
Setelah seharian melewati hari dengan berbagai kejadian yang mereka alami, kini Rallyn dan Jo sudah berada di rumah dan sudah bersiap untuk istirahat.
"Eh beneran kamu gak marah tadi? Davina meluk-meluk aku lho," ucap Jo sembari merapikan tempat tidur.
"Ngapain cemburu, ngaco aja kamu," ucap Rallyn cuek.
"Aku tanyanya marah kenapa kamu nyambung ke cemburu?" ucap Jo sembari menatap Rallyn.
"Hayoh, cemburu ya," ucap Jo lagi.
"Ih apa sih kamu. Nggak, aku gak marah aku percaya kamu setia," ucap Rallyn.
"Setia apa emang kamu gak cinta? Berasa gak disayangi karena kamu gak cemburu," ucap Jo.
"Ya emang aku aku gak cinta cuma lagi berusaha menumbuhkan cinta. Dah lah aku mau mandi dulu," ucap Rallyn sembari beranjak dari duduknya.
"Mandi? Dari tadi kamu belum mandi?" Jo menatap Rallyn heran.
"Belum. Mau mandiin aku?" tanya Rallyn.
"Wah dengan senang hati," ucap Jo sembari beranjak dan segera menghampiri Rallyn!
"Yang gila juga pernah waras, ya kali aku mau mandi bareng kamu. Mandi barengnya nanti aja kalau kita udah tempur," ucap Rallyn.
"Ya udah kita tempur dulu yuk habis itu mandi wajib bareng," ucap Jo.
"Nanti aja deh, aku masih takut aku lihat ukuran ular kamu gede banget," ucap Rallyn sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Emang kamu pernah melihatnya?"
"Nggak sih, cuma merasakan sedikit pas kamu nindih tubuh aku," sahut Rallyn sambil terus berjalan.
Jo terdiam sembari menatap kepergian Rallyn, sebuah senyuman terukir di bibirnya entah mengapa ada rasa yang tak bisa ia jelaskan saat berbincang tentang masalah pribadi dengan Rallyn.
Baru sekitar lima menit Rallyn di dalam kamar mandi tiba-tiba mati lampu dan semua langsung terlihat gelap.
"Aaaaaaaaa!" teriak Rallyn dari dalam kamar mandi.
"Rallyn! Rallyn kamu kenapa?" tanya Jo.
Jo langsung panik saat mendengar Rallyn berteriak di dalam kamar mandi, dengan cepat ia mencari-cari senter yang biasa ia, simpan di dalam laci!
"Tolong! Tolong aku! Aku takut," seru Rallyn.
__ADS_1
Rallyn memang fobia terhadap kegelapan, waktu usianya lima tahun ia pernah tersesat di hutan dan semalaman terjebak di hutan itu dan kejadian itu membuat dirinya takut pada kegelapan.
Setelah menemukan senter kecil itu, Jo langsung membuka pintu kamar mandi dan langsung menghampiri Rallyn.
"Rallyn, kamu kenapa?" ucapnya sembari mencari Rallyn di dalam kamar mandinya.
Rallyn langsung memeluk Jo dengan erat! "Aku takut gelap, tolong aku," ucap Rallyn yang saat itu sudah menangis deras.
Jo memeluk Rallyn balik, "jangan takut, ada aku di sini," ucap Jo dengan suara lembut.
"Sudah ada cahaya, aku bawa senter," ucap Jo lagi.
Rallyn masih menyusupkan wajahnya di dada Jo dengan mata yang tertutup rapat, ia tak berani membuka matanya karena takut melihat kegelapan.
"Apa lampunya sudah menyala?" tanya Rallyn yang masih menutup matanya.
"Belum tapi aku bawa senter kecil, kamu buka mata," ucap Jo lagi.
Rallyn membuka matanya perlahan dan memang di kamar mandi itu sudah ada sedikit penerangan.
"Kamu melihat aku?" tanya Rallyn.
"Iya, kenapa?" tanya Jo.
"Kalau tahu begini, setiap hari aja mati lampu," ucap Jo lagi.
"Kamu jahat, kamu tahu kamu sengaja ya mengerjai aku."
"Tidak. Sekarang serius mati lampu." Jo berusaha melepaskan pelukannya dari Rallyn tapi Rallyn malah mengeratkan tangannya di tubuh Jo.
"Kamu gak mau lanjut mandi?" tanya Jo.
"Aku takut."
"Sedang dalam keadaan seperti ini kamu yakin masih memeluk aku? Aku dapat melihat semua tubuh kamu lho," ucap Jo.
"Makanya kamu tutup mata."
"Mana bisa meski dalam penerangan yang minim seperti ini, aku masih bisa melihat kamu dengan jelas."
"Jangan, aku malu," ucap Rallyn.
"Kalau gitu aku matikan senternya biar gak kelihatan."
__ADS_1
"Jangan, aku takut," ucap Rallyn lagi.
"Lalu aku harus apa? Melihat kamu gak boleh mau matiin senternya juga gak boleh," ucap Jo.
"Aku kalah. Ambilkan handuknya di sana, aku gak mau mandi," ucap Rallyn.
"Ya udah lepas tangan kamunya."
"Nggak mau, aku takut."
"Dasar aneh." Jo mulai melangkah tapi tak melepaskan pelukannya dari Rallyn, mereka berdua berjalan dengan tetap berpelukan!
Setelah Rallyn memakai handuknya, ia langsung memeluk Jo lagi!
"Pelukannya nanti aja di tempat tidur," ucap Jo.
Jovanka langsung memangku tubuh Rallyn dan membawanya ke luar kamar mandi!
"Rallyn ada apa? Kenapa kamu berteriak?" ucap Bu Reni yang ternyata sudah berada di dalam kamar mereka dengan membawa lampu darurat.
Jo yang sedang memangku Rallyn pun terdiam sembari menatap sang ibu.
"Kamu ini kalau main-main jangan keterlaluan," ucap Bu Ningrum pada Jo.
"Bukan begitu, Nek. Rallyn takut kegelapan," ucap Jo tanpa menurunkan tubuh Rallyn terlebih dahulu.
"Kirain ada apa? Mama takut kamu main tangan sama menantu Mama," ucap Bu Reni.
"Maaf, Ma, Nek. Aku emang fobia terhadap kegelapan," ucap Rallyn.
"Sekarang sudah terang lagi, sudah ada lampu darurat. Kamu jangan takut lagi," ucap Jo sembari menurunkan tubuh Rallyn.
"Kalau gitu Mama sama Nenek pergi dulu, jangan takut lagi," ucap Bu Reni pada Rallyn.
Bu Reni dan Bu Ningrum pun langsung berjalan keluar dari kamar mereka dengan meninggalkan satu lampu darurat di kamar itu.
Setelah Bu Reni dan Bu Ningrum pergi, Rallyn menatap Jo dengan tangannya yang sedang mengencangkan handuknya.
Ada rasa malu karena tingkahnya yang tiba-tiba memeluk Jo dalam keadaan tak sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.
"Jangan malu, kita sudah menikah jadi kamu harus membiasakan diri menapakkan diri seperti itu," ucap Jo pada Rallyn.
Rallyn hanya terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1