
Pagi hari di kediaman keluarga Jo.
Setelah selesai sarapan. Jo langsung berpamitan untuk pergi ke kantor, dia mencium kening Rallyn dihadapan Bu Reni dan neneknya. Seolah tak pernah terjadi masalah, dia selalu melakukan apa yang menjadi kebiasaannya setiap hari.
Sedikit pun Rallyn tak menggubris perlakuan Jo dia tetap diam mematung bahkan makannya yang belum habis pun tidak dia sentuh lagi. Kesedihannya masih menyelimuti hati, dirinya tidak bisa melupakan apa yang sudah Jo lakukan padanya.
"Nanti siang aku akan menjemputmu, kita makan siang bersama di luar," ucap Jo.
"Aku ada acara dengan teman-temanku. Mungkin aku akan pulang sore atau mungkin juga sampai malam," ucap Rallyn ketus sementara Bu Reni dan Bu Ningrum hanya terdiam sembari menatap ke arah Jo dan Rallyn.
"Aku ikut ya."
"Tidak bisa. Kami semua perempuan dan kami tidak ingin ada laki-laki yang mencampuri urusan kami," sahut Rallyn tanpa menatap Jo dan masih dengan tanpa ekspresi.
"Ya sudah. Handphonemu, kartu ATM dan semua milikmu ada di meja di dalam kamar. Kamu ambil ya dan jangan lupa pakai kartu kreditnya, jangan sampai gak dipakai," ucap Jo lalu pergi.
"Astaghfirullah, harus bagaimana aku menghadapi laki-laki ini. Kenapa dia selalu bersikap baik padaku tapi dia juga menyakitiku," batin Rallyn.
"Hari ini aku sekolah sama Mbak Lela saja. Mama jangan nangis, aku gak nakal, kok," ucap Alika pada Rallyn.
"Mama gak nangis, Sayang. Mama tadi kemasukan debu makanya matanya berair," jelas Rallyn sembari tersenyum yang dipaksakan.
"Ya udah, aku sekolah dulu ya. Mama lagi sakit, banyakin istirahat biar cepat sembuh," ucap Alika.
"Iya, Sayang. Kamu hati-hati ya." Rallyn mencium Alika lalu membiarkan Alika pergi bersama asisten rumah tangganya.
Setelah Alika pergi. Rallyn beranjak dari duduknya dan berjalan ke taman kecil yang ada di belakang rumah mewah milik suaminya itu. Bu Reni dan Bu Ningrum menatap kepergian Rallyn dengan tatapan sendu. Mereka merasa tidak tega pada Rallyn yang baru menikah beberapa bulan tapi sudah harus menerimanya cobaan rumah tangga yang seberat ini.
Di taman itu. Rallyn duduk di atas batu yang di depannya terdapat bunga-bunga yang sedang dihinggapi laron-laron. Dia menatap bunga itu dengan tatapan kosong karena sebenarnya pikirannya melayang entah ke mana.
"Rallyn!" seru Bu Reni tapi tak dihiraukan oleh Rallyn.
"Rallyn!" seru Bu Reni lagi kini dengan sedikit mengeraskan suaranya tapi tetap tidak direspon oleh Rallyn.
Rallyn sedang melamun hingga dia tidak dapat mendengar suara Bu Reni yang memanggilnya. Bu Reni menghampiri Rallyn dan berdiri di belakangnya. "Rallyn," ucap Bu Reni sembari menyentuh punggung Rallyn.
__ADS_1
Rallyn segera menghapus air matanya lalu menoleh menatap sang ibu mertua, "Mama," ucapnya dengan suara serak.
"Mama tahu perasaan kamu tapi Mama mohon, bertahanlah di sini. Kalau kamu pergi, Kalila pasti merasa dia sudah menang," ucap Bu Reni.
"Aku memang sudah kalah, Ma. Mama sudah baik-baik saja sekarang, aku ingin pulang, Ma," ucap Rallyn.
"Tidak, Sayang. Kalau kamu mau pulang, pulang sana tapi jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan kami. Mama tahu sekarang pikiran kamu sedang kacau, menginap lah di rumah orang tuamu beberapa hari. Dinginkan kepalamu, tenangkan pikiran kamu di sana setelah itu kembalilah ke sini dan kita pikirkan bagaimana cara menyingkirkan Kalila dari kehidupan Ashka."
"Aku tidak bisa, Ma. Aku memang sudah kalah, aku ingin pisah saja darinya."
"Nak, setiap rumah tangga pasti ada ujiannya. Mungkin ini ujian untuk kamu kamu harus buktikan bahwa kamu adalah yang terbaik untuk Ashka karena memang kamu lebih baik dari Kalila. Ashka sudah mencintai kamu, karena itulah dia tidak ingin menceraikan kamu, sekarang tinggal kamu yang berjuang untuk mengambil hati Ashka yang masih tersangkut dengan Kalila. Buktikan kalau kamu perempuan hebat yang tidak pernah lemah oleh perempuan semacam Kalila," jelas Bu Reni lagi.
"Bagaimana caranya, Ma. Kalila cantik, dia berpendidikan dan juga dia ... aku kalah jauh darinya," ucap Rallyn lagi.
"Kamu cantik, kamu baik dan kamu juga berpendidikan meski kuliah kamu bukan di luar negeri. Kamu tidak ada bedanya dengan yang lainnya."
*******
Di kantor.
"Gila tuh ular sawah. Berani-beraninya datang ke sini," ucap Alice yang melihat Kalila berjalan ke arah ruangan Jo.
"Semoga Rallyn tidak ke sini deh. Dia pasti sedih kalau tahu suaminya bertemu dengan mantan istrinya lagi," ucap Julia.
Arka yang tidak sengaja melihat Kalila masuk ke dalam ruangan Jo, langsung merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan mereka di dalam. Dirinya tahu Kalila bukanlah perempuan baik meski dirinya juga tahu Kalila adalah mantan istrinya Jo tapi kedatangan perempuan itu bisa berakibat fatal dalam rumah tangga bosnya itu karena Kalila pastinya datang karena ada maksud tersendiri.
Perlahan Arka berjalan mendekati pintu itu dan dia melihat mereka dari celah pintu yang sengaja dia buka hanya sedikit. Betapa geramnya dia saat melihat Kalila yang sedang bermanja di pangkuan Jo. Arka mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menghajar bosnya itu tapi dia tidak berhak karena ini di area kantor.
Saat sedang di luar area kantor. Arka berperan sebagai sahabat Jo tapi di area kantor statusnya sebagai asisten Jo. Dia selalu bersikap profesional meski dirinya dan Jo sudah memiliki hubungan dekat sejak dari mereka sekolah dulu.
"Kurang ajar kamu Ashka. Tega kamu menyakiti Rallyn, aku sudah mengalah demi kamu tapi kamu malah mengecewakan Rallyn," batin Arka.
Arka memang sudah tertarik pada Rallyn, semenjak pertama kali Rallyn masuk kerja di kantor itu.
"Pak Arka! Sedang apa?" tanya Rallyn pada Arka yang sedang mengintip Jo dari celah pintu.
__ADS_1
Arka terkejut mendengar suara Rallyn di sana. Ini bukan inginnya, dirinya tidak ingin Rallyn mengetahui kelakuan Jo dan Kalila di dalam sana.
"R_Rallyn. Kamu ngapain di sini?" tanya Arka.
"Aku mau ketemu suamiku," sahut Rallyn seolah mereka sedang tidak ada masalah.
"T_tapi, Pak Ashka–"
"Kenapa? Kenapa, Pak Arka begitu ketakutan?" tanya Rallyn bingung.
"Mendengar kita bicara dulu di depan."
Karena penasaran, Rallyn melihat ke dalam ruangan Jo dan dia langsung melihat Kalila yang sedang asyik memainkan dagu dan bibir Jo. Sesak dan perih langsung menghujam hatinya. Ingin sekali dirinya menembak Jo dan Kalila dengan senjata laras panjang agar keduanya mati di sana saat itu juga. Rallyn meneteskan air matanya lagi, dia cemburu melihat pemandangan di dalam sana.
"Rallyn, yang sabar," ucap Arka.
Rallyn mencekal pergelangan tangan Arka, tanpa sadar dia mencengkram kuat pergelangan tangan Arka hingga Arka merasa kesakitan tapi dia tidak berani menjerit atau pun meraung karena dia tahu Rallyn lebih kesakitan daripada dirinya. Arka masih terdiam membiarkan Rallyn melampiaskan kemarahannya dengan mencengkeram tangannya.
Setelah beberapa saat. Rallyn menghapus air matanya lalu menarik napasnya panjang lalu membuangnya perlahan-lahan. Rallyn sudah siap untuk bersaing dengan Kalila untuk mendapatkan cinta Jo sepenuhnya.
"Astaghfirullah, Pak Arka." Rallyn baru sadar bahwa sedari tadi dirinya sudah menyakiti Arka.
"Tidak apa Rallyn. Kamu sudah baikan?" tanya Arka.
"Ya." Rallyn mengangguk sembari mengambil bedak dari dalam tasnya. Dia bercermin di sana dan memoles wajahnya dengan bedak itu agar tidak terlihat habis menangis.
"Pak, apa masih terlihat seperti baru menangis?" tanya Rallyn setelah memakai bedaknya.
Arka hanya menggelengkan kepala. Dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Rallyn berubah menjadi seperti itu.
"Kamu sudah tahu mereka–"
"Sudah. Aku datang ingin merebut suamiku dari perempuan itu," jelas Rallyn.
"Ya. Lakukan apa yang sehari kamu lakukan. Kalila datang hanya ingin menguasai harta Pak Arshka, silakan perjuangkan rumah tangga kamu. Saya di sini mendukung kamu seratus persen," jelas Arka.
__ADS_1
Bersambung