Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 27 Dijebak oleh nenek


__ADS_3

Setelah pulang sekolah Rallyn meminta Jo untuk tidak langsung pulang ke rumahnya ia meminta Jo mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya karena ia merasa rindu pada sang ibu meski baru sehari semalam tidak bertemu dengan sang ibu.


"Alika, kamu mau kan mampir sebentar ke rumah orang tuanya Mama?" tanya Rallyn pada Alika.


"Berarti ke rumah kakek, neneknya Alika ya?" tanya Alika.


"Iya, Sayang kamu mau gak main dulu di rumah kakek dan nenek?" tanya Jo.


"Selama bersama Mama, kemana pun Alika pasti mau," ucap Alika.


Jo hanya tersenyum mendengar perkataan Alika yang sudah seperti anak usia delapan atau sembilan tahun itu.


Jo menatap Rallyn lalu mengusap-usap lutut hingga bagian paha Rallyn!


"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan," ucap Rallyn tanpa menggerakkan mulutnya sama sekali bahkan giginya pun tidak terangkat sedikit pun.


Jo kembali tersenyum tapi pandangannya terus tertuju pada jalan yang sedang ia lalui.


"Kamu cemburu ya karena tadi Davina megang-megang aku?" tanya Jo.


"Biasa saja. Siapa dia sampai aku harus cemburu?" ucap Rallyn.


"Davina bukan siapa-siapa aku, dia hanya sekedar teman biasa," jelas Jo.


"Aku gak nanya," ucap Rallyn tanpa menatap Jo sedikit pun.


"Papa, Mama apa kalian selalu berantem kalau sedang bersama? Di sini ada aku," ucap Alika yang duduk di bangku belakang.


"Ini bukan berantem, Sayang," ucap Rallyn.


"Mama sama Papa sedang bicara baik-baik kalau berantem kan biasanya teriak-teriak," ucap Jo.


"Alika mau minum?" tanya Rallyn untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


"Gak mau, Alika gak haus," sahut Alika.


Karena terus bicara tak terasa akhirnya mereka tiba di halaman rumah orang tuanya Rallyn.


Mereka segera turun dari mobilnya setelah Jo memarkirkan mobilnya di halaman rumah Pak Hardi.


Bu Herlina langsung menyebut kedatangan putrinya itu dari depan pintu, dia tersenyum bahagia melihat anaknya pulang.


"Assalamualaikum, Bu!" Rallyn berjalan cepat menghampiri Bu Herlina lalu langsung memeluk sang ibu.


Air matanya mulai menggenang dan mulai berdesakan ingin meluncur dari sudut matanya.


"Ibu, aku kangen," ucap Rallyn sambil terus memeluk Bu Herlina.


"Ini pasti nenek aku? Mama udah gede tapi masih nangis," ucap Alika yang melihat pipi Rallyn basah oleh air matanya.


Rallyn langsung mengusap air matanya lalu tersenyum kecil.

__ADS_1


"Siapa yang nangis? Barusan Mama kemasukan debu," ucap Rallyn.


Bu Herlina dan Jo hanya tersenyum tipis mendengar alasan Rallyn.


"Alika, ini nenek kamu," ucap Rallyn pada Alika.


"Bu, ini anaknya Jo," bisik Rallyn pada Bu Herlina.


Bu Herlina tersenyum lalu langsung mengajak Alika masuk ke dalam rumahnya.


"Duh cucu nenek cantik sekali. Ayo masuk," ucap Bu Herlina sembari menggandeng tangan Alika.


"Udah gede masih nangis, gak malu sama Alika yang baru berusia lima tahun?" ucap Jo menggoda Rallyn.


"Bukan urusan kamu," ketus Rallyn lalu masuk ke dalam rumah tanpa mengajak Jo!


Jo tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan, ia melangkah membuntuti Rallyn dari belakang!


"Bu, Ayah kerja ya?" tanya Rallyn pada sang ibu.


"Iya, Nak," sahut Bu Herlina sembari meletakkan camilan di atas meja.


Alika yang melihat camilan kesukaannya pun langsung menyambar makanan itu dari tangan Bu Herlina.


"Nenek kok tahu kalau Alika suka jajan ini?" tanya Alika.


"Jadi, Alika suka dengan snack ini?" tanya Bu Herlina.


"Makanlah kalau Alika suka, kalau habis kita bisa beli lagi," ucap Bu Herlina dengan ramah.


"Alika mau lihat kupu-kupu di depan. Apa boleh?" tanya Alika.


"Boleh tapi jangan ke luar gerbang," ucap Bu Herlina.


"Siap, Nek," ucap Alika lalu berjalan keluar rumah dengan membawa snack itu!


"Bu, apa boleh saya mengajak Rallyn menginap di rumah saya beberapa hari lagi?" tanya Jo setelah Alika pergi.


"Kenapa harus meminta izin? Rallyn kan istri kamu, kamu boleh membawanya ke mana pun kamu pergi asalkan kamu selalu menjaga dia," ucap Bu Herlina.


"Apa karena Rallyn sudah menikah, Rallyn bukan lagi anak Ibu? Aku tuh mau di sini saja sama Ibu," ucap Rallyn.


"Hanya sampai nenekku pulang saja, Rallyn kalau nenek sudah pulang nati kamu boleh tinggal di sini lagi," ucap Jo.


"Memangnya kapan nenek pulang?" ucap Rallyn.


"Aku gak tahu. Tolonglah, Rallyn nenekku sudah tua aku harus membuatnya selalu bahagia disisa hidupnya sekarang," ucap Rallyn.


"Oke tapi aku tidur di kamar kamu dan kamu di kamar tamu, aku gak mau tidur sama kamu, aku takut diterkam buaya," ucap Rallyn.


Bu Herlina menghela napasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya, putrinya itu sudah berusia dua puluh tahun tapi masih saja bersikap kekanak-kanakan. Mungkin karena dirinya selalu memanjakan Rallyn selama ini.

__ADS_1


"Saksinya Ibu, kalau sampai aku kenapa-kenapa kamu yang wajib disalahkan," ucap Bu Herlina.


"Lho-lho kok kalian bawa-bawa Ibu? Ini kan rumah tangga kalian," ucap Bu Herlina.


"Aku gak mau hamil, Bu kalau aku tidur sama dia nanti dia apa-apain aku kalau aku hamil gimana nanti?" ucap Rallyn.


"Kalau kamu hamil ya punya anak, gimana sih kamu?" ucap Bu Herlina.


"Ibu." Rallyn cemberut ke arah ibunya.


Jo hanya terdiam karena tidak mungkin ikut membicarakan hal yang sensitif itu bersama dengan Ibu mertuanya.


Waktu terus berjalan, tak terasa kini sudah menjelang sore Jo pun segera berpamitan pada Ibu mertuanya dan tak lupa ia kembali meminta izin untuk membawa Rallyn pergi.


"Bu, aku pasti kangen banget sama ibu," ucap Rallyn sebelum pergi.


"Alika juga pasti kangen sama nenek," ucap Alika.


"Nenek juga pasti kangen sama Alika. Alika belajar yang rajin ya biar jadi anak pintar," ucap Bu Herlina pada Alika.


"Anak sendiri malah dikacangin," gumam Rallyn.


"Kamu udah gede harus ngalah sama Alika yang baru lima tahun itu," ucap Jo dengan sedikit berbisik.


Jo terus saja menggoda Rallyn karena ia baru tahu kalau ternyata Rallyn begitu manja terhadap ibunya.


"Ya udahlah, Bu Rallyn pergi dulu," ucap Rallyn lalu segera mencium punggung tangan sang ibu.


Mereka pun mulai meninggalkan rumah itu!


**********


Malam hari di rumah Bu Reni.


Malam itu sekitar pukul dua puluh satu waktu setempat. Rallyn dan Jo sedang mengobrol di balkon kamar mereka tiba-tiba Bu Ningrum datang dengan membawa dua gelas jus untuk Rallyn dan Jo.


"Maaf ya, nenek masuk ke dalam kamar kalian tanpa mengetuk pintu dulu," ucap Bu Ningrum sembari meletakkan dua gelas jus di atas meja.


"Gak apa-apa, Nek lagipula kami juga sedang tidak melakukan apa-apa," ucap Jo.


"Nenek baru saja membuat jus dan ternyata kebanyakan jadi Nenek bawakan untuk kalian berdua," ucap Bu Ningrum.


"Oh, terima kasih Nek," ucap Rallyn dengan senyuman ramah tentunya.


"Diminum ya, nenek mau istirahat duluan," ucap Bu Ningrum sembari berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Semoga rencanaku berhasil," batin Bu Ningrum.


"Sudah menikah tapi masih tidur pisah kamar, gimana mau hamil kalau belum pernah melakukan malam pertama?" batin Bu Ningrum lagi dengan senyuman penuh arti.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2