Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 80


__ADS_3

"Aku memang bodoh." Jo menatap Rallyn lalu meraih tangannya.


"Maafkan aku, Rallyn. Aku terlalu banyak salah padamu, aku baru sadar kalau ternyata kamulah perempuan yang sangat aku cintai. Bahkan Kalila tidak bisa membuat suasana hatiku membaik saat kamu tidak ada di sampingku," ucap Jo dengan meneteskan air mata penyesalan.


"Aku sudah memaafkan, kamu, Mas. Aku selalu memaafkan kamu," ucap Rallyn dengan mengulas senyuman tipis di bibirnya.


Jo tersenyum lebar lalu memeluk Rallyn dengan penuh cinta dan kehangatan. Bu Reni tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya bersatu kembali. Cobaan dalam pernikahan yang mereka hadapi kini sudah berhasil dilewati berkat kesabaran yang dimiliki oleh Rallyn.


*******


Di tempat lain.


Di sebuah tempat tongkrongan anak-anak muda, Kalila terlihat bete. Wajahnya terlihat kesal dan penampilannya juga tidak seperti biasanya.


Davina yang lama menghilang, tiba-tiba muncul di tempat itu dan langsung menghampiri Kalila. Dia duduk di kursi itu dan langsung meraih minum Kalila yang dari tadi masih utuh tak tersentuh sedikit pun.


"Kenapa, Lu? Gagal dapetin Ashka?" tanya Davina meremehkan Kalila.


"Lu. Dari mana aja baru nongol?" bukan menjawab pertanyaan Davina, Kalila malah balik bertanya pada temannya itu.


Sudah lama Davina tidak menemui Kalila bahkan mereka tidak pernah lagi berkomunikasi, meski dalam telpon. Baru hari ini, Davina muncul di hadapannya, itu pun secara tidak sengaja. Davina tersenyum penuh arti, seolah dia tahu bahwa Kalila gagal mendapatkan Ashka.


"Galau gitu. Ashka tetap memilih Rallyn ya?" tanya Davina lagi.


"Bukan itu masalahnya. Ashka tetap mencintai gue, masalahnya sekarang dia itu lumpuh dan juga buta. Bahkan sekarang dia sudah bukan pemegang perusahaannya lagi. Sekarang dia kere, gak asyik lagi buat dipacari," jelas Kalila.

__ADS_1


"Apa? Ashka buta dan lumpuh, kok bisa? Memangnya apa yang terjadi padanya?" tanya Davina yang memang tidak tahu apa-apa.


Selama ini dia di luar negeri untuk mengurus pekerjaannya. Dia baru kembali kemaren dan langsung ingin mencari tahu tentang Kalila dan Jo. Dia ingin kabar baik, tapi ternyata malah mendapat kabar buruk. Laki-laki yang dicintainya malah buta dan lumpuh.


"Lu, gak liat berita? Ashka kecelakaan," sahut Kalila.


"Terus, sekarang dia gimana? Apa kata dokter, kamu pasti tahu, dong tentang Ashka?" tanya Davina penuh kekhawatiran.


"Lu, khawatir banget sama Ashka. Jangan bilang lu mau sama laki-laki bekas gue," ucap Kalila penasaran.


"Apaan, sih lu. Gak mungkin lah, gue suka sama dia. Ashka 'kan milik kamu, kamu masih cinta 'kan sama dia?"


"Kalo lu, mau. Ambil aja! Gak ada gunanya kali, cowok cacat. Ngerepotin aja tiap hari harus diurusin," ucap Kalila berterus terang.


"Udah gak guna aja, lu tinggalin," ucap Davina ketus.


"Gila, Lu. Emang kalian pernah melakukan hubungan ranjang selama pacaran?" tanya Davina penasaran.


"Ya, nggaklah. Gila, lu, lagian Ashka gak pernah mau meski gue mengajaknya," sahut Kalila.


*******


Waktu terus berjalan sebagai mana mestinya. Kini sore hari sudah tiba, sekitar pukul lima belas waktu setempat, Jo mengajak Rallyn ke rumah orang tuanya untuk meminta maaf secara pribadi dan menjelaskan apa yang sudah terjadi. Saat ini mereka masih di kantor, Jo berjalan keluar dari ruangannya dengan Rallyn yang berjalan manja dengan tangannya yang melingkar menggandeng tangan Jo. Senyum bahagia terukir di bibir Rallyn, kesabarannya selama ini, kini sudah berbuah manis tanpa harus dirinya capek-capek menyingkirkan Kalila.


Semua karyawan yang baru hendak pulang, menatap ke arah Jo dan Rallyn. Alice dan Julia menatap mereka dengan tatapan mata yang terbuka lebar. Mereka heran melihat Rallyn yang begitu bahagia saat bersama Jo, padahal biasanya Rallyn sering memasang wajah masam dan datar saat bersama Jo.

__ADS_1


Senyum di bibir Arka seketika merekah saat melihat pemandangan itu. Dia tahu bahwa ini akan terjadi, bosnya pasti punya rencana dibalik semua yang dia lakukan. Meski Jo terbilang keras kepala dan tidak pernah bisa dikasih masukan saat sedang menginginkan sesuatu, tapi sebenarnya dia berhati baik dan akan berhati-hati untuk memilih apa dan siapa yang sebenarnya inginkan.


"Ada apa, kalian menatap saya seperti ini?" tanya Darren.


"Et dah. Pede banget diliatin," ketus Alice.


"Kita bukan lagi menatap kalian. Kita lagi menatap Pak Arka," ucap Julia berbohong.


"Hooh. Tuh, Pak Arka ganteng bener," tambah Alice.


Arka hanya tersenyum mendengar perkataan pedas dari mulut dua teman Rallyn itu. Rupanya benci mereka terhadap Jo sudah mendarah daging hingga mereka lupa bahwa kini mereka masih berada di area kantor.


"Kita harus bicara. Minggu kita ketemuan di tempat bisa," ucap Rallyn pada Alice dan Julia.


"Saya ikut ya," ucap Arka yang langsung ikut saja dalam pembicaraan mereka.


Alice dan Julia menatap Arka. Mereka heran mengapa laki-laki itu sekarang lebih suka berkumpul bersama mereka.


"Saya 'kan selingkuhannya Rallyn," ucap Arka lagi karena merasa ditatap oleh kedua teman Rallyn dengan tatapan penuh tanya.


"Oh iya, Pak Arka benar. Pak Arka ikut juga deh, siapa tahu kita bisa pacaran di sana nanti," ucap Rallyn tanpa ragu.


Jo menatap Rallyn. Dia langsung merangkul pinggang Rallyn dari belakang hingga kini tangannya melingkar di pinggang ramping milik Rallyn.


"Jangan selingkuh lagi. Saya gak akan mengizinkannya," ucap Jo.

__ADS_1


"Aktivitas kantor sudah selesai. Cepat bubar! Malah nontonin orang mau pacaran," ucap Jo lagi pada beberapa karyawan yang masih berada di sana. Setelah itu Jo langsung melangkah membawa Rallyn keluar dari kantornya.


Bersambung


__ADS_2