Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 49 Bertahan


__ADS_3

"Jangan, Jul biarkan saja mereka. Mending kita pergi dari sini," ucap Rallyn sembari menarik Julia kembali ke luar dari kafe itu.


"Kamu apaan, sih, Lyn. Suami kamu mesra-mesraan sama perempuan lain, kok malah dibiarin, jangan karena dia orang kaya yang segala punya, kamu jadi diam aja kayak gini. Aku gak terima ya, kamu diginiin sama Pak Ashka," protes Alice.


"Biarkan saja mereka. Udahlah, nanti aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri," ucap Rallyn dengan suara pelan.


Sebenarnya Rallyn sangat-sangat cemburu tapi dia harus menahan amarahnya demi Alika dan juga nama baik suaminya. Baginya, melabrak Jo akan melibatkan pertengkaran antara mereka dan hal itu tidak baik untuk Alika yang masih kecil dan juga keributan diantara mereka bisa saja mencoreng nama baik Jo sebagai pemilik perusahaan terbesar di kotanya.


Rallyn yang selalu memikirkan dampak akhir dari semua perbuatannya pun selalu bisa meredam emosinya. Dia tak ingin menanggung dampak buruk atas kecerobohan yang dia lakukan, karena itulah Rallyn selalu berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan apa-apa.


"Lyn, aku gak ngerti deh sama kamu. Dia itu mantan istrinya pak Ashka. Bisa saja mereka kembali berhubungan di belakang kamu," ucap Julia sembari terus berjalan mengikuti langkah Rallyn.


Setelah mereka berada di luar kafe itu. Rallyn baru melepaskan tangan Julia dan Alice, dia berdiri di sana lalu menatap Jo dan Kalila yang terlihat kian mesra bahkan saat itu terlihat Jo menggenggam tangan Kalila. Rallyn memejamkan matanya menahan air mata yang sudah berdesakan ingin keluar dari matanya.


Sakit, perih, kecewa, marah dan sedih bercampur jadi satu. Saat ini hatinya hancur melihat sang suami begitu dekat dengan mantan istrinya apa lagi dia melihat Alika yang bahagia saat bersama mereka.


"Rallyn, kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Alice sembari mengelus lengan atas Rallyn.


Sebenarnya dirinya tahu bahwa Rallyn pasti sedih. Dirinya hanya basa-basi saja agar Rallyn tidak terhanyut dalam kesedihan.


"Ya, aku BBS," ucap Rallyn sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


"BBS? Apaan, tuh?" tanya Alice dan Julia secara berbarengan.


"BBS ... baik-baik saja, baik-baik sayang atau bisa juga baik-baik sendiri," sahut Rallyn sembari tertawa kecil. Sebisa mungkin dirinya menyembunyikan kesedihannya karena tak ingin membuat dua temannya khawatir padanya.


"Ada-ada aja," ucap Alice.


"Kamu, kok bisa, sih sekuat ini? Apa rahasianya?" tanya Julia.


"Apa maksud kamu? Dia itu ibunya Alika, wajar saja kalau mereka bertemu dan lagi aku tidak terlalu memikirkan tentang mereka. Aku oke, aku baik-baik saja, masih ada pak Arka yang bisa aku jadikan cadangan," ucap Rallyn.


"Yang serius kamu? Jangan main api kalau gak mau terbakar. Pak Arka gantengnya gak jauh beda dengan pak Ashka nanti kamu suka beneran lagi sama pak Arka," ucap Julia.


"Udah ah. Hayu indit ti dieu, aing keuheul ka si itu," ucap Rallyn dengan menggunakan bahasa Sunda.


"Apa tuh artinya?" tanya Alice.


"Ayo pergi dari sini, aku kesal sama si dia," ucap Julia.


"Kamu ngerti bahasa Sunda?" tanya Rallyn.

__ADS_1


"Dari namaku saja seharusnya kamu tahu kalau aku ini orang Sunda," sahut Julia.


"Apa hubungannya dengan nama Julia dan Sunda?" tanya Alice.


Mereka terus berbicara sambil terus berjalan mendekati jalan raya. Rallyn terus berusaha melupakan pemandangan menyakitkan tadi agar tak sampai meneteskan air matanya.


"Taksinya udah datang, tuh kayaknya," ucap Rallyn. Mereka pun langsung menaiki taksi online yang sebelumnya sudah dipesan oleh Alice.


Setelah mereka menaiki mobil itu, drivernya pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali driver itu curi-curi pandang pada tiga gadis penumpangnya itu.


"Mas, kalau mau kenalan. Kenalan aja jangan diam-diam memperhatikan gitu," ucap Rallyn.


"Maaf, Mbak bukan maksud saya bersikap tidak sopan. Saya hanya memastikan penumpang saya ini benar-benar adanya," sahut sang sopir.


"Lah, emang kamu pikir kita ini makhluk halus yang bisa pergi tanpa permisi?" ucap Alice.


"Bukan begitu. Saya rasa saya sedang bermimpi karena ditumpangi oleh tiga bidadari," ucap sopir itu.


"Bisa aja, Masnya. Kalau mau gombal jangan sama kita karena gak akan mempan," ucap Julia.


********


Di kafe.


Kalila tahu bahwa Jo selalu memperhatikan dirinya karena itulah dirinya terus bersikap baik bahkan sangat baik terhadap Alika.


"Jangan panggil aku Kalila kalau hari ini aku tidak berhasil mendapatkan Ashka lagi," batin Kalila dengan senyuman menggoda Jo.


"Tante. Tante pasti kangen banget ya sama anak, Tante?" ucap Alika.


"Iya, Sayang. Kangen banget," sahut Kalila dengan air mata yang mulai menetes dari sudut matang.


"Jangan menangis, Kalila. Alika ada di sini bersamamu," ucap Jo dengan suara lembut.


"Aku ingin sekali bersamanya. Memeluknya setiap hari, merawatnya dan mengurus semua kebutuhannya dan juga dirimu," ucap Kalila.


"Akan ada saatnya kamu bersamanya dan ada saatnya kamu tanpanya. Kita sudah tak sama-sama lagi, Kalila," ucap Jo.


"Aku sudah bilang aku ingin kembali," ucap Kalila.


"Sudah ada Rallyn di hatiku."

__ADS_1


"Tapi masih ada aku juga di dalam sana. Aku tahu kamu masih menyimpan cinta untukku," ucap Kalila.


"Jangan bahas ini. Anakku belum cukup usia untuk mendengar percakapan kita," jelas Jo.


"Aku ingin kita bertemu hanya berdua saja. Aku ingin bicara tentang kita," ucap Kalila sembari menggenggam tangan Jo.


"Aku akan mengatur waktu untuk kita," ucap Jo.


"Pa. Papa udah kenal lama ya sama tante Kalila? Papa akrab banget dengan tante Kalila," ucap Alika. Meski Alika tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh papanya tapi dia dapat melihat kedekatan diantara Jo dan Kalila.


********


Di kediaman Jo.


Sudah hampir maghrib tapi Jo dan Alika belum pulang juga. Bu Reni dan Bu Ningrum menunggu mereka di ruang keluarga sedangkan Rallyn sedari tadi terus di kamar dan tak keluar dari kamarnya meski hanya sebentar.


Di kamar Rallyn.


Rallyn duduk di tempat tidurnya dalam hati yang dipenuhi amarah sekaligus rasa takut. Dia takut Jo tidak pulang, dia takut Jo benar-benar lebih memilih Kalila dibandingkan dengan dirinya. Tak bisa dipungkiri dirinya sudah sangat mencintai Jo dan dirinya tak ingin berpisah dari laki-laki yang kini menjadi suaminya itu.


"Ya Allah, kenapa begini jadinya? Disaat aku sudah benar-benar mencintai dirinya, mantan istrinya kembali dan mengganggu hubungan aku dengannya yang baru saja membaik. Aku mencintainya, tolong jaga dia hanya untukku, jangan biarkan perempuan itu masuk ke dalam rumah tangga kami," batin Rallyn.


Tak lama azan maghrib terdengar sudah berkumandang tapi Jo belum juga kembali. Rallyn menarik napasnya perlahan lalu membuangnya perlahan untuk menenangkan dirinya. Setelah itu dia berjalan memasuki kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Dalam suasana hati yang sedang diselimuti kesedihan, Rallyn tetap menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Seperti biasa setelah dirinya selesaikan sholat, Rallyn akan bercerita pada Tuhannya tentang apa yang dia rasakan dan dia tak pernah lupa membawa nama suaminya di dalam doanya.


Tak sampai sepuluh menit, Rallyn sudah selesai dengan kewajibannya. Dia masih duduk di atas sajadahnya dan baru membuka mukenah nya.


Jo masuk ke dalam kamarnya lalu langsung mencium kening Rallyn seperti pada hari-hari sebelumnya. Sedikit pun Jo tidak terlihat merasa bersalah karena sudah membohongi Rallyn.


"Baru selesai shalat ya?" tanya Jo.


"Seperti yang kamu lihat," sahut Rallyn singkat. Rallyn langsung merapikan alat shalatnya dan langsung berjalan menuju pintu kamarnya.


Tiba-tiba dari belakang, Jo memeluk Rallyn lalu mencium daun telinganya. Jo dan sekali tak mengubah kebiasaannya meski dirinya baru bertemu dengan Kalila.


"Lepaskan aku," ucap Rallyn dengan nada ketus.


"Kamu kenapa hemm? Ada masalah apa?" tanya Jo karena tak biasanya Rallyn seperti itu padanya.


"Jangan tanya padaku tapi tanyalah pada dirimu sendiri," ucap Rallyn lalu langsung keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Jo hanya diam dan membiarkan Rallyn pergi. Dia tak mengerti dengan apa yang diucapkan Rallyn, setahunya dirinya tidak membuat kesalahan pada Rallyn.


Bersambung


__ADS_2