
Jo melangkah mendekati Rallyn lalu memeluk wanita itu dari belakang. Dia baru sadar bahwa tanpa Rallyn dirinya memang tidak bisa, tidak bisa melakukan apa-apa tanpa Rallyn di sampingnya.
"Aku mau kamu pulang ke rumah. Amu gak bisa tanpa kamu, aku gak mau kamu pergi," ucap Jo sambil terus memeluk Rallyn.
"Aku tidak mau. Selama Kalila masih bersamamu, selama kamu masih menyimpan cinta untuknya. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah pulang ke rumah kamu. Masih ada waktu dua belas hari untuk kamu berpikir, pilih aku atau dia. Aku tidak mau berbagi suami dengan siapa pun sekali pun itu adalah ibu kandungnya Alika," ucap Rallyn sembari melepaskan tangan Jo yang melingkar di perutnya.
Wanita cantik itu memutar tubuhnya hingga kini dia menghadap sang suami. Diletakannya telapak tangannya di dada Jo. "Aku hanya ingin ada aku di dalam sini, jika memang masih ada orang lain lebih baik kamu hapus namaku di dalam sini," ucap Rallyn lalu pergi meninggalkan Jo di sana.
*******
Di kantor Jo.
Arka baru saja tiba di kantor. Dia berjalan cepat langsung menuju ruangannya. Saat ini pikirannya sedang sedikit terganggu dengan kejadian tadi di restoran, dirinya merasa tidak enak hati pada Jo tetapi dirinya juga tidak bisa menolak permintaan Rallyn karena dirinya sudah berjanji akan membantu Rallyn.
"Pak! Pak!" seru Alice sembari berjalan membuntuti Arka.
"Pak Arka!" seru Julia karena Arka tidak merespon Alice.
"Pak, tunggu dulu," ucap Alice yang kini menarik tangan Arka agar laki-laki itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa? Kepo dengan pertemuan saya sama Rallyn?" tanya Arka pada dua gadis itu.
"Nah, itu, Bapak tahu. Kenapa dari tadi saya panggil-panggil gak mau menyahut?" ucap Alice.
"Saya sibuk," sahut Arka.
"Pak, yang bener aja, Anda selingkuh sama Rallyn. Yang gak punya suami saja banyak yang mau sama, Bapak," ucap Julia.
"Salah duanya adalah kalian," celetuk Arka.
__ADS_1
"Kok, salah dua? Salah satu kali, Pak," ucap Alice.
"Kalian 'kan berdua," ucap Arka lagi.
"Tapi sebenarnya kita udah gak minat sama, Bapak," ucap Julia sembari nyengir kuda hingga menampakkan deretan giginya yang yang gingsul di sebelah kiri.
"Eh, kok bisa gitu? Ya udahlah, jangan dipikirin. Saya kerja dulu, banyak kerjaan nih!" Arka langsung melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.
Tak lama, Jo tiba di kantor dan langsung berteriak memanggil Arka. Dia berjalan cepat ke arah Arka yang saat ini sedang berdiri di tempat semula dengan Alice dan Julia yang masih di sana juga.
"Gawat, dia pasti mau marah," gumam Arka.
"Marah kenapa?" tanya Alice yang ingin tahu.
"Saya ketahuan makan bareng Rallyn tadi, mana tadi saya lagi belai-belai rambut Rallyn pas Pak Ashka memergoki kami," sahut Arka dengan sedikit berbohong. Entah kenapa Arka tidak takut pada Jo, bahkan saat ini dia tenang-tenang saja padahal Jo memasang wajah emosi.
"Astaga. Kita pergi dulu, Pak. Takut ikut kena marah!" ucap Julia lalu pergi sembari menarik tangan Alice.
"Rallyn yang minta, katanya dia mau makan sama suaminya tapi ternyata suaminya sudah makan duluan sama selingkuhannya," sahut Arka dengan nada biasa. Tidak terlihat sedikit pun kemarahan di wajah Arka.
"Dia sedang pergi ke rumah orang tuanya karena itulah saya tidak mengajaknya makan berdua. Jangan melempar kesalahan pada orang lain, kenapa kamu berani menyentuh tangan istri saya? Kamu sadar gak, Arka! Dia itu istri saya," ucap Jo dengan nada bicara yang naik turun.
"Oh, jadi, Anda marah karena itu. Pernah gak, sih Anda pikirkan perasaan Rallyn? Anda sering bermesraan dengan Kalila di hadapan umum dan kadang Rallyn juga melihatnya. Apa, Anda tahu bahwa saat itu Rallyn juga mersa cemburu bahkan sangat kesakitan. Saya dan Rallyn tidak ada hubungan apa-apa tapi, Anda sudah segini besarnya marah-marah hingga mempermalukan diri sendiri, bagaimana dengan perasaan Rallyn yang jelas-jelas, Anda mengakui bahwa Anda masih mencintai Kalila dan masih menjalin hubungan percintaan dengannya. Anda sudah dewasa, sudah pernah menikah sebanyak dua kali dengan perempuan yang berbeda, lama hidup dengan Kalila harusnya, Anda sudah mengenal Kalila baiknya dan buruknya, begitu pun dengan Rallyn. Sudah berapa bulan, Anda menikahi Rallyn, seharusnya sedikit banyaknya, Anda sudah tahu sifat baik dan buruknya Rallyn. Pilih salah satu dari mereka yang menurut, Anda baik untuk Anda dan Alika," ucap Arka panjang lebar.
Entah Jo akan mengerti atau tidak. Entah ucapan Arka masuk ke otak Jo atau tidak setidaknya Arka sudah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. Dia mengerti maksud Rallyn yang sengaja membuat Jo cemburu dan marah, semua dia lakukan agar laki-laki itu mempunyai pilihan.
"Oh, satu lagi, Pak Ashka. Kalau, Anda tidak memilih Rallyn, saya siap menjadikannya wanita istimewa dalam kehidupan saya. Saya akan menikahi Rallyn," jelas Arka lalu pergi meninggalkan Arka yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Gila bener, tuh Pak Arka. Masa mengakui cintanya pada Rallyn dihadapan suaminya," ucap Julia yang saat itu mrngintip mereka dari balik tembok.
__ADS_1
"Itu namanya gentleman. Berani mencintai, berani menanggung resikonya," ucap Alice.
*********
Di kediaman Bu Reni.
"Eyang, kenapa mama gak pulang-pulang? Aku mau sama mama," ucap Alika yang sudah rindu dengan Rallyn.
"Mungkin sekarang mama kamu masih sibuk. Kita tunggu saja ya, semoga sebentar lagi pulang," ucap Bu Reni.
"Tapi aku sudah rindu sama mama. Aku tidak nakal tapi kenapa mama pergi?" ucap gadis kecil itu dengan begitu polosnya.
Bu Reni mersa teriris mendengar perkataan Alika. Karena kelakuan papanya, Alika harus ikut menanggung siksanya. Rallyn memang bukan ibu kandung Alika tapi Alika tidak tahu itu, yang dia tahu ibunya adalah Rallyn dan mereka saling menyayangi satu sama lain.
"Alika, Mbak Lela mau ke luar. Kamu mau ikut gak? Di taman ada banyak kupu-kupu," ucap Mbak Lela yang mencoba menghilangkan kesedihan Alika.
"Kupu-kupu? Aku mau melihat kupu-kupu!" Gadis kecil itu langsung berlari menghampiri Mbak Lela dan langsung meraih tangannya. Dia langsung mengajak Mbak Lela pergi ke taman depan rumahnya.
Mbak Lela pun segera menggandeng Alika dan membawanya ke luar rumah. Bu Reni dan Bu Ningrum hanya diam hingga saat Alika sudah pergi, mereka mulai berbicara.
"Keterlaluan Ashka itu. Sudah dua hari Rallyn pergi tapi gak ada sedikit pun dia berusaha untuk membawa Rallyn lagi ke rumah ini. Dia gak perduli dengan anaknya yang merindukan Rallyn," ucap Bu Ningrum dengan nada kesal.
"Anak itu memang keterlaluan. Awas saja kalau sampai Alika sakit karena terlalu memendam rindu pada Rallyn. Aku tidak akan memberikan haknya atas semua perusahaan papanya. Enak saja dia mau memanjakan Kalila dengan harta papanya," sahut Bu Reni.
"Jangan terlalu keras padanya. Bicaralah baik-baik pada Ashka," ucap Bu Ningrum.
"Ma, aku tidak bisa bicara baik-baik lagi pada anak itu. Aku tidak bisa melupakan saat suamiku meninggal karena kata-kata Kalila yang begitu menyakitkan," ucap Bu Reni dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Bu Ningrum hanya diam. Sebenarnya dia juga masih tidak bisa menerima semua itu, dirinya harus kehilangan putranya karena perlakuan Kalila di masa lalu.
__ADS_1
Bersambung