
Keesokan harinya, di kantor Jo.
Hari sudah memasuki siang hari tapi sedari pagi Jo terlihat murung dan tidak bersemangat. Di kantor pun, dia tidak melakukan pekerjaan apa-apa, hanya duduk sambil melamun. Entah apa yang dia pikirkan yang pasti dia meras galau.
Dari tadi Arka terus memerhatikan bosnya yang seolah kehilangan semangatnya. Dia ingin sekali bertanya tapi dirinya merasa bahwa dirinya sudah tahu kenapa bosnya itu seperti itu.
"Gara-gara Rallyn yang pulang ke rumah orang tuanya ini. Gak biasanya dia kayak gitu," ucap Arka di dalam hatinya. Setengah hari ini Arka terus memerhatikan bosnya yang tidak fokus bekerja. Dia khawatir Jo jatuh sakit karena terlalu banyak berpikir berat.
"Ngapain kamu ngintipin Ashka? Kamu ada rencana buruk terhadap dia?" ucap Kalila yang baru hendak masuk ke dalam ruangan Jo.
Arka menoleh ke belakang untuk melihat si pemilik suara, meski sebenarnya dia tahu bahwa orang itu adalah Kalila. Dia menatap Kalila dengan tatapan malas.
"Gini nih kalau orang jahat, pikirannya selalu buruk terhadap orang lain," ketus Arka lalu segera pergi dari sana.
Kalila hanya diam dan memilih tak mencari ribut dengan Arka. Dia langsung masuk ke dalam ruangan itu untuk menemui Jo.
"Siang, Sayang. Kita makan bareng yuk!" ajak Kalila sembari berjalan mendekati Jo.
"Kamu. Ngapain kamu ke sini gak bilang-bilang dulu? Aku lagi sibuk," ucap Jo berbohong padahal dirinya tengah galau karena ditinggal Rallyn.
"Biasanya juga aku gak pernah bilang dulu kalau mau ketemu kamu. Aku mau ketemu Alika," ucap Kalila.
"Alika sedang tidak bisa ditemui oleh siapa pun. Dia sedang ingin sendiri," jelas Jo.
"Dari mana kamu tahu kalau dia tidak ingin ditemui? Anak sekecil itu kamu biarkan sendirian," ucap Kalila lagi.
"Dia dibawah pengawasan mama dan nenek. Kamu gak usah khawatir."
"Aku kangen sama anak kita," ucap Kalila yang memaksa mereka untuk bersama-sama hari itu.
"Kalila tolong. Aku sibuk, pergilah nanti aku hubungi kamu setelah aku selesai," ucap Jo tanpa menatap Kalila sedikit pun.
"Kamu kenapa, sih? Bete banget kayaknya," ucap Kalila yang merasa tidak dihiraukan oleh Jo.
"Aku bilang aku sibuk," ucap Jo dengan ekspresi datar.
Kalila menghela napas panjang lalu membuangnya kasar. Dia berjalan mendekat Jo lalu langsung mencium bibir Jo.
__ADS_1
"Kamu pasti butuh bersenang-senang. Ayolah Ashka, kita jalan ke mana kek biar kamu gak bete gini," ucap Kalila yang kini sudah duduk di pangkuan Jo dengan tangannya yang dia kalungkan di leher Jo.
Jo melingkarkan tangannya di pinggang Kalila. Dia tersenyum tipis mencoba menghilangkan bayangan Rallyn dari ingatannya. "Ya udahlah. Ayo kita makan!" ajak Jo.
Kalila tersenyum gembira. Dia bangkit dari duduknya dan segera menggandeng Jo. Mereka keluar dari ruangan itu dengan bergandengan mesra.
"Gila ya tuh Pak Ashka. Ditinggal istri, kok kelihatannya enjoy-enjoy aja sama ular sawah itu," ucap Julia dengan nada kesal.
"Jadi, Rallyn pergi. Pergi ke mana?" tanya Arka yang tak sengaja mendengar perkataan Julia.
"Kemarin, setelah dari sini Rallyn langsung pulang ke rumah orang tuanya. Kayaknya emang tuh laki minta di getok pakai tiang listrik deh kesel gue liatnya," ucap Alice sembari menatap kepergian Jo dan Kalila.
"Itu bos kita. Dia punya banyak duit, mau masuk penjara, kamu karena mencelakai bos sendiri?" ucap Julia.
"Aku kesal, Ju. Sekarang Rallyn lagi sedih lah dia asyik sama selingkuhannya," ucap Alice lagi.
"Udah, udah. Mending kalian makan siang aja, udah waktunya makan siang juga ini," ucap Arka lalu dia segera menelpon Rallyn.
"Mau nelpon siapa, Pak?" tanya Alice.
Sepuluh menit berlalu. Kini Rallyn dan Arka sudah berada di pintu masuk restoran tempat Jo dan Kalila makan siang. Rallyn berdiri sejenak, dia menarik napas panjang lalu membuangnya kasar untuk mengumpulkan keberaniannya.
"Pak Arka menempatkan saya dalam posisi sulit ini," ucap Rallyn.
"Kamu sendiri yang minta saya untuk selalu melaporkan mereka. Sekarang apa lagi?" tanya Arka.
Pada pertempuran sebelumnya, memang Rallyn meminta bantuan Arka untuk selalu memberitahunya jika ada Kalila datang menemui Jo. Ini adalah salah satu usahanya untuk mempertahankan rumah tangganya. Rallyn punya rencana sendiri untuk membuat Jo melupakan Kalila.
"Sekarang saya boleh pergi?" tanya Arka.
"Jangan, dong. Kita masuk sana sama-sama," sahut Rallyn.
"Tapi nanti Pak Ashka melihat kita."
"Ya emang saya ingin mereka melihat kita," ucap Rallyn sembari menggandeng tangan Arka.
"Gak gini juga kali," ucap Arka yang tak ingin digandeng oleh Rallyn.
__ADS_1
Arka pernah menyukai Rallyn dan sampai saat ini rasa itu masih ada dalam hatinya. Dia takut perasaan cinta itu tumbuh semakin subur yang nantinya pasti menyisakan luka dalam di hatinya pasalnya dia tahu bahwa Rallyn tidak akan mungkin meninggalkan Jo. Dia tahu bahwa sekarang Rallyn sudah sangat mencintai bos sekaligus sahabatnya itu.
"Kenapa? Pak Arka takut Jo marah. Saya memang menginginkan dia marah, saya ingin tahu setelah ini dia akan menceraikan saya atau malah berusaha keras untuk mempertahankan saya," ucap Rallyn.
Arka tak dapat menolak Rallyn. Dirinya sudah berjanji pada wanita itu bahwa dirinya akan membantu Rallyn. Mereka pun berjalan memasuki restoran itu dengan bergandengan tangan.
Rallyn nampak mencari-cari di mana suaminya berada. Dia ingin tahu apakah Jo akan marah padanya saat melihat dirinya pergi bersama laki-laki lain. Setelah menemukan tempat yang menurutnya strategis, Rallyn dan Arka pun segera duduk di kursi itu. Mereka segera memesan makanan untuk selanjutnya makan siang bersama.
Rallyn terus tersenyum dan tertawa dalam obrolan mereka. Dia tak ingin terlihat sedih oleh suaminya jika nanti Jo melihatnya.
"Kurang ajar Arka. Ngapain dia sama Rallyn," batin Jo dengan mengepalkan tangannya. Jo langsung cemburu melihat Rallyn yang terlihat bahagia bersama Arka.
"Kamu kenapa?" tanya Kalila yang melihat Jo seperti sedang marah besar.
Jo mencoba meredam emosinya. Dia tidak ingin Rallyn tahu bahwa dirinya sedang bersama Kalila di tempat itu. Dia menatap Kalila lalu tersenyum tipis dalam hati yang sedang berusaha keras untuk tidak marah dan cemburu.
"Tidak apa-apa. Lanjut makan," ucap Jo pada Kalila.
Kalila kembali melanjutkan makannya. Dia tidak tahu bahwa di sana ada Rallyn karena itulah dia tidak bereaksi apa-apa.
Jo terus saja melihat ke arah Rallyn dan Arka. Entah kenapa keberadaan Kalila tidak bisa meredam rasa cemburunya bahkan sedari tadi kehadiran Kalila tidak dapat membuatnya lupa akan Rallyn dan semua bayangan Rallyn dari pikirannya. Karena tak bisa menahan cemburu, akhirnya Jo bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Rallyn dan Arka.
"Pak Ashka ke sini," ucap Arka dengan suara pelan.
"Serius? Pak cepat pegang tangan saya," ucap Rallyn.
"Saya gak berani. Dia akan marah," ucap Arka lagi masih dengan suara pelan.
"Gak apa-apa. Ayo lakukan, saya memang ingin dia marah," ucap Rallyn lagi.
Arka langsung meraih dan menggenggam kedua tangan Rallyn, dia mrngusap tangan mulus itu dengan ibu jarinya. Hal itu semakin membuat Jo marah hingga akhirnya tanpa sadar Jo menggebrak meja itu setelah dia tiba fi meja Rallyn dan Arka.
Arka dan Rallyn terkejut, begitu pun dengan beberapa pengunjung restoran itu. Kalila tersenyum, dia pikir dia akan menang hari ini. Kalila berpikir Jo akan marah pada Rallyn karena dia ketahuan selingkuh dengan Arka.
Bersambung
__ADS_1