
"Udah ah, jangan bikin aku terbang mulu nanti kalau tiba-tiba sayap kamu patah sebelah, aku bisa terjatuh dan aku tidak tahu apakah aku bisa bangkit lagi atau tidak," ucap Rallyn.
"Kalau pun sayap aku patah, aku tidak akan pernah membiarkanmu terjatuh apalagi sampai tidak bisa bangkit lagi. Aku akan selalu berusaha menyelamatkan kamu dari segala bahaya yang datang mendekatimu," ucap Jo yang saat itu masih merangkul tubuh Rallyn dengan sebelah tangan sementara tangan satunya asyik mengelus kepala hingga pipi Rallyn.
"Itu fisik, gimana kalau hati? Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini. Bisa saja suatu saat kamu bosan padaku dan meninggalkan aku," ucap Rallyn.
Jo tersenyum lalu menempelkan keningnya pada kening Rallyn lalu berkata.
"Tidak akan. Cintaku tulus hanya untuk kamu. Saat ini, besok, bulan depan, tahun depan dan selamanya cintaku hanya untuk kamu."
"Aku rasa sekarang aku sedang berada di langit ke tujuh nih. Awas ya jangan sampai aku jatuh," ucap Rallyn.
Mereka tetap pada posisinya dengan tangan saling memegang punggung satu sama lain, tak ada kata lagi yang terucap dari mulut mereka. Kini, hanya ada keheningan di dalam kamar itu, hanya terdengar suara deru napas keduanya yang saling bertabrakan.
"Aku cinta sama kamu, Istriku," bisik Jo setelah beberapa menit mereka hanya saling diam.
"Aku juga cinta sama kamu," sahut Rallyn lalu bangkit dari tempat tidurnya.
"Mandi sana! Kamu bau keringat," ucap Rallyn setelah ia berdiri membelakangi Jo.
"Bau, kamu bilang. Aku kerja tanpa mengeluarkan keringat, kok bau keringat?" ucap Jo.
"Suamiku, Sayangku, aku mau menyiapkan makan malam untuk kita semua. Kamu mandilah sana habis itu turun dan temani Alika mengerjakan PR nya," jelas Rallyn.
"Siap, Tuan putri. Aku akan mandi dan akan memakai parfum yang banyak habis itu kita main perang-perangan ya."
"Belum satu bulan. Perjanjiannya libur satu bulan," ucap Rallyn.
"Kalau nunggu sampai satu bulan bibit yang kita tanam sebelumnya akan sulit tumbuh karena gak disiram-siram sampai sebulan lamanya," ucap Jo.
"Emang dasarnya aja udah gak tahan."
"Ya, kalau kamu tahu kenapa harus mencegah aku untuk bercocok tanam lagi? Lagipula aku bercocok tanam di sawah aku sendiri," ucap Rallyn.
"Terserah kamu mau bilang apa." Rallyn segera keluar dari kamarnya! Dia berjalan pelan menuruni anak tangga dan langsung menuju dapur rumah itu.
"Rallyn," ucap Bu Reni saat Rallyn melewati ruang keluarga.
"Iya, Ma ada apa?" sahut Rallyn setelah menghentikan langkahnya.
Rallyn pun berjalan menghampiri sang ibu mertua lalu duduk di samping sang ibu! Dia menatap ibu mertuanya itu dan menunggunya berbicara.
"Kamu mau ngapain ke dapur?" tanya Bu Reni pada Rallyn.
__ADS_1
"Aku mau bantuin Mbak Lela masak," jawab Rallyn.
"Bisa bantu mama? Sebentar saja," ucap Bu Reni lagi.
"Boleh, apa yang bisa aku bantu?" tanya Rallyn antusias.
"Pundak mama rasanya pegal sekali. Tolong pijat sebentar saja, sebelumnya maaf ya karena mama merepotkan kamu."
"Boleh, Ma kebetulan ibuku bilang pijatan aku enak. Sini aku pijat." Rallyn langsung meraih pundak sang ibu mertua lalu menekan-nekannya perlahan.
"Urat-uratnya pada kaku pantas saja pegal. Nanti sebelum tidur aku pijat semua tubuh Mama deh, dari tangan, kaki dan punggung," ucap Rallyn.
"Pijatan kamu enak banget tapi gak usah, besok mama bisa pijat di tempat biasa mama merawat kesehatan tubuh aja kebetulan di sana pelayanannya lengkap," ucap Bu Reni.
Bukannya tak mau dipijat oleh sang menantu tapi Bu Reni merasa tidak enak dan masih canggung dikarenakan Rallyn baru berapa bulan menjadi menantunya.
"Kalau cuma pijat biasa aku bisa, Ma jadi, mama gak usah keluar rumah hanya untuk pijat saja lagipula seharian aku gak ada kerjaan, aku bosan hanya berdiam diri di kamar," jelas Rallyn.
"Kalau bosan kenapa tidak pergi ke luar? Ke Mall misalnya. Biasanya perempuan seusia kamu senang berbelanja," ucap Bu Reni.
"Ke Mall juga ngapain, Ma semua kebutuhan aku di rumah ini sudah terpenuhi dan keperluan pribadi aku juga semuanya udah Mama belikan," ucap Rallyn.
"Beli baju mungkin, atau sandal, sepatu, tas. Biasanya anak-anak muda suka mengoleksi tas-tas mewah."
"Mama, gimana kalau kapan-kapan kita ke rumah kakek dan nenek lagi? Aku pengen ketemu sama kakek dan nenek lagi," ucap Alika.
"Kakak dan nenek?" gumam Bu Reni sambil mengernyitkan dahinya.
"Mungkin yang dimaksudkan Alika adalah kedua orang tuaku, Ma. Aku dan Mas Jo pernah membawanya ketemu dengan mereka," ucap Rallyn.
"Weekend besok kita pergi ke rumah kakek dan nenek ya," ucap Rallyn pada Alika.
"Asyik! Asyik!" seru Alika sambil sorak hore.
Bu Reni tersenyum melihat cucunya yang begitu bahagia. Dirinya tak menyangka kedua orang tua Rallyn begitu baik sampai membuat Alika merindukan mereka.
Sementara itu Rallyn masih cekatan memijat pundak Bu Reni hingga tidak terasa mereka sudah menghabiskan waktu hampir sepuluh menit mengobrol di sana.
"Udah, Nak. Udah enakan, terima kasih, ya," ucap Bu Reni.
"Wih lagi pijat memijat nih. Aku boleh dong minta dipijat?" ucap Jo sembari terus berjalan menghampiri mereka.
"Katanya mau masak, kok main pijat-pijatan?" tanya Jo sembari menghempaskan bokongnya ke kursi itu.
__ADS_1
"Kalau iri nanti aku bisa pijat kamu juga," ucap Rallyn.
"Terima aksih, Sayang," ucap Jo sembari tersenyum lebar.
"Alika, sini dong." Jo melambaikan tangannya pada Alika agar putri tercintanya itu mendekat padanya.
"Udah ngerjain PR belum?" tanya Jo setelah memangku tubuh Alika dan mendudukkannya di pahanya.
"Belum, aku lagi nungguin Eyang yang belum siap," sahut Alika.
"Sama papa aja yuk!" ucap Jo.
"Papa suka marah kalau Alika salah. Aku gak mau, aku maunya sama Eyang kalau gak sama Mama," ucap Jo.
"Makanya kalau ngajarin anak jangan pakai hati jangan pakai emosi. Jadi, gak mau sama kamu padahal kamu papanya Alika," u untuk Bu Ningrum yang baru muncul setelah seharian beristirahat di dalam kamarnya.
"Gak marah, Nek cuma kadang suka kesel aja gitu," timpal Jo membela diri.
"Biar sama mama aja nanti ya, Sayang," ucap Rallyn dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih, ya, Sayang karena sudah memijat mama," ucap Bu Reni pada Rallyn.
"Iya, Ma aku senang, kok melakukannya," ucap Rallyn.
"Ya udah, Ma. Ayo kita kerjakan PR!" Alika menarik tangan Rallyn dan membawanya ke depan televisi tempat biasa dirinya mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh ibu guru di sekolahnya.
"Memangnya PR apa hemm?" tanya Rallyn sembari duduk di samping meja belajar Alika.
"PR nya membuat keluarga. Aku udah bikin gambar Papa, Mama dan aku tinggal diwarnai saja," jelas Alika.
Rallyn melihat kertas gambar itu dan sebuah senyuman pun mengembang di bibirnya.
"Gambarnya cantik, tadi Alika bilang udah bikin gambar Papa, Mama dan Alika lalu siapa orang-orang ini?" tanya Rallyn sambil menyentuh deretan gambar manusia di samping gambar yang Alika sebutkan tadi.
"Yang disebelah kanan ada Eyang sama Mbah dan yang di sebelah kanan ada Kakek dan Nenek dan yang dibelakang ini ada Mbak Lela," jelas Alika.
"Alika bikin gambar semua orang rumah?" tanya Rallyn.
"Iya, ibu guru bilang gambar keluarga dan inilah semua keluarga Alika," jawab Alika.
Mendengar semua perbincangan antara Rallyn dan Alika. Bu Reni dan semua orang di sana tersenyum penuh rasa bangga, bagaimana tidak, diusianya yang masih lima tahun itu, Alika sudah hapal betul siapa keluarganya bahkan dia menganggap Lela juga keluarganya padahal banyak anak-anak lain yang membedakan antara pengasuhnya dengan orang yang benar-benar keluarganya.
Bersambung
__ADS_1