
Setelah pembicaraan mereka selesai Jo langsung mengajak Rallyn ke kamarnya !
Rallyn pun hanya terdiam sambil mengikuti langka laki-laki yang menikahinya tanpa cinta itu!
"Ini baju tidur aku, kamu pakai saja," ucap Jo pada Rallyn sembari memberikan baju tidur miliknya.
Rallyn menerima pakaian itu tapi tak sedikit pun mengucapkan sesuatu pada Jo.
"Aku mau pindahin Alika ke kamarnya dulu, sementara itu kamu ganti bajumu," ucap Jo.
"Iya," sahut Rallyn singkat.
Jo pun langsung memangku tubuh mungil Alika dan membawanya keluar dari kamarnya.
Rallyn menghela napasnya panjang lalu membuangnya kasar. Dilihatnya baju tidur Jo yang berukuran besar itu, ada rasa yang tak biasa dalam hatinya saat dirinya harus menghadapi keadaan itu.
Rallyn pun segera membuka baju dan menggantinya dengan pakaian tidur milik Jo!
"Astaga ini kegedean, kalau gini jadi daster namanya," gumam Rallyn sembari memperhatikan tubuhnya dari cermin besar yang ada pada lemari pakaian Jo.
Tok!
Tok!
"Kamu sudah selesai?" tanya Jo dari luar.
"Sudah," sahut Rallyn.
Jo pun segera masuk ke dalam kamar dan langsung melihat penampakan Rallyn yang memakai baju tidurnya.
Jo nampak menahan tawa karena melihat Rallyn memakai bajunya yang terlihat sangat sangat kebesaran itu.
"Apa ada baju yang lain? Yang ini terlalu besar," ucap Rallyn.
"Semua pakaianku ukurannya segitu," sahut Jo.
Jo memang memiliki tubuh tinggi sedangkan Rallyn memiliki tinggi badan hanya seratus lima puluh centi meter sangat berbeda jauh dengan Jo yang memiliki tinggi badan seratus delapan puluh lima centi meter. Hal itulah yang membuat baju Jo menjadi ukuran dress selutut saat dipakai oleh Rallyn.
"Aku bisa terbang kalau ada angin kencang," ucap Rallyn lagi.
"Udahlah gak apa-apa lagian kamu mau tidur kan, bukannya lebih enak pakai pakaian longgar saat tidur?" ucap Jo.
"Iya tapi kalau seperti ini yang ada aku masuk angin," ucap Rallyn.
__ADS_1
"Nggak bakalan, ayo tidur!" Jo mengarahkan tubuh Rallyn agar segera berbaring di atas tempat tidurnya!
"Hey! Hey! Kamu mau apa?" ucap Rallyn sembari mencengkram kedua belah bahu Jo karena dirinya takut terjatuh.
"Kamu lupa tadi nenekku pesan apa?" ucap Jo yang kini sudah menindih tubuh Rallyn.
"Minggir dari sini!" Rallyn mendorong dada bidang Jo agar turun dari atas tubuhnya.
"Kita kan mau bikin cucu untuk nenekku kalau aku di bawah emang bisa? Kamu masih perawan belum berpengalaman dan lagi jalan masuknya juga masih disegel kan, pasti susah masuk," ucap Jo yang masih mempertahankan posisinya.
"Gak mau!" Rallyn mendorong tubuh Jo hingga Jo turun dari atas tubuhnya.
"Aku mau tidur di kamar Alika saja," ucap Rallyn sembari berlari ke arah pintu dan segera berusaha membuka pintu yang ternyata sudah dikunci oleh Jo.
"Kenapa gak bisa?" gumam Rallyn sambil terus berusaha membuka pintu itu.
"Gak akan bisa, pintunya dikunci," ucap Jo sembari memperlihatkan anak kunci itu pada Rallyn.
"Sini kuncinya," ucap Rallyn.
"Tidak boleh. Aku mau bikin cucu dulu baru kamu boleh keluar," ucap Jo sembari berjalan mendekati Rallyn.
"Kamu mau memper***a aku?" ucap Rallyn dengan gugup.
Saat itu Rallyn sudah ketakutan karena melihat Jo yang sudah berubah menjadi buas.
Jo meraih kedua belah lengan atas Rallyn dengan kuat dan membawanya kembali ke tempat tidurnya!
"Jangan. Aku gak mau, lepaskan aku!" ucap Rallyn sembari meronta-ronta.
"Jangan berisik nanti ada yang mengintip," ucap Jo.
Jo memutar tubuh Rallyn dan kini ia memeluk Rallyn dari belakang. Tangan kanannya melingkar erat di perut Rallyn sedangkan tangan kiri meraba bagian dada!
"Aaaaa!" Rallyn berteriak ketakutan selain merasakan tangan Jo yang merayap di dadanya ia juga merasakan ada sesuatu benda perkasa yang ukurannya besar di belakangnya.
Teriakan Rallyn membuat Jo reflek menutup mulut Rallyn!
"Diam, Rallyn," bisik Jo.
Rallyn mulai menangis karena berpikir Jo benar-benar akan memper****nya malam itu.
"Aku hanya bercanda. Gitu aja nangis," ucap Jo sembari melepaskan tubuh Rallyn.
__ADS_1
Rallyn hanya terdiam dan hanya mengeluarkan suara isak tangis saja.
"Jangan nangis, aku cuma bercanda," ucap Jo lagi sembari merapikan baju Rallyn.
"Aku mau pulang," ucap Rallyn.
"Jangan dong, kalau kamu pulang nanti aku gak punya mainan lagi," ucap Jo dengan senyuman jahilnya.
Rallyn meraih dadanya yang tadi sempat disentuh oleh Jo, ia juga menautkan kembali kancing bajunya yang tadi tidak sengaja terlepas.
"Cuma menyentuh sedikit, itu tidak akan membuat kamu hamil tidurlah, tenang saja aku gak akan memper***a kamu," ucap Jo lagi.
Rallyn terus terdiam di posisinya itu, dirinya masih kerasa kaku setelah mendapat perlakuan mengejutkan dari Jovanka.
"Aku mau tidur di kamar tamu, kamu di sini aja," ucap Jo sembari pergi keluar dari kamarnya!
Setelah pintunya tertutup Jo kembali membuka pintu itu hingga membuat Rallyn terkejut.
"Selamat malam istriku," ucap Jo yang hanya menyembulkan kepalanya dari balik pintu, sebuah senyuman terukir di bibirnya.
"Pergi sana!" Rallyn segera menutup pintunya dan menguncinya karena takut Jo akan masuk ke dalam kamarnya saat dirinya sudah tertidur.
Jo hanya tersenyum melihat tingkah Rallyn yang tidak biasa.
Di dalam kamar Jo.
Rallyn merapikan tempat tidur itu lalu mulai membaringkan tubuhnya!
"Hah! Dasar duda mesum bisa-bisanya dia menjamah hartaku," batin Rallyn yang terlihat kesal pada Jo.
"Besok aku mau pulang kalau gak pulang bisa-bisa aku kehilangan keperawanan ku," batin Rallyn lagi.
Rallyn mencoba menutup matanya berharap dirinya dapat tertidur dengan tenang tapi Jo yang sudah meremas dadanya itu membuat dirinya terus mengingatnya dan rasa itu masih jelas terasa.
Di kamar tamu.
Jo membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. Ia tidak langsung tertidur, perbuatannya pada Rallyn membuatnya gelisah karena sesuatu miliknya menegang dan sudah bersiap untuk menembakkan pelurunya.
"Aaah, aku gak bisa tidur kan," gerutu Jo.
Ia memegang benda pusaka nya itu dengan sedikit mer***snya. Sebuah desa****n pun keluar dari mulutnya.
Jo adalah laki-laki normal yang pastinya hasratnya akan bergairah saat melakukan sesuatu yang sensitif akan hal berbau kegiatan orang dewasa di malam hari.
__ADS_1
Gesekan tubuhnya dengan tubuh Rallyn terus terasa dan ia juga masih merasakan kentalnya benda bulat milik Rallyn itu hingga dirinya merasa kegelisahan sendiri disepanjang malam.
Bersambung