Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 32 kisah masa lalu Jo


__ADS_3

Dua jam sudah Rallyn dan Jovanka menghabiskan waktu di tempat itu. Tanpa pertengkaran dan tanpa perdebatan yang selalu ada disetiap pertemuan mereka.


Kini Rallyn sedang duduk di tepi danau itu sembari menikmati indahnya pemandangan di sana dan menikmati sejuknya udara di tempat itu.


"Kamu suka dengan tempat terbuka seperti ini?" tanya Jo yang sedang duduk di samping Rallyn.


"Ya, aku suka sekali dengan alam, kamu tahu sendiri di kota tidak ada tempat seperti ini. Setiap hari hanya ada suara berisik dari kendaraan dan asap jalanan," jelas Rallyn sembari terus menatap danau yang tenang itu.


"Kalau kamu suka, kamu bisa memiliki tempat ini," ucap Jo.


"Ngarang aja kalau ngomong. Suka bukan berarti harus memiliki," ucap Rallyn sembari menatap Jo.


"Tapi aku suka sama kamu itu artinya aku harus memiliki kamu," ucap Jo.


"Memiliki cinta dan tempat itu beda. Ya kalau kita menyukai seseorang dalam artian cinta jelas saja ingin memiliki tapi kalau suka dengan tempat seperti ini tidak harus dimiliki, kita kan bisa datang ke tempat-tempat seperti ini meski bukan di sini," ucap Rallyn.


"Tapi kalau kamu mau, aku siap membeli lahan ini untuk kamu," ucap Rallyn.


"Gak usah, kayak tahu saja ini lahan milik siapa," ucap Rallyn.


"Ini milik Papaku kalau kamu mau, aku bisa bicara sama Mama agar kepemilikannya di ganti dengan kamu."


"Haha segitunya demi aku," ucap Rallyn dengan tawa kecil.


"Apa sih yang nggak buat kamu. Kalau aku sudah cinta apa pun akan aku berikan untuk kamu."


"Ini sebenarnya kebucinan, rayuan atau gombalan?" Rallyn menatap Jo dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya.


"Aku serius."


"Ssst, udah tua jangan bucin."

__ADS_1


"Tapi kamu masih ting-ting apa salahnya aku numpang muda lagi."


Rallyn dan Jo tertawa bersama dengan saling melempar tatapan hangat.


"Lupakan itu. Aku tidak butuh semua yang kamu tawarkan tadi, sekarang aku harus manggil kamu dengan sebutan apa?" tanya Rallyn.


"Apa aja yang bikin kamu nyaman."


Rallyn mengangguk lalu kembali fokus pada danau itu.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Rallyn tanpa menatap Jo.


"Apa?"


"Kenapa kamu bercerai dengan istri kamu?" tanya Rallyn yang tidak langsung dijawab oleh Jo.


"Maaf kalau aku terlalu ikut campur urusan pribadinya kamu, gak usah dijawab," ucap Rallyn lagi karena Jo tidak menjawab pertanyaannya.


"Dia meninggalkan aku setelah melahirkan Alika, dia juga yang menggugat aku ke pengadilan," jelas Jo.


"Saat usia kandungannya baru beberapa minggu aku mengalami kebangkrutan sampai Alika dilahirkan pun perusahaan kami belum juga bangkit dari keterpurukan hingga akhirnya dia bosan hidup susah dan memilih pergi sehari setelah melahirkan Alika, Papaku meninggal karena kejadian itu, Papa terkena serangan jantung karena mendengar istriku memaki aku di depan umum dan sejak saat itu aku tidak pernah berhubungan lagi dengan mamanya Alika atau pun perempuan lain yang akhirnya takdir membawa kita bertemu dan menikah hingga terjadilah hubungan aneh yang kita jalani," jelas Jo panjang lebar.


"Aku turut berduka cita atas kepergian Papamu," ucap Rallyn sembari mengusap pundak Jo.


"Sudahlah, itu masa lalu lagipula aku dan Mama sudah mengikhlaskan Papa," sahut Jo.


"Apa Alika tidak pernah bertemu dengan mamanya?" tanya Rallyn.


"Tida."


"Sama sekali?" Rallyn menatap Jo dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


"Karena itulah Alika sangat bahagia saat aku mengenalkan kamu sebagai mamanya. Kalila tidak pernah sekali pun datang untuk menemui Alika," jelas Jo dengan nada sedih.


"Kasihan Alika tapi kamu tenang saja, aku akan menjadi mama yang baik untuk Alika," ucap Rallyn dengan senyuman di bibirnya.


"Terima kasih ya," ucap Jo dengan membalas senyuman Rallyn.


"Oh ya, uang belanja kamu udah abis belum?" tanya Jo.


"Habis dipakai buat apa? Uangnya masih utuh," jelas Rallyn.


"Kenapa masih utuh? Memangnya kamu gak jajan? Kamu gak belanja?" tanya Jo yang keheranan mengetahui uang belanja yang ia berikan pada Rallyn masih utuh.


"Jajan apa, belanja apa sedangkan selama dua hari ini aku terus sama kamu. Makan dibayarin, ke mana-mana naik mobil pribadi bahkan selama dua hari ini aku tidak pernah melihat kamu mengisi bensin terus uang aku mau dipakai apa," ucap Rallyn.


"Ya ... apa kek, belanja online misalnya atau pergi ke salon mungkin," ucap Jo.


"Belanja online juga beli apa? Baju udah dibeliin sama mama kamu dan pergi ke salon mau ngapain? Gak ke melakukan perawatan di salon juga, kamu udah cinta sama aku."


"Bisa aja ngomongnya. Kita pulang, yuk! Aku harus ke kantor," ucap Jo.


"Aku juga mau ke kantor. Aku kangen sama teman-teman aku," ucap Rallyn sembari beranjak dari duduknya!


Mereka pun mulai berjalan kembali ke mobilnya!


********


Di tempat lain.


Davina sedang duduk di sebuah kursi yang terdapat didepan sebuah bangunan itu. Dia terlihat kesal saat Jo mengenalkan Rallyn sebagai istrinya, dirinya sudah lama mendekati Jo bahkan sudah terang-terangan dirinya menyimpan cinta untuk Jo tapi Jo tidak pernah menganggap cintanya ada malah kini Jo mengenalkan wanita lain sebagai istrinya.


"Apa sih kurangnya aku? Aku cantik dan aku juga punya segalanya bahkan aku lebih cantik dari Kalila dan juga perempuan itu," ucap Davina dengan kesal.

__ADS_1


"Kayaknya aku harus cari cara untuk menyingkirkan anak itu, kelihatannya dia masih sangat muda dan pastinya gampang untuk disingkirkan," batin Davina lagi.


Bersambung


__ADS_2