
Setelah depan pintu keluar itu, Kalila menatap Arka dengan tatapan tajam. Dia mendelik ke arah Arka hingga untungnya bola matanya tidak menggelinding dari tempatnya.
"Kamu akan menyesal karena sudah memperlakukan aku seperti ini, Arka!" tegas Kalila dengan menekan kata terakhirnya.
"Memangnya, kamu siapa? Sedikit pun aku tidak takut," sahut Arka sembari menunjuk wajahnya Kalila.
"Aku ini ibu kandung Alika dan sebentar lagi akan menjadi istrinya Ashka," jelas Kalila penuh percaya diri.
"Lo punya malu, gak, sih Kalila? Atau mungkin urat malunya sudah putus?" ucap Julia dengan tatapan sinis pada Kalila.
"Cewek kayak dia mana ada malunya. Dia udah gak punya malu, dasar muka tembok," sambung Alice.
"Kurang ajar, kalian semua ya. Awas kalian! Kalau Ashka sudah sembuh, aku pastikan kalian akan dipecat dari perusahaan ini!" Kalila langsung pergi setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Dasar perempuan gila. Pak Ashka gal mungkin sembuh dalam waktu dekat," ucap Arka pada Kalila yang sudah pergi dan tak menghiraukan perkataannya.
"Kok, Pak Arka ngomongnya gitu?" tanya Alice penasaran.
"Karena Pak Ashka mengalami kebutaan dan kelumpuhan," sahut Arka yang berhasil membuat dua gadis itu terkejut.
__ADS_1
"Apa! Cacat?" seru Alice dan Julia.
"Kena karma 'kan karena sering bohongin istrinya," sambung Julia.
"Kalau gitu mending Rallyn pergi aja dari kehidupan Pak Ashka. Ngapain ngurusin suami pengkhianat," sambung Alice.
"Kalian apaan, sih. Bukannya doain yang terbaik untuk bosnya malah bicaranya jelek," ucap Arka.
"Itu karena bos kitanya yang kelakuannya jelek. Enak sekali dia, saat lagi sehat seenaknya nyakitin Rallyn dan sekarang setelah kena azab, Rallyn yang mengurusi," ucap Julia.
Arka terdiam. Sebenarnya yang dikatakan oleh Julia ada benarnya juga, tapi apa salahnya mendoakan yang terbaik untuk mereka. Semoga setelah ini bos mereka itu tersadar dari semua kekhilafannya.
*******
Di sebuah trotoar. Kalila berjalan dengan memasang wajah masam, dia kesal karena Bu Reni tak memberitahu dirinya di rumah sakit mana Ashka di rawat. Dia ingin sekali menemui Jo untuk melihat keadaannya, dirinya khawatir terhadap kekasihnya itu.
"Kenapa aku tidak menelpon Ashka saja," gumam Kalila. Dia pun mengambil ponselnya dari dalam tasnya lalu segera menelpon Jo.
********
__ADS_1
Di rumah sakit.
Di atas ranjang rumah sakit itu. Jo masih terbaring tapi dia tidak tertidur. Dia menggerakkan tangannya mencari-cari sesuatu.
"Nyari apa, Mas?" tanya Rallyn yang setia menunggu suaminya di sana.
"Aku haus," sahut Jo.
Rallyn pun langsung meraih gelas berisi air putih dari atas nakas lalu memberi suaminya minum. Saat dirinya meletakkan gelas itu lagi, handphone Jo berdering. Rallyn menatap layar ponsel itu dan dia melihat dengan jelas nama Kalila pada layar ponselnya Jo itu.
"Siapa yang menelponku?" tanya Jo yang memang tidak dapat melihat lagi.
Sebenernya Rallyn tak ingin memberi tahu siapa yang menelponnya, tapi dia tidak mungkin membohongi suaminya. Dia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja lalu menerima telponnya.
"Kalila yang menelponmu," ucap Rallyn sembari menempelkan ponsel itu di telinga Jo.
"Bicaralah, aku sudah menerima telponnya," sambung Rallyn dalam hatinya yang kesal.
Rallyn kesal karena Kalila menelpon suaminya, tapi dirinya juga tak mungkin menolak panggilan dari Kalila karena tahu, suaminya akan marah jika dirinya melakukan itu.
__ADS_1
Bersambung