Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 55 Pemaksaan


__ADS_3

Dua hari kemudian. Kini Bu Reni sudah pulang ke rumah tapi belum sepenuhnya pulih, dia masih harus menjalani pemulihan di ruang dengan cara memperbanyak waktu istirahat dan memperbaiki pola makan dengan memakan makanan yang bergizi tinggi.


Malam ini, Rallyn sedang merapikan tempat tidurnya karena dirinya akan segera beristirahat. Setelah dua malam tidur di rumah sakit, malam ini dirinya ingin tidur nyenyak di tempat tidur empuk dan dalam kamarnya yang nyaman.


"Rallyn, terima kasih karena tetap di sini," ucap Jo yang saat ini berdiri di belakang Rallyn.


Rallyn yang sedang merapikan sprei pun langsung menghentikan pergerakan tangannya lalu berdiri dengan posisi menghadap sang suami. Dia menatap Jo dengan tatapan datar, tak sedikit pun terlihat cinta untuk Jo di matanya.


"Aku masih di sini karena mama. Setelah mama sembuh aku akan tetap pergi," ucap Rallyn lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Aku tidak mengizinkan kamu pergi dari rumah ini. Sedikit pun aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dari hidup aku," ucap Jo.


"Terserah kamu. Satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah mempertahankan pernikahan yang tidak akan membawa kebahagiaan ini. Aku akan menggugat kamu ke pengadilan," jelas Rallyn.


Rallyn berjalan meninggalkan Jo di sana, dia hendak ke luar untuk melihat dan memastikan ibu mertuanya apakah sudah minum obat atau belum.


"Rallyn, aku belum selesai bicara," ucap Jo.


"Aku harus melihat mamamu dan juga anakmu. Mereka butuh aku," ucap Rallyn tanpa menghentikan langkahnya.


Jo tertegun di sana. Dia semakin kagum karena Rallyn yang selalu mengutamakan anak dan ibunya meski dalam kondisi yang tidak memungkinkan.


"Bagaimana bisa aku melepaskan kamu Rallyn. Tidak akan, selamanya kamu tidak akan pernah aku ceraikan," batin Jo.


Di ruangan utama rumah itu.


Rallyn berjalan menghampiri Alika yang sedang ayik main boneka Barbie. Dia langsung duduk di samping Alika lalu merapikan mainan yang berantakan yang sudah tidak dimainkan oleh anak sambungnya itu.


"Sudah jam berapa ini, kenapa kamu belum tidur?" tanya Rallyn.


"Alika nungguin, Mama. Alika ingin dibacakan cerita sebelum tidur," jelas Alika.


"Kalau gitu, ayo rapikan lagi mainan ini habis itu kamu cuci tangan dan kaki!" titah Rallyn.


"Mbak, biar Lela aja yang merapikan mainan ini," ucap Lela pada Rallyn.


"Biarkan Alika belajar mandiri. Dia tidak boleh selamanya bergantung pada orang lain," ucap Rallyn.


Bu Reni dan Bu Ningrum tersenyum karena Rallyn mendidik Alika dengan baik. Meski Rallyn masih sangat muda untuk menjadi seorang ibu tapi dia sudah sangat baik dan mengerti dalam mendidik anak.

__ADS_1


"Kalau semua sudah masuk ke dalam tepatnya, biarkan Mbak Lela yang membawa semua mainan kamu ke kamar. Kamu langsung bersih-bersih saja. Mama mau bicara sebentar sama Eyang," ucap Rallyn lagi pada Alika.


"Baik, Ma," sahut Alika.


Rallyn tersenyum lalu mengusap kepala Alika. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Bu Reni dan Bu Ningrum yang sedang duduk di kursi sembari menonton televisi.


"Mama udah minum obat?" tanya Rallyn.


"Belum. Mama bisa ambil sendiri obat mama. Duduklah di sini," ucap Bu Reni.


"Jangan menunda minum obat kalau gak, nanti mama lama sembuhnya," ucap Rallyn sembari berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.


"Apa yang kurang dari Rallyn sehingga Ashka masih melirik Kalila," gumam Bu Ningrum sembari menatap kepergian Rallyn.


"Ashka memang keterlaluan. Dia benar-benar tidak bisa melihat ketulusan Rallyn," sahut Bu Reni.


Tak lama Rallyn kembali dengan membawa segelas air putih dan obat Bu Reni di tangan kiri nya. Dia langsung mengambil beberapa butir obat dari dokter itu lalu memberikannya pada Bu Reni.


Minum obat dulu, Ma biar cepat sehat lagi," ucap Rallyn.


Dari lantai dua rumahnya. Jo berdiri sembari memandangi Rallyn yang begitu perhatian pada keluarganya bahkan Rallyn mengurus semua kebutuhan keluarganya sendirian tanpa dibantu olehnya.


"Jangan berterima kasih. Semua orang akan melakukan yang terbaik untuk orang yang disayanginya," ucap Rallyn.


"Mama! Aku udah bersih. Udah cuci tangan, cuci kaki dan juga udah gosok gigi," jelas Alika.


"Baiklah, kalau gitu ayo ke kamar kamu. Langsung tidur ya karena Mama sedang kelelahan dan ingin langsung tidur," ucap Rallyn sembari berjalan menghampiri Alika.


Alika tersenyum lalu menggandeng Rallyn. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju kamar Alika yang berada di lantai dia rumahnya.


Melihat Rallyn dan Alika hendak naik ke lantai atas. Jo langsung masuk ke dalam kamarnya karena tak ingin Rallyn tahu bahwa sedari tadi dirinya memerhatikan mereka.


Setelah sepuluh menit Jo menunggu Rallyn di kamarnya, dia merasa bosan karena Rallyn tidak juga kembali ke kamarnya. Tidak seperti biasanya Alika belum tidur di jam segini. Jo pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Alika.


Setibanya di depan kamar Alika, Jo membuka pintu kamar itu dan langsung melihat Rallyn yang sedang mengelus kepala Alika dengan lembut. Rallyn menatap Jo lalu kembali menatap Alika yang ternyata sudah tertidur pulas.


Jo memasuki kamar Alika. Dia berjalan menghampiri Rallyn yang masih asyik rebahan di sampingmu Alika.


"Ayo tidur bersamaku!" bisik Jo sembari menarik tangan Rallyn.

__ADS_1


Rallyn langsung menarik tangannya. "Aku mau tidur di sini," sahut Rallyn.


"Gak boleh. Aku mau kamu tidur sama aku," ucap Jo lalu memaksa Rallyn untuk turun dari tempat tidur Alika.


"Mama. Bobonya pelan-pelan, Alika terganggu," ucap Alika yang merasakan hentakan pada tempat tidurnya.


Rallyn dan Jo menghentikan pergerakannya lalu menatap Alika karena takut Alika melihat Jo yang sedang menarik tangan Rallyn.


Merasa aman. Jo langsung memangku tubuh Rallyn dan membawanya keluar dari kamar Alika. Rallyn tak bisa berteriak karena takut mengganggu Alika yang sedang tertidur tapi dia tidak kehilangan akal, dia terus memberontak agar Jo menurunkan dirinya.


"Turunkan aku!" seru Rallyn setelah mereka berada di luar kamar Alika.


Jo tidak mendengarkan perkataan Rallyn. Dia terus membawa Rallyn masuk ke dalam kamarnya dan baru menurunkannya setelah mereka berada di dalam kamar.


Rallyn yang kesal langsung berjalan ke kamar mandi karena sebenarnya dari tadi dia merasa ingin buang air kecil. Jo membiarkan Rallyn ke kamar mandi, dia langsung berjalan menuju tempat tidur lalu merebahkan diri di sana.


Setelah lima menit. Rallyn keluar dari kamar mandi. Melihat Jo yang sudah berbaring di atas tempat tidur, dia pun memilih beristirahat di sofa. Rallyn duduk di sofa itu dan perlahan mulai membaringkan tubuhnya.


Baru dirinya menutup mata beberapa detik, Jo meraih pipinya dan hendak mencumbunya. Dengan cepat Rallyn mendorong dada Jo agar menjauh dari dirinya.


"Mau ngapain kamu?" tanya Rallyn yang terkejut dengan perlakuan Jo.


"Aku ingin meminta hak aku darimu," ucap Jo jujur.


Karena tak ingin kehilangan Rallyn. Jo pun berpikir untuk membuat Rallyn hamil secepatnya agar Rallyn tidak bisa meminta cerai darinya.


"Tidak boleh. Aku tidak mau," ucap Rallyn yang kini sudah duduk di sofa itu.


"Aku masih suamimu. Aku masih berhak atas dirimu."


"Kamu yang tidak mau melepaskan aku, kalau saja kamu menceraikan aku mungkin sekarang aku bukan lagi istrimu." Rallyn beranjak dari tempat duduknya, dia hendak pergi meninggalkan Jo demi menghindari permintaan suaminya itu.


Dalam situasi dan kondisi yang seperti ini, jangankan untuk berhubungan suami istri, menatap laki-laki itu pun rasanya Rallyn tidak mau. Tak ingin ada pertengkaran, Rallyn pun memilih pergi dari kamarnya. Namun baru dia akan membuka pintu, ternyata pintunya tidak bisa dibuka. Mungkin Jo sudah menguncinya.


"Pintunya sudah aku kunci. Kamu tidak bisa keluar dari sini," ucap Jo sembari berjalan menghampiri Rallyn yang masih berdiri sembari memegangi knop pintu.


Jo memaksa Rallyn untuk melayani dirinya. Dia berusaha membawa Rallyn ke tempat tidurnya meski Rallyn memberontak menolak keinginannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2