Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 75


__ADS_3

Satu minggu sudah Jo dirawat di rumah sakit. Selama itu, pula Rallyn dengan begitu sabarnya merawat dan menemani suami durjananya itu. Meski Jo terus saja menyakitinya dengan bertemu dengan Kalila, tapi Rallyn tetap bersabar. Dia tahu bahwa Tuhan sudah punya rencana baik untuknya.


Mendapat suport dari sang ibu dan ibu mertua dan juga teman-temannya, membuat Rallyn berusaha sedikit lebih bersabar lagi. Baru satu minggu suaminya dirawat di rumah sakit. Dia masih mencadangkan waktu beberapa minggu lagi untuk memberikan waktu untuk Jo memperbaiki dirinya, jika batas waktu yang ditentukan Rallyn sudah habis, tapi Jo tetap bersama Kalila, maka Rallyn tidak akan membuka hatinya lagi untuk Jo. Waktu Jo sudah habis, cukup bagi Rallyn untuk bersabar demi pernikahan yang sudah tak utuh lagi itu.


Hari ini, Jo sudah diperbolehkan pulang. Sekarang dia sudah dan Rallyn sudah berada di pintu keluar rumah sakit itu. Mereka sedang menunggu sopir datang menjemputnya.


"Rallyn," ucap Jo yang sedang duduk di kursi roda.


"Ya. Ada apa? Kamu mau minum?" tanya Rallyn.


"Tidak. Aku takut kamu pergi," ucap Jo.


"Aku memang mau pergi," sahut Rallyn dengan nada bicara datar.


"Jangan tinggalkan aku." Jo meraih tangan Rallyn yang terletak di pundaknya lalu mengelusnya.


"Selama satu minggu di rumah sakit, selama itu juga Kalila selalu menemuimu. Dia tahu kapan ada dan tidak adanya, mama kamu. Kamu pasti sengaja memintanya untuk datang saat mama tidak ada," ucap Rallyn lagi.


Belum sempat Jo berucap untuk menjawab perkataan Rallyn. Seorang sopir datang dan langsung membantu Jo untuk masuk ke dalam mobil. Sopir Bu Reni itu sedikit terlambat datang karena sebelumnya harus mengantar Alika ke sekolah terlebih dahulu.


"Maaf, Pak, Bu. Saya telat, tadi di jalan macet sedikit," ucap sopir itu.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Pak. Yang penting sekarang kami sudah bisa pulang," ucap Rallyn lalu masuk ke dalam mobil itu.


Sopir itu langsung melajukan mobilnya menuju jalan pulang. Dia berkendara dengan kecepatan sedang mengingat dirinya sedang membawa anak majikannya yang sedang sakit.


"Sembuh gak sembuh, aku akan pergi setelah satu bulan," ucap Rallyn.


"Tolong, jangan," ucap Jo.


"Aku sudah mengulur banyak waktu untuk kamu, tapi kamu tidak menggunakan waktu itu dengan baik. Aku juga sudah mengecewakan orang tuaku demi kamu," ucap Rallyn dengan tatapan terus ke depan. Menatap jalan yang sedang mereka lalui.


Jo menggerakkan tangannya, mencari-cari tangan Rallyn. Seolah takut Rallyn benar-benar pergi, dia tak ingin melepaskan tangan istrinya itu. Dia menggerakkan tangannya di paha Rallyn lalu naik ke atas, tibalah dia di pipi istrinya yang ternyata basah dengan air mata.


"Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi," ucap Jo sembari mengusap pipi Rallyn dengan lembut.


********


Di kantor.


Tok!


Tok!

__ADS_1


Tok!


Arka mengetuk pintu ruangan Bu Reni dan langsung membuka pintu itu setelah mendengar suara Bu Reni mempersilakan dirinya masuk. "Ibu, memanggil saya?" tanyanya sembari berjalan menghampiri Bu Reni yang sedang duduk di kursi kerjanya.


"Iya. Duduklah!" Bu Reni menatap Arka dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.


"Ada apa. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arka.


"Tentang Kalila. Saya mau tanya, apa dia sering ke sini sebelumnya?" tanya Bu Reni.


Arka terdiam. Dia menundukkan kepalanya karena tak tahu harus menjawab apa, jika dirinya mengatakan yang sebenarnya, dirinya takut Bu Reni benar-benar tidak akan mengizinkan Jo memegang perusahaan itu lagi. Sebagai orang yang paling dekat dengan Jo, pastinya dirinya tidak akan tega jika melihat Jo hidup dalam kesusahan. Jo yang tak pernah hidup kekurangan, pastinya akan merasa dirinya tersiksa tanpa uangnya.


"Arka! Kenapa kamu malah diam? Saya sedang bertanya sama kamu," ucap Bu Reni lagi karena Arka hanya diam.


"Bu ...." Arka menggantung ucapannya. Dia menarik napasnya berat lalu mengembuskan nya perlahan.


"Dia memang suka datang ke sini, tapi tidak setiap hari," ucap Arka lagi. Dirinya tidak bisa berbohong pada Bu Reni karena pastinya dia sudah tahu dan hanya ingin memastikan saja padanya.


"Sudah saya duga. Perempuan itu pasti melakukan segala cara untuk mengganggu Ashka," ucap Bu Reni lagi.


"Kamu boleh pergi!" Setelah menanyakan itu, Bu Reni pun meminta Arka untuk pergi.

__ADS_1


Arka pun langsung pergi dari ruangan itu, meski dalam hatinya ada pertanyaan yang belum ada jawabannya. Mengapa Bu Reni menanyakan hal itu? Dirinya merasa itu adalah pertanyaan yang tidak penting.


Bersambung


__ADS_2