Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 78


__ADS_3

Keesokan harinya.


Di kediaman Bu Reni dan keluarga.


Hari ini di rumah itu, semua orang sudah selesai dengan urusan Masing-masing. Mereka semua sudah mau melakukan aktivitas masing-masing. Seperti kesepakatan yang Rallyn dan Jo buat kemarin, hari ini Rallyn akan ke kantor untuk menggantikan posisi Jo, meski dirinya merasa tidak percaya diri, tapi dirinya harus bisa demi memenuhi permintaan suaminya dan juga ibu mertuanya.


"Gini udah cantik ya, Mas?" tanya Rallyn sembari berputar-putar di depan Jo.


Rallyn yang sudah lama tidak berpakaian ala kantor, membuat dirinya merasa aneh dengan penampilannya, dia tak percaya bahwa semakin dewasa semakin cantik saja yang dia rasa. Beberapa saat kemudian Rallyn menghentikan gerakan tubuhnya lalu berdiri tertegun di tempatnya, dia lupa bahwa sekarang suaminya sudah tidak dapat melihat lagi.


"Mas, maafkan aku," ucapannya sembari menghampiri Jo yang tengah duduk di kursi rodanya.


"Maaf, untuk apa?" tanya Jo.


"Pertanyaanku, tadi. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu." Rallyn membungkukkan tubuhnya di hadapan Jo lalu memeluk Jo.


"Tidak apa-apa. Aku dapat melihat kecantikanmu dengan mata hatiku. Kamu cantik hari ini," ucap Jo sembari mengusap punggung Rallyn.


"Sudah pukul tujuh tiga puluh. Pergilah ke kantor! Mama pasti sudah menunggu," ucap Jo.


Rallyn melerai pelukannya lalu menatap jam dinding yang menempel di dinding tepat di belakangnya. Dia kembali menatap wajah suaminya, dia heran mengapa suaminya bisa mengetahui bahwa sekarang pukul tujuh tiga puluh dan itu pas jarum panjang jam itu tepat berada di angka enam.


"Mas ...." Rallyn menggantung ucapannya. Dia ingin bertanya tapi takut menyinggung perasaan Jo.


"Aku tahu karena handphoneku bergetar. Kamu lupa ya kalau kamu memasang alarm jam segini untuk mengingatkan aku minum obat," ucap Jo yang seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Rallyn.


Rallyn masih terdiam. Rasanya dia tak percaya suami yang sangat dia sayangi itu buta, sedangkan saat mereka saling menatap, dia merasa bahwa suaminya melihatnya dan sedang menatap matanya.


"Mas, aku pergi dulu ya. Kamu hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa minta tolong Nenek atau Mbak Lela ya," ucap Rallyn sebelum pergi.


"Iya," sahut Jo singkat.


Rallyn segera mencium punggung tangan Jo lalu mencium pipinya sekilas. Namun baru dia akan menjauhkan wajahnya, Jo menahannya dengan memegangi kepalang. Solah tahu dan dapat melihatnya, Jo langsung mencium bibir Rallyn dan sedikit mengh***pnya.


"Aku kangen sama kamu," ucapnya setelah melakukan ciuman singkat itu.

__ADS_1


Rallyn tersenyum tipis, ada rasa yang tak biasa saat merasakan ciuman itu lagi. Sudah lama mereka tak melakukannya. Jangankan untuk berhubungan suami istri, untuk bercumbu seperti barusan saja sudah tidak mereka lakukan lagi akibat ulah yang dilakukan Jo dalam rumah tangga mereka.


"Maafkan aku," ucap Rallyn dengan suara pelan.


"Maaf untuk apa? Kami tidak salah," ucap Jo.


"Aku pergi," ucap Rallyn lalu pergi meninggalkan Jo di kabarnya.


Di lantai utama rumahnya, sudah ada Bu Reni yang menunggu Rallyn untuk pergi bersama ke kantor. Rallyn berjalan langsung ke arah pintu keluar, dia tahu bahwa ibu mertuanya sudah menunggunya di teras rumah.


"Mam, maaf membuat, Mama menunggu lama," ucap Rallyn saat melihat sang ibu mertua yang masih duduk di kursi yang ada di depan rumah mereka.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mari kita pergi!" Bu Reni dan Rallyn langsung masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada sopir yang sudah menyalakan mesin mobilnya.


Sopir itu langsung melajukan mobilnya menuju kantor, tanpa harus menerima perintah dari Bu Reni. Selama diperjalanan, tidak ada percakapan apa pun diantara mereka. Hanya ada keheningan, semua yang berada di dalam mobil itu hanya fokus pada pemikiran masing-masing.


*******


Di kantor.


Alice dan Julia pastinya lebih memihak pada Rallyn karena Rallyn adalah teman mereka, sedangkan Arka. Dia pernah menyukai Rallyn, pasti dia juga berpihak pada Rallyn karena tak mungkin tega melihat Rallyn terluka hati. Mereka bertiga kompak sama-sama berusaha menyingkirkan Kalila dari kehidupan Jo.


"Kemarin, aku melihat si ular sawah sedang bersama seorang laki-laki," ucap Alice.


"Hah! Kapan? Di mana?" tanya Julia.


"Udah kubilang, kemarin. Saat aku pulang kerja, dia sedang jalan memasuki sebuah restoran. Mereka mesra banget, aku memotret mereka, tapi sayangnya foto itu tidak bisa dijadikan bukti pada Pak Ashka," ucap Alice panjang lebar.


"Kenapa tidak? Ini bukti yang sangat bagus," ucap Arka sembari melihat foto yang ada dalam ponsel Alice.


"Sekarang Pak Ashka sudah buta, Pak," sahut Alice.


"Miris sekali bos kita, itu. Sudah buta hatinya, buta juga matanya. Aku heran sama Rallyn, masih aja bertahan dengan suami kayak gitu," ucap Julia.


Sebelum tibanya jam kerja, mereka terus berbicara membahas tentang hubungan Rallyn dan Jo yang sebenarnya tidak harus mereka ikut campur. Tapi, sebagai seorang sahabat, tentunya mereka tak terima Rallyn diperlakukan seperti itu oleh suaminya.

__ADS_1


"Selamat pagi semuanya," ucap Rallyn pada mereka yang sedang duduk di tempat kerja Alice.


Mereka menoleh ke arah Rallyn, seketika Alice dan Julia langsung memeluk temannya itu. Mereka rindu pada Rallyn setelah hampir dua minggu tidak bertemu.


"Rallyn," ucap Alice sembari memeluk Rallyn.


"Kamu kerja lagi di sini? Apa suamimu itu sudah menceraikan kamu sehingga kamu harus kerja," ucap Julia.


"Ih!" Alice mencubit perut Julia karena Julia bicara yang tidak seharusnya.


"Aduh! Kamu, apaan, sih Lice? Sakit," ucap Julia.


"Kamu, tuh bisa gak, sih kalau bicara tuh disaring dulu. Gak tahu kondisi banget," ucap Alice.


"Aku hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiranku," ucap Julia.


"Udah! Udah! Kalau udah ketemu, suka lupa segalanya," ucap Arka.


"Rallyn, kamu kok ke sini?" tanya Arka pada Rallyn.


"Aku ...." Rallyn menggantung ucapannya.


"Rallyn akan menggantikan posisi Ashka mulai hari ini," jelas Bu Reni yang tiba-tiba muncul di sana.


"Untuk sementara saja," sambung Rallyn.


"Wah! Selamat," ucap Arka dengan senyum lebar. Alice dan Julia pun ikut bahagia mendengarnya.


"Sudah waktunya kerja. Kembali pada posisi masing-masing!" titah Arka. Mereka pun segera duduk di tempat kerja masing-masing dan mulai bekerja dengan baik.


Waktu terus berjalan, tak terasa hari sudah mulai siang. Sekitar pukul sebelas siang, Rallyn sedang sedang fokus mempelajari tugasnya sebagai seorang pemimpin perusahaan, karena ada yang tidak dia mengerti, dia pun bergegas ke luar dari ruangan itu hendak bertanya pada Bu Reni yang berada di ruangan pribadinya. Saat dia sudah berada di luar ruangannya, dia baru hendak melangkah menuju ruangan sang ibu mertua.


Tiba-tiba dari belakang ada seseorang memeluknya hingga dirinya terkejut dan memukul kepala orang yang memeluknya dengan map coklat berisi sebuah berkas. Rallyn tidak terima dengan perlakuan orang yang tidak dikenal itu padanya. Laki-laki itu meringis kesakitan, tapi tak melepaskan pelukannya, dia malah mencium leher Rallyn bagian samping.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2