
Setelah terjadinya percekcokan antara dirinya dengan sang bos, Arka memilih pergi sebelum terjadi pertengkaran hebat diantara keduanya!
"Kamu gak ngerti apa yang saya rasakan dan apa yang saya pikirkan," gumam Jo setelah Arka pergi.
Di luar ruangan Jo.
Arka berjalan dengan langkah cepat menuju ruangannya! Entah mengapa dia merasa kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh sang bos padahal dirinya tidak ada hak untuk marah karena dirinya bukanlah siapa-siapanya Rallyn tetapi rasanya dia tak rela melihat Rallyn tersakiti.
"Padahal udah jelas-jelas Kalila tuh matre tapi tetap saja diperjuangkan," batin Arka yang masih merasa kesal.
"Pak Arka kenapa? Lagi putus cinta ya?" tanya Alice.
"Lebih dari putus cinta," sahut Arka tanpa menghentikan langkahnya.
"Lah, emang kita gak putus, Pak," ucap Julia.
"Memang kapan kita jadian? Udah putus aja," ucap Arka yang mulai kehilangan kekesalannya.
"Oh iya, lupa. Kapan kita jadiannya?" tambah Julia lagi.
"Gimana kalau sekarang peresmiannya?" ucap Alice.
"Hah udahlah. Saya lagi gak mau bercanda, lanjutkan kerja kalian," ucap Arka lalu mulai melangkah menuju ruangan kerjanya!
"Lagi sensi, tuh orang. Kayak cewek lagi datang bulan," ucap Alice.
"Mungkin lagi banyak kerjaan, dahlah gak usah pikirin orang yang gak terlalu penting buat kita," ucap Julia.
Dua gadis itu pun tertawa kecil lalu beberapa detik kemudian kembali fokus pada pekerjaan mereka.
*******
Di tempat lain.
Tomy duduk sendiri di sebuah kafe tempat anak-anak muda nongkrong, dengan hanya ditemani segelas minuman berwarna orange, dia nampak bahagia dan enjoy sendiri.
Pemuda itu senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian semalam bersama Kalila, sepertinya pemuda itu menyukai Kalila meski mereka baru bertemu satu kali dan itu pun bertemu secara tidak sengaja.
"Perempuan itu sudah dewasa tapi dia begitu menarik. Dia cantik," batin Tomy.
Tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya, pemuda itu terus asyik membayangkan wajah perempuan yang semalam diajaknya bermain dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Aku akan cari tahu dimana perempuan itu tinggal dan aku akan mendapatkan dia meski dengan cara apa pun," gumam Tomy lagi.
*********
__ADS_1
Di salah satu taman perkotaan. Kalila nampak gelisah karena belum mendapatkan kabar dari Jo. Sebenarnya dirinya tahu bahwa Jo akan meneleponnya besok atau lusa tapi entah mengapa dirinya sangat mengharapkan mantan suaminya itu meneleponnya saat itu juga.
"Duh, Ashka kenapa gak nelpon aku, sih?" Kalila berjalan bolak-balik sambil menggenggam ponselnya sambil sesekali menatap layar ponselnya itu.
"Padahal tadi Ashka terlihat masih mencintai aku, kenapa dia gak telpon aku? Setidaknya dia mengabari aku apa kek," gumam Kalila kesal.
Perempuan itu nampak bete karena ternyata harapannya tidak terpenuhi. Setelah seharian dirinya menunggu nyatanya Jo tidak kunjung meneleponnya.
"Aaaah! Gak bisa dibiarkan, kayaknya aku harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan Ashka tapi gimana caranya? Tadi aku sudah menjadikan Alika sebagai umpannya tapi Ashka ... ah! Kenapa dia tidak menelpon aku?" Kalila uring-uringan gak jelas di taman itu dan sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Apa! Apa kalian melihat saya seperti itu?" Kalila kesal karena orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan tatapan aneh.
"Stres ya, Mbak? Awas jangan sampai gila," ucap seorang pengunjung yang lewat di dekat Kalila.
"Pergi Kalila! Pergi kalian semua!" seru Kalila pada orang-orang yang berada di sana.
"Benar-benar gila kayaknya nih orang," ucap pengunjung yang lainnya. Mereka pun langsung pergi meninggalkan Kalila di sana!
*******
Sore hari saat Jo tiba di rumahnya.
"Assalamu'alaikum! Sayang!" seru Jo memanggil Alika dan Rallyn.
Rallyn tersenyum manis sembari mencium tangan Jo, diraihnya tas kerja Jo lalu dibawa olehnya masuk ke dalam rumah!
"Papa," ucap Alika dengan senyuman bahagia.
"Hai, Sayang." Jo langsung memangku Alika lalu menciumnya.
"Papa kelihatan bahagia banget," ucap Alika yang saat itu sudah berada dalam pangkuan Jo.
"Papa bahagia karena sekarang, kamu selalu bahagia. Lihatlah Papa bawa apa untuk kamu," ucap Jo sembari merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya.
Alika tersenyum saat melihat sebuah coklat di tangan sang papa. "Terima kasih, Pa. Papa tahu aja aku lagi pengen coklat kesukaan aku," ucapnya.
"Papa tahu apa yang kamu mau. Ambilah dan makan dengan tenang," ucap Jo sembari menurunkan Alika dari pangkuannya.
Alika pun segera meraih coklat itu dari tangan sang papa lalu berjalan menuju kursi ruang keluarga!
"Ayo, Sayang kita ke kamar!" Jo merangkul pinggang Rallyn lalu mulai berjalan berdampingan.
Rallyn tersenyum dan hanya berjalan mengikuti langkah Jo!
Setibanya di dalam kamar. Jo langsung mencium pipi Rallyn dengan lembut.
__ADS_1
"Aku kangen sama kamu," ucap Jo.
"Baru sehari gak ketemu, kangennya udah akut. Gimana kalau seminggu, sebulan, atau mungkin sampai satu tahun," ucap Rallyn yang saat itu sedang memeluk tubuh sang suami.
"Jangan, aku gak bisa jauh dari kamu," ucap Jo lalu mencium kening Rallyn lagi dan lagi.
"Masih pengantin baru makanya gini, gak tahu deh kalau udah bertahun-tahun menjalin hubungan pernikahan ini," ucap Rallyn sembari memainkan bibir hingga dagu Jo.
Mereka yang masih berdiri di balik pintu itu nampaknya asyik memadu kasih, melampiaskan kerinduan setelah satu hari penuh tidak bertemu.
Jo tersenyum lalu memangku tubuh Rallyn dan membawanya ke tempat tidur!
"Ih, kebiasaan deh." Rallyn langsung memegang bahu Jo dengan erat karena takut terjatuh.
"Aku suka membuat kamu terkejut," ucap Jo dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Genit ah, kayak buaya," ucap Rallyn tapi sebenarnya dia suka dengan kedipan genit itu.
"Buaya? Ganteng gini dibilang buaya," ucap Jo sembari mendudukkan Rallyn di atas tempat tidur!
Jo merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu dari dalamnya!
"Aku ada sesuatu buat kamu." Jo memperlihatkan sebuah kalung berlian pada Rallyn.
Rallyn terkejut dan menarik napasnya hingga mengeluarkan suara. "Ini buat aku?" tanya Rallyn dengan tatapan mata yang begitu terpesona melihat keindahan kalung itu.
"Iya, dong ini untuk kamu. Memang untuk siapa lagi hmm?" ucap Jo sembari memakaikan kalung itu pada Rallyn.
"Cantik sekali. Terima kasih, Mas," ucap Rallyn sembari menatap kalung itu.
"Masih lebih cantik kamu," ucap Jo.
"Harganya pasti mahal," ucap Rallyn.
"Gak mahal, cuma berapa tadi ya. Gak sampai ngabisin uang aku, kok." Jo meraih pipi Rallyn dan mengusapnya dengan ibu jarinya.
Rallyn tersenyum, diraihnya tangan Jo dan digenggam dengan erat.
"Terima kasih banyak. Aku bahagia punya kamu," ucap Rallyn lalu mencium tangan Jo.
"Akun juga bahagia punya kamu bahkan aku sangat beruntung mempunyai istri seperti kamu," ucap Jo.
Rallyn tersenyum lalu memeluk sang suami dengan penuh cinta!
Bersambung
__ADS_1