
Satu minggu sudah setelah kepulangan Jo dari rumah sakit. Pagi ini di kediaman mereka.
Dengan sabar dan telaten Rallyn menyuapi Jo yang sedang sarapan di ruang makan. Sebelum dirinya sarapan, pasti Jo yang didahulukan.
"Rallyn, aku bisa makan sendiri," ucap Jo.
"Gak apa, Mas. Aku suapi kamu dulu setelah itu baru aku makan, lagian kamu harus minum obat biar cepat sembuh," ucap Rallyn.
Melihat Rallyn yang begitu sayang dan perhatian pada putranya, membuat Bu Reni semakin sayang pada Rallyn dan tidak ingin Rallyn pergi dari rumahnya. Bu Ningrum pun sama halnya dengan Bu Reni, dia juga sudah terlanjur nyaman dengan Rallyn. Bagaimana tidak, Jo sudah mengkhianati Rallyn tapi dia masih berusaha bertahan dalam rumah tangganya bahkan setelah Jo seperti ini pun, Rallyn masih setia mengurusnya.
"Rallyn, mulai besok kamu pegang perusahaan ya. Gantikan Ashka," ucap Bu Reni.
Rallyn menatap ke arah ibu mertuanya lalu tersenyum tipis. "Ma, aku tidak bisa. Bukan keahlian aku untuk memimpin perusahaan dan mengatur semuanya," ucapnya, menolak permintaan Bu Reni dengan lembut.
"Kamu pasti bisa. Mama yakin, kamu pasti bisa," ucap Bu Reni.
"Mama saja. Aku tidak bisa lagipula sebentar lagi Mas Jo akan sembuh, dia yang akan memimpin perusahaan lagi," ucap Rallyn.
"Ashka tidak akan memimpin perusahaan lagi meski dia sudah sembuh. Seluruh aset perusahaan dan harta yang mama punya, semua milik mama. Ashka tidak ada hak lagi meski dia anak mama. Sekarang kamu orang yang mama percaya untuk memegang semua aset perusahaan mama," jelas Bu Reni.
"Ma, jangan bercanda pagi-pagi gini. Aku anak mama, masa mama mempercayakan semua pada Rallyn," protes Jo.
"Karena kamu sudah membuat perusahaan mama mengalami kerugian. Kamu tahu, gak? Kalila membawa uang perusahaan yang kamu simpan dalam brankas di ruang kerja kamu, lagian kamu tuh gimana, udah tahu Kalila cuma ngejar harta. Kenapa gak kamu ganti kode pin brankas itu?" oceh Bu Reni.
"Apa? Itu tidak mungkin. Kalila selalu datang saat aku ada di kantor, dia tidak pernah datang saat aku tidak ada di sana," ucap Jo membela Kalila.
"Ada rekaman CCTV yang membuktikan bahwa Kalila adalah pelakunya. Sayang, sekarang kamu tidak bisa melihat bukti itu," ucap Bu Ningrum.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Mas. Kamu mencintai Kalila, 'kan? Dan juga kamu sudah mengenal dia jauh sebelum aku ada, aku yakin kamu pasti tahu dan pasti dapat melihat dengan mata hatimu. Baik buruknya dia, kamu yang tahu," ucap Rallyn dengan nada biasa saja.
Sengaja dia berkata seperti itu karena dia tahu, Jo pasti lebih mengenal Kalila hanya saja cintanya terhadap Kalila terlalu besar hingga dia tidak dapat melihat dan merasakan apa yang sebenarnya Kalila inginkan darinya. Dia tahu bahwa Kalila hanya memanfaatkan hartanya tapi dia sengaja tak mengatakan apa yang dia tahu pada Jo karena dia tahu, posisi Kalila masih berada di tempat paling tinggi dalam hati Jo. Sekeras apa pun dirinya mencoba memberitahu, tidak akan dipercaya oleh suaminya itu, dia punya cara sendiri untuk menyingkirkan Kalila, hanya saja dirinya butuh waktu lebih banyak untuk mencapai misinya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Rallyn?" tanya Bu Reni.
"Karena suamiku terlalu mencintai selingkuhannya itu, Ma," jawab Rallyn.
"Tidak, Rallyn. Kamu yang aku cintai, aku sudah bilang aku memilihmu," ucap Jo.
"Setelah kamu seperti ini, baru kamu sadar," ucap Bu Ningrum.
"Sadar ti mana? Malah makin edan incu Nini teh," ucap Rallyn dalam hatinya.
"Udah-udah. Mama mau ke kantor," ucap Bu Reni.
"Alika, kamu sekolah sama Mama ya," ucap Rallyn pada Alika.
"Tapi, Papa gimana?" tanya Alika yang sudah memakai seragam sekolahnya.
"Papa ikut, dong," sahut Rallyn.
"Mas, udah lama kamu terdiam di dalam ruangan. Kamu ikut ya, nanti aku temani kamu jalan-jalan di taman sambil nunggu Alika pulang, lumayan tiga jam kita jalan-jalan," ucap Rallyn.
"Kamu gak malu punya suami cacat kayak aku?" tanya Jo.
"Kenapa harus malu? Aku lebih malu kalau punya suami hasil merebut dari perempuan lain," sahut Rallyn sembari mendorong kursi roda yang diduduki oleh Jo ke luar rumah.
__ADS_1
Karena Rallyn tidak bisa mengemudikan mobil, mereka berangkat dengan diantarkan oleh seorang sopir. Sopir yang biasa mengantar Rallyn ke mana-mana.
Setelah melakukan sepuluh menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di sekolah Alika. Alika langsung turun dari mobil dan langsung masuk ke area sekolahnya sedangkan Rallyn hanya berdiri di depan pintu mobilnya dan memerhatikan Alika yang kini berlari memasuki kelasnya. Setelah Alika masuk ke dalam kelas, Rallyn kembali masuk ke dalam mobilnya dan melakukan perjalanan menuju taman kota yang berada tak jauh dari sekolah Alika.
"Rallyn, terima kasih ya," ucap Jo sembari menggenggam tangan Rallyn.
"Terima kasih untuk apa, Mas?" Rallyn tidak menatap Jo karena menatapnya pun tidak akan ada gunanya kini Jo tidak bisa menatapnya lagi.
"Karena kamu sudah merawatku dan juga Alika. Bahkan kamu sudah merawat Alika dengan sangat baik."
"Itu kewajibanku sebagai istri," sahut Rallyn.
"Besok kamu ke kantor ya. Kamu urus perusahaan dengan baik, kalau kamu bingung, kamu boleh tanya sama aku atau Arka," ucap Jo.
"Nggak, Mas. Mama yang akan mengurus perusahaan, aku gak mau, aku gak bisa," ucap Rallyn yang merasa dirinya tidak bisa melakukan itu. Dirinya tidak mempunyai pendidikan untuk menjadi seorang CEO di perusahaan, dirinya juga tidak punya pengalaman yang cukup untuk berada di posisi tertinggi di perusahaan.
Asyik mengobrol, akhirnya mereka tiba di taman itu. Rallyn segera turun dan langsung menyiapkan kursi roda untuk suaminya. Dengan dibantu oleh Pak Sopir, kini Jo sudah duduk di kursi itu.
Rallyn mulai mendorong kursi roda yang diduduki oleh Jo memasuki area taman itu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman itu, tanpa sengaja dia melihat Kalila yang sedang bermesraan dengan seorang laki-laki yang usianya jauh lebih muda dari Jo.
"Kalila, sama siapa dia?" batin Rallyn sembari terus melihat ke arah Kalila.
"Rallyn, kenapa diam. Kamu berat ya mendorong aku?" tanya Jo yang merasa heran karena Rallyn tak juga mendorong kursi rodanya.
"Eum, nggak, Mas. Aku melihat ada tukang siomay di sana. Aku mau makan siomay itu, boleh gak?" ucap Rallyn yang tak mungkin dirinya mengatakan bahwa di sana ada Kalila yang sedang bersama seorang laki-laki.
"Kasihan sekali kamu, Mas. Kamu rela menyakiti aku demi Kalila tapi Kalila malah menyakiti kamu seperti ini," batin Rallyn.
__ADS_1
Bersambung