Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 52 panik


__ADS_3

Taksi yang ditumpangi oleh Rallyn itu terus melaju ke arah rumah orang tuanya Jo. Rallyn yang duduk di bangku belalang, terus menangis dan tak menghiraukan sopir taksi yang berkali-kali menatapnya dari spion dalam mobilnya. Sopir taksi itu tahu bahwa Rallyn sedang ada masalah dengan laki-laki yang entah suaminya atau pacarnya, yang dia tahu sebelum menaiki taksinya, perempuan yang menumpangi taksinya itu terlibat cekcok dengan seorang lalu yang kini tengah menyusul mobilnya dari belakang.


Rallyn meminta sopir itu terus melajukan mobilnya dan membiarkan Jo yang terus membuktikan klakson memberi kode agar sang sopir menghentikan laju mobilnya. Sebenarnya sang sopir ingin menghentikan mobilnya tapi dirinya tak bisa melakukan itu karena penumpangnya melarangnya berhenti. Sementara itu di belakang mereka, Jovanka terus saja mengikuti mobil mereka dan terus berusaha menghentikannya.


Di dalam mobilnya. Jo tidak bisa tenang sebelum bicara dengan Rallyn yang saat ini sedang dilanda kekecewaan atas perbuatannya. Dia sadar bahwa dia sudah mengecewakan istrinya itu tapi dia juga tidak bisa membohongi perasannya bahwa sebenarnya dirinya juga masih mencintai mantan istrinya.


"Rallyn, aku tidak bisa melepaskan kamu. Aku cinta sama kamu," gumam Jo sembari terus mengemudikan mobilnya menyusul taksi yang ditumpangi oleh Rallyn.


Egois memang tapi inilah yang ada dalam hati Jo. Dia mencintai Rallyn tapi dia juga ingin mendapatkan mantan istrinya lagi. Cinta dihatinya memang tidak dapat dijelaskan, mengapa dirinya bisa mencintai Rallyn dan Kalila sekaligus.


"Di sini, Mbak?" tanya sopir taksi itu setelah tiba di depan rumah Bu Reni.


"Iya, Pak. Terima kasih ya," ucap Rallyn lalu langsung keluar dari mobil itu.


"Mbak, kembaliannya."


"Ambil saja, Pak." Rallyn langsung berjalan menghampiri gerbang tinggi rumah mewah itu.


"Rallyn! Rallyn dengar dulu penjelasan aku, aku mohon," ucap Jo sembari menggenggam tangan Rallyn.


"Gak ada lagi yang perlu dijelaskan. Aku sudah cukup tahu dengan pengakuan kamu tadi," ucap Rallyn lalu berlari memasuki rumah itu.


Rallyn terus berlari menuju kamarnya dengan Jo yang mengejarnya dari belakang. Melihat Rallyn yang pulang ke rumah dalam keadaan menangis, Bu Reni dan Bu Ningrum pun mersa penasaran ditambah lagi dengan Jo yang tiba-tiba muncul sambil terus memanggil Rallyn meski tak mendapatkan respon dari Rallyn.


"Ada apa ini? Kenapa dengan mereka?" tanya Bu Reni pada ibu mertuanya.


"Mungkin mereka sedang berantem. Apa yang membuat mereka ribut seperti itu?" sahut Bu Ningrum.


Di kamar Rallyn dan Jo.

__ADS_1


Dengan air matanya yang tak pernah surut. Rallyn memasukkan pakaiannya ke dalam koper, dia hanya mengemasi pakaiannya yang dia bawa dari rumah orang tuanya sedangkan pakaian dan barang-barang pemberian Bu Reni dan Jo dibiarkan di tempatnya.


"Rallyn, apa yang kamu lakukan? Aku tidak mengizinkan kamu pergi," ucap Jo sembari menahan tangan Rallyn agar berhenti memasukkan pakaiannya ke dalam koper itu.


"Dengan atau tanpa izin kamu, aku akan tetap pergi. Aku tidak mau lagi sama kamu, aku tidak mencintai kamu lagi, aku benci sama kamu," ucap Rallyn.


"Aku mohon Rallyn, jangan pergi. Maafkan aku."


Rallyn tak menyahut lagi. Dia mengeluarkan kartu ATM yang diberikan oleh Jo lalu meletakkannya di atas meja, dia juga mengeluarkan ponsel canggihnya dan mengembalikannya pada Jo tak lupa dia juga melepaskan kalung yang dibelikan oleh Jo dan semua perhiasan yang pernah Jo berikan padanya. Semuanya dia letakan di atas meja riasnya, dia hanya membawa sedikit uang tunai yang akan dia gunakan untuk ongkos pulang dan biaya hidupnya selama beberapa minggu ke depan.


"Aku kembalikan semua pemberianmu, aku tidak sudi memakainya lagi," ucap Rallyn lalu menyeret kopernya ke luar dari kamarnya.


"Rallyn, aku tidak akan menceraikan kamu!" seru Jo sembari terus berusaha menghentikan Rallyn.


Rallyn terus berjalan menuruni anak tangga. Dia tidak memerdulikan Jo yang terus berkata bahwa dia tidak akan pernah menceraikannya.


"Rallyn jangan pergi. Kalau pun kamu pergi, kamu akan tetap menjadi milikku," ucap Jo.


"Aku mau cerai dari Mas Jo. Amu tidak mau menjadi menantu di rumah ini lagi," ucap Rallyn dengan tangisan yang tidak pernah mereda.


"Tapi kenapa, Nak? Kalau ada masalah harusnya dibicarakan baik-baik," ucap Bu Ningrum.


"Aku tidak akan menceraikan kamu, Rallyn. Sampai kapan pun tidak akan pernah," ucap Jo.


"Aku yang akan menggugat kamu ke pengadilan. Jangan kamu pikir aku ini lemah karena cintamu, aku akan tetap pergi," ucap Rallyn.


"Rallyn, Rallyn, mari bicarakan masalah ini baik-baik. Jangan mengambil keputusan dalam suasana hati yang tidak baik," ucap Bu Ningrum.


"Aku tidak bisa, Nek. Maafkan aku, aku tidak mau menerima perselingkuhan, aku tidak mau dimadu. Cucu nenek ini sudah main gila, dia berhubungan dengan Kalila dan dia mengakui bahwa dia mencintai perempuan itu. Aku mohon izinkan aku pergi, maaf jika aku sudah mengecewakan Nenek dan juga Mama," ucap Rallyn lalu pergi keluar dari rumah itu.

__ADS_1


Semua orang di rumah itu mencegah Rallyn untuk pergi.


"Mama! Mama mau kemana? Jangan tinggalkan Alika!" seru Alika sembari berlari menghampiri Rallyn dan langsung memeluk Rallyn dengan erat.


"Jangan pergi lagi, Ma. Alika mau sama Mama," ucap Alika sembari terus memeluk pinggang Rallyn.


Rallyn menatap Alika, ada rasa tak tega meninggalkan gadis kecil itu tapi dirinya juga tidak bisa tetap bersama Jo. "Sayang, Mama harus pergi. Jangan sedih, ada papa dan juga nenek yang akan selalu menjaga kamu," ucap Rallyn.


Rallyn melepaskan tangan Alika yang melingkar di pinggangnya dengan paksa lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Rallyn jangan pergi! Ah, awh." Saat menahan Rallyn untuk tidak pergi tiba-tiba Bu Reni merasakan sakit di bagian dadanya hingga dia langsung terjatuh ke lantai.


"Mama!" seru Jo sembari berusaha menangkap tubuh Bu Reni yang sudah terjatuh.


Rallyn menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang. Dia langsung melepaskan kopernya dan berlari menghampiri Bu Reni. Alika menangis deras karena tidak mau ditinggal pergi oleh Rallyn ditambah lagi dengan Bu Reni yang tiba-tiba sakit.


"Mama. Mama kenapa?" tanya Rallyn yang saat itu sudah menggenggam tangan Bu Reni.


"Jangan pergi, Rallyn. Mama mohon," ucap Bu Reni lalu dia pingsan.


"Ma, Mama!" seru Jo sembari menggoyangkan pipi sang ibu.


"Cepat bawa mama kamu ke rumah sakit!" titah Bu Ningrum panik.


"Nenek kenapa?" tanya Alika.


Jo langsung mengangkat tubuh Bu Reni dengan dibantu oleh Rallyn lalu membawanya ke dalam mobil. Rallyn duduk di bangku belakang mendampingi sang ibu mertua sedangkan Jo langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Sebelum pergi, tak lupa Rallyn meminta Alika tetap di rumah bersama Bu Ningrum dan Lela.


Dalam hati yang masih bersedih atas perlakuan Jo padanya. Rallyn tetap mengutamakan ibu mertuanya, doa tidak ingin ibu mertuanya sampai kenapa-kenapa. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hanya ada keheningan di dalam mobil itu, baik Rallyn maupun Jo tak ada yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2