Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 12 perhatian


__ADS_3

Setelah hampir sepuluh menit Rallyn menunggu, akhirnya Jo keluar dari kabar mandi.


Jo berjalan melewati Rallyn yang sedang duduk di tepi ranjang, dia nampak biasa saja meski tak mengenakan pakaian dan hanya mengenakan handuk saja yang melilit di pinggangnya.


Begitu pun dengan Rallyn, dia nampak biasa saja dan tak menampakkan ekspresi apa pun meski tahu Jo tidak menggunakan baju, ia tahu laki-laki itu tidak akan berbuat yang aneh-aneh selama dirinya masih berada di dalam rumahnya.


"Bersiaplah! Kita akan pergi berdua malam ini," ucap Jo.


"Pergi ke mana?" tanya Rallyn tanpa menatap Jo yang sedang memakai pakaiannya.


"Kemana pun yang kamu mau," sahut Jo.


"Kalau aku gak mau pergi kemana-mana gimana?" tanya Rallyn.


"Kamu pasti mau bergabung dengan teman-teman kamu." Jo menatap Rallyn sekilas lalu kembali fokus pada kemeja yang sedang ia pakai.


"Apa boleh?" tanya Mawar.


"Tentu saja. Dengan senang hati aku akan mengantar kamu ke sana," ucap Jo.


Rallyn tersenyum lebar lalu bangkit dari duduknya! Dia akan membersihkan diri dan bersiap untuk pergi menyusul teman-temannya.


Baru Rallyn hendak melangkah memasuki kamar mandi, ia menghentikan langkahnya dan berbalik arah menjadi menghadap Jo. Dia meraih kerah kemeja Jo lalu merapikannya.


"Udah tua, pakai baju masih belum rapi. Kemeja tuh kerahnya keluar bukan ke dalam," ucap Rallyn sembari terus merapikan kerah kemeja Jo.


Jo hanya tersenyum dengan perlakuan Rallyn yang tidak pernah terduga itu. Tanpa sedikit pun komentar, Jo membiarkan Rallyn terus melakukan apa yang diinginkannya.


"Aku mau mandi dulu. Kamu kalau mau istirahat, istirahat saja dulu," ucap Rallyn lalu segera berjalan memasuki kamar mandi!

__ADS_1


Jo menatap Rallyn dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Gadis aneh, dia angkuh tapi memiliki hati yang baik dan pengertian," batin Jo.


Di ruang keluarga.


Pak Hardi dan Bu Herlina sedang menonton televisi bersama, mereka duduk bersebelahan di satu kursi yang sama.


"Bu, gimana kabar hari ini?" tanya Pak Hardi pada sang istri.


"Kabar apa, Yah? Ayah pasti tahu sekarang ibu sedang dalam keadaan baik-baik saja," ucap Bu Herlina.


"Maksud Ayah, Rallyn. Apa hari ini dia ada uring-uringan seperti kemarin?" jelas Pak Hardi.


"Tadi pas pulang kerja dia tangis sambil teriak-teriak. Oh ya, dia juga memecahkan gelas dan pot bunga yang ada di kamarnya," jelas Bu Herlina.


"Kasian dia, Bu. Kenapa nasib anak kita seperti itu?"


"Semoga keadaan ini tidak akan lama. Ayah tidak tega melihat Rallyn terus-menerus bersedih."


"Ayah, Ibu, maafkan saya karena terlalu memaksakan kehendak. Tolong mengertilah akan keadaan saya, saya janji akan membuka Rallyn bahagia," ucap Jo pada Pak Hardi dan Bu Herlina.


Saat dirinya keluar dari dalam kamar tanpa sengaja ia mendengar percakapan kedua mertuanya dan mau tidak mau dirinya harus berbicara pada mereka tentang yang sedang mereka khawatirkan.


"Kami sebagai orang tua pasti mengerti tapi bagaimana dengan Rallyn? Dia belum mengerti akan hubungan pernikahan dan lagi dia juga belum pernah memikirkan tentang pernikahan. Mungkin butuh waktu lama untuk dia bisa menerima keadaan ini," ucap Pak Hardi.


"Saya akan menanti sampai dia mau menerima saya. Ayah dan Ibu jangan khawatir, saya tidak akan membuat Rallyn tersakiti."


"Ayo kita pergi sekarang!" ujar Rallyn yang sudah siap untuk pergi. Saat itu Rallyn sudah berdandan dan sudah membawa tas kecil yang selalu menemaninya jalan-jalan.

__ADS_1


Semua orang yang sedang berada di ruangan itu pun menoleh ke arah Rallyn.


"Kamu sudah siap?" tanya Jo.


Rallyn tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Ayah, Ibu, aku dan Rallyn pergi dulu ya. Kami akan pergi berdua ke suatu tempat," ucap Jo.


"Kalian yakin akan pergi berdua?" tanya Bu Herlina.


"Iya, Bu. Ibu mau ikut juga?" ucap Rallyn.


"Bercanda aja. Masa Ibu ikut dengan kalian nanti Ayah sama siapa di rumah?" ucap Pak Hardi.


"Ayah juga ikut kalau mau."


"Pergilah! Ingat jangan pulang malam-malam," ucap Bu Herlina.


"Kami sudah menikah, Bu mau menginap pun tidak akan ada yang menggerebek kami lagi," ucap Rallyn.


Perkataan Rallyn membuat Pak Hardi dan Bu Herlina terdiam. Mereka merada bahwa mereka sudah mengingatkan Rallyn pada kejadian malam itu.


"Kalau gitu kami pergi sekarang," ucap Jo.


Rallyn dan Jo pun langsung berjalan keluar dari rumahnya!


Pak Hardi dan Bu Herlina hanya diam dan menatap kepergian mereka.


"Anak kita memang aneh, tadi dia nangis-nangis meminta tolong agar ibu melepaskannya dari pernikahan mereka dan sekarang ... lihatlah, dia seperti bahagia sekali mau pergi bersama dengan Jovanka," ucap Bu Herlina.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2