
Di kamar Jo.
Rallyn terbangun karena ponselnya terus berdering, ia yang masih mengantuk terpaksa harus mengangkat telponnya karena takut orang tuanya yang sedari tadi berusaha menghubunginya.
Dengan matanya yang hanya terbuka sedikit Rallyn meraba ponselnya yang terletak di atas meja tepatnya di samping lampu malam! Setelah mendapatkan ponselnya ia pun langsung menerima panggilan yang entah dari siapa. Rallyn tak sempat membaca nama si penelpon.
"Halo," ucapnya dengan suara khas orang baru bangun tidur.
[Buka pintunya, aku mau masuk kamar.] ucap Jo dari sebrang telpon.
"Jo," batin Rallyn.
Rallyn pun langsung membuka matanya lebar-lebar dan langsung bangkit dari tidurnya, ia segera berjalan ke arah pintu dan langsung membuka pintu itu!
"Mau ngapain?" tanya Rallyn.
"Sudah jam tiga dinihari. Aku mau tidur di sini," ucap Jo.
"Ganggu aja. Kenapa gak di kamar tamu aja?" ketus Rallyn.
"Sebentar lagi Nenekku bangun, kalau dia tahu kita tidur pisah kamar nanti kita kena marah," ucap Jo sambil nyelonong masuk ke dalam kabarnya!
"Hey! Hey! Ngapain kamu rebahan di sana?" ucap Rallyn yang melihat Jo hendak merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Aku mau tidur 'lah mau apa lagi memangnya?" tanya Jo.
Rallyn menutup pintu kamar lalu berjalan ke arah kamar mandi!
"Mau kemana?" tanya Jo yang saat itu sudah meringkuk di atas tempat tidurnya.
"Kamar mandi," sahut Rallyn.
"Mau ngapain?" tanya Jo.
"Mau mandi masa mau shoping," ucap Rallyn dengan nada ketus.
Jo segera bangkit lalu menarik tangan Rallyn!
"Jangan," ucap Jo sembari menarik tangan Rallyn hingga kini Rallyn mendarat di pelukan Jo.
Rallyn dan Jo saling bertatapan, mereka sangat dekat hingga tak ada jarak satu centi pun tubuh mereka saling menempel satu sama lain karena Jo melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Rallyn.
__ADS_1
Rallyn terus menatap Jo dengan tanpa berkedip satu kali pun begitu juga dengan Jo yang menatap Rallyn dengan tatapan dalam penuh arti.
Jo mendekatkan wajahnya ke wajah Rallyn dengan matanya yang terus menatap mata Rallyn.
Rallyn menelan ludahnya kasar, ia merasa tegang tapi tak bisa lari dari sana karena tubuhnya terasa kaku karena berada dalam kondisi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat wajah mereka hampir bergesekan satu sama lain tiba-tiba Jo tertawa terbahak karena melihat ekspedisi wajah Rallyn yang menurutnya lucu.
"Hahaha! Kamu tuh ya, lucu banget," ucap Jo tapi tak melepaskan tangannya dari pinggang Rallyn.
"Hhh, astaghfirullah. Lama-lama kalau begini terus, aku bisa kena serangan jantung," ucap Rallyn.
"Kamu lucu sekali saat sedang ketakutan dan sedang tegang," ucap Jo lagi sambil terus tertawa.
"Lepasin aku!" Rallyn menarik tangan Jo dan memaksanya untuk lepas dari pinggangnya.
"Tenang saja, aku tidak akan apa-apain kamu," ucap Jo yang saat ini sudah berbalik badan menjadi membelakangi Rallyn.
Setelah melangkah beberapa langkah Jo menghentikan langkahnya lalu kembali menghampiri Rallyn!
Tanpa basa-basi Jo langsung memangku tubuh Rallyn ala bridal style dan membawanya ke tempat tidur.
"Aaaa!" Seketika Rallyn berteriak karena terkejut.
"Kamu ini kenapa sih! Sukanya membuat orang jantungan, mau ya aku mati kena serangan jantung?" ucap Rallyn yang masih mengalunkan tangannya di leher Jo.
Jo tersenyum sambil terus membawa Rallyn berjalan ke tempat tidurnya!
"Jangan dong, kamu jangan mati dulu kita kan belum melakukan malam pertama," ucap Jo sambil membaringkan tubuh Rallyn di atas tempat tidurnya.
Rallyn mengerucutkan bibirnya beberapa centi lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan menyampingkan tubuhnya membelakangi Jo.
"Astaga, lama-lama aku terkam juga nih Rallyn," batin Jo dengan mata yang terus tertuju pada tubuh Rallyn yang terbungkus selimut.
Bukannya tidur lagi Jo malah asyik menatap Rallyn meski hanya bagian belakangnya saja yang ia lihat itu pun tertutup selimut tebal miliknya.
"Ini jatuh cinta atau marah yang terlalu? Aku kesal tapi tatapannya selalu kuingat," batin Rallyn dengan tanpa mengubah posisinya sedikit pun.
"Duda ini nyebelin tapi lama-lama sama dia kok jadi nyaman, dia memang nakal tapi tak sampai melanggar ucapannya," batin Rallyn lagi.
Rallyn yang kini bersembunyi di balik selimut itu terus berbicara sendiri di dalam hatinya.
__ADS_1
Jo merubah tubuhnya di belakang Rallyn karena kantuk mulai menyapa dirinya lagi!
"Aku mau tidur. Kamu jangan memper***a aku ya," ucap Jo yang terjaring dengan posisi menyamping membelakangi Rallyn.
"Hah dasar duda nyebelin mana ada perempuan memper***a laki-laki yang ada kamu yang memaksa aku," batin Rallyn.
Sengaja Rallyn hanya berbicara di dalam hatinya karena takut Jo akan menakut-nakuti dirinya lagi.
Mereka berdua pun kembali tertidur dalam satu tempat tidur tapi tak sedikit pun saling bersentuhan.
********
Waktu terus berjalan, baru dua insan yang tak pernah akur itu tidur pagi pun telah tiba.
Azan subuh sudah terdengar berkumandang dari masjid terdekat dari rumah mewah itu. Rallyn membuka matanya yang terasa berat seperti dilem tapi dirinya memaksa membuka matanya karena mendengar panggilan dari Tuhannya.
Rallyn menyebabkan selimutnya dan langsung duduk di tempat tidur itu! Dilihatnya Jo yang masih tertidur pulas dengan posisi membelakanginya.
"Ternyata duda ini tidak menyentuhku sedikit pun. Lain kali aku harus pura-pura tidur agar dia tidak macam-macam," batin Rallyn lalu ia langsung beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya!
Setelah selesai mandi Rallyn kebingungan, ia ingin shalat tapi tak menemukan alat shalat wanita di kamar itu akhirnya ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur untuk mencari Lela!
"Mbak, jam segini udah ke dapur, mau ngapain?" tanya Lela yang saat itu baru keluar dari kamarnya.
"Mbak, maaf sebelumnya, Mbak muslim?" tanya Rallyn.
Lela tersenyum lalu mengangguk pelan sambil berkata, "iya. Kenapa, Mbak?"
"Saya mau pinjam mukena nya, saya mau shalat tapi gak bawa alat shalat dan di kamar Jo tidak ada alat shalat untuk perempuan," jelas Rallyn.
"Oh itu. Ada tapi bekas saya pakai," sahut Lela.
"Gak apa-apa, Mbak daripada saya gak Shalat. Sayang kan kalau ketinggalan satu waktu saat sedang tidak berhalangan," ucap Rallyn.
"Sebentar ya, Mbak," ucap Lela lalu masuk lagi ke dalam kamarnya.
Tak sampai lima menit Lela sudah kembali dengan membawa alat shalat miliknya lalu memberikannya pada Rallyn!
"Saya pakai dulu ya, Mbak." Rallyn segera berjalan menuju kamar Jo lagi untuk segera melakukan tugasnya sebagai umat muslim!
Lela masih berdiri di tempatnya sembari menatap kepergian Rallyn, sebuah senyuman terukir di bibirnya saat tahu ternyata Rallyn tidak hanya baik tapi juga taat pada agamanya.
__ADS_1
Bersambung