Bersambung