Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 21 kamu mau apa?


__ADS_3

Setelah seharian menghabiskan waktu bersama Alika, kini mereka sudah pulang ke rumah dan kini mereka sudah selesai dengan segala urusan pribadinya.


Di balkon kamar Jovanka.


Rallyn berdiri sembari menatap taman pribadi yang terdapat di samping rumah mewah itu.


"Terima kasih sudah mau menghabiskan waktu bersama Alika," ucap Jo yang baru tiba di sana.


Rallyn hanya diam dan hanya menanggapi perkataan Jo dengan senyuman tipis.


"Kamu mau kan tinggal di sini?" tanya Jo.


Rallyn menatap Jo dengan tatapan aneh.


"Maksud aku untuk malam ini. Aku tahu kamu pasti belum mau tinggal di sini, aku tidak akan memaksa, aku minta untuk malam ini saja. Alika ingin sekali tidur dengan dibacakan cerita pengantar tidur oleh mamanya," ucap Jo lagi.


Rallyn menundukkan kepalanya tanpa menjawab sedikit pun pertanyaan Jo.


"Alika tidak pernah ditidurkan oleh mamanya. Rallyn, aku sudah terlanjur mengenalkan kamu sebagai mamanya," ucap Jo lagi.


"Aku akan menginap di sini," ucap Rallyn singkat.


"Terima kasih. Kalau kamu gak mau tidur sama aku, kamu boleh tidur sama Alika. Kamar Alika lumayan luas cukuplah untuk kalian berdua," ucap Jo.


"Terima kasih," ucap Rallyn.


"Kenapa berterima kasih? Aku tidak melakukan apa-apa untukmu," ucap Jo sembari menatap Rallyn.


"Kamu tidak memaksa aku untuk tidur di sini bersama kamu."


Jo tersenyum lalu menaikkan kedua belah bahunya.


"Kalau aku maksa nanti kamu pergi," ucapnya.


"Bukan pergi lagi tapi aku mau lari. Lari sampai jauh dari kamu," ucap Rallyn.


"Papa, Mama boleh aku tidur sama Papa sama Mama?" tanya Alika yang berdiri di samping tempat tidur Jo sambil memeluk bantal guling kesayangannya.


Jo dan Rallyn menoleh ke belakang secara bersama-sama dan langsung melihat sosok Alika yang sudah siap untuk tidur.


"Mama akan tidur di kamarmu," ucap Rallyn.


"Papa juga?" tanya gadis kecil itu.


"Tidak. Papa di sini," ucap Jo.


"Tapi aku maunya tidur sama Papa sama Mama juga," ucap Alika lagi.


"Bagus Alika, Papa juga maunya begitu," batin Jo.


Rallyn menatap Jo lalu menatap Alika lagi.


"Mm, ya udah deh. Ayo kita tidur," ucap Rallyn sembari berjalan masuk ke dalam kamar.


Jo langsung berbalik badan menjadi membelakangi Rallyn dia tersenyum gembira sambil berucap dalam hatinya, "yes! Yes!" Tak lupa ia menggerakkan tangannya yang terkenal naik turun tapi dengan gerakan pelan agar Rallyn tak mencurigainya.


Setelah Rallyn dan Alika sudah rebahan di atas tempat tidurnya, Jo baru berjalan menghampiri mereka berdua!


"Hmmm, hmmm, hmmm." Rallyn bersenandung sambil mengelus-elus kepala Alika agar anak itu tertidur.


Jo duduk di sisi tempat tidur sebelah kiri, tatapannya terus tertuju pada Alika dan Rallyn yang sudah berbaring di sana.

__ADS_1


"Papa, peluk aku," ucap Alika.


"Tapi kamu sudah dipeluk mama kenapa minta dipeluk papa?" ucap Jo.


"Alika ingin dipeluk sama Mama dan Papa. Emang gak boleh?"


"Boleh-boleh. Apa sih yang nggak buat anak Papa yang cantik ini," ucap Jo sembari membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Alika.


Saat ia memeluk Alika tanpa sengaja tangannya malah menindih tangan Rallyn yang saat itu sudah berada di atas perut Alika.


Rallyn menatap Jo dengan tatapan tajam sedangkan Jo hanya menanggapinya dengan senyuman. Jo malah sengaja mengusap-usap punggung tangan Rallyn.


"Alika, bobo ya ini sudah malam," ucap Rallyn.


Alika tersenyum lalu menutup matanya. Tak butuh waktu lama, akhirnya Alika pun tertidur pulas.


Rallyn segera menarik tangannya dan bangkit dari tidurnya!


"Mau kemana?" tanya Jo.


"Kamar mandi," sahut Rallyn singkat.


"Kamar mandinya di sana," ucap Jo.


Rallyn langsung menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Jo tanpa berkata apa pun juga!


"Ini kamar atau apa? Luas banget," batin Rallyn sambil terus berjalan.


Jo tersenyum sembari menatap kepergian Rallyn.


Di ruangan utama rumah itu.


Bu Reni sedang duduk di kursi di ruang keluarga, ia sedang menonton acara televisi kesukaannya. Sesekali ia melihat ke arah tangga menuju lantai dua rumahnya berharap Rallyn datang untuk menemuinya.


"Bu," ucap asisten rumah tangga Bu Reni.


"Ya, ada apa?" ucap Bu Reni.


"Perempuan itu benar istrinya Mas Ashka?" tanyanya.


"Iya. Kenapa menangnya?" tanya Bu Reni.


"Saya pikir perkataannya tadi pagi itu bohong. Dia terlihat seperti masih ABG."


"Dia sudah selesai kuliah dan sudah bekerja," jelas Bu Reni.


"Tidak kalah cantiknya dari Mbak Kalila," ucap Lela ~ asisten rumah tangga di rumah Bu Reni.


"Jangan asal bicara kamu, jangan sebutkan nama Kalila di depan Rallyn nanti dia tersinggung," ucap Bu Reni.


"Siap, Bu lagipula Lela belum berani bicara dengan Mbak Rallyn."


Di kamar Jo.


"Baru jam delapan, kamu sudah mau tidur?" ucap Rallyn pada Jo.


"Lama sekali di kamar mandi? Habis ngapain?" Bukannya menjawab pertanyaan Rallyn, Jo malah bertanya balik pada Rallyn.


"Aku harus, dimana dapurnya?" tanya Rallyn yang tak ingin menjawab pertanyaan Jo.


"Mari aku antar ke dapur." Jo meraih tangan Rallyn dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Ya, terima kasih," ucap Rallyn.


Jo menarik tangan Rallyn hingga Rallyn jatuh ke dalam pelukannya!


"Kamu wangi sekali," ucap Jo sembari menghirup aroma wangi tubuh Rallyn.


"K_kamu mau apa. Lepaskan aku," ucap Rallyn terbata-bata.


"Tadi aku bilang mau mengantar kamu ke dapur kan," sahut Jo dengan mengeratkan pelukannya hingga Rallyn merasa ketakutan.


"Aku akan lari kalau kamu seperti ini," ucap Rallyn sembari mendorong dada Jo.


"Mau lari kemana? Kamu baru pertama masuk ke dalam rumah ini, kamu bisa nyasar nanti," ucap Jo dengan senyuman penuh arti.


"Tolong, aku belum siap untuk ini," ucap Rallyn mencoba menolak Jo.


"Memang apa yang aku minta? Perasaan dari tadi aku tidak minta apa-apa," ucap Jo.


"Kamu memelukku terlalu kencang, aku takut dan lagi kamu tidak minta izin untuk ini."


"Aku tidak perlu minta izin, semua yang ada dalam diri kamu adalah hak aku."


"Jo, tolong aku akan teriak kalau kamu terus begini."


"Teriak saja paling kamu akan mengganggu tidur Alika dan membuat Mamaku terkejut, lagipula aku hanya memeluk saja tidak lebih dari itu."


"Aku bisa mati karena kehausan, tadi aku sudah bilang kalau aku ingin minum," ucap Rallyn.


Perlahan Jo melepaskan pelukannya dan menarik tangan Rallyn keluar dari kamarnya!


"Ayo, aku antar kamu ke dapur," ucap Jo sambil terus berjalan.


Rallyn hanya diam sambil terus mengikuti langkah Jo!


"Selamat malam, Mam," ucap Jo saat tiba di ruang keluarga dan melihat sang ibu sedang menonton televisi sendirian.


"Malam, Jo, Rallyn," ucap Bu Reni.


"Dapurnya ada di sana. Kamu bisa ambil sendiri minuman apa yang kamu inginkan," ucap Jo pada Rallyn sembari mengarahkan tangannya ke sebuah arah.


Rallyn tersenyum yang dipaksakan lalu berjalan sesuai arah yang ditunjukkan oleh Jo.


"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Bu Reni pada Jo.


"Tentu saja. Kami tidak pernah berantem," sahut Jo.


"Jangan terlalu memaksakan jika Rallyn tidak mau bertahan," ucap Bu Reni.


"Mama kok bicara begitu?"


"Kasian Rallyn kalau dia tidak mau tapi tatap kamu paksa untuk menerima pernikahan kalian."


"Ma, Rallyn pasti bisa menerima pernikahan kami lagipula semua butuh proses kan."


"Mama tahu tapi melihat wajah Rallyn, sepertinya dia begitu tertekan," ucap Bu Reni.


Rallyn memang sedang gugup karena baru mendapatkan pelukan pertama dari Jo bahkan wajahnya sampai berubah pucat karena terkejut dan juga ketakutan.


"Itu ... sebenarnya aku baru saja bercanda dengannya. Dia masih gadis dan belum tahu cinta jadinya dia ketakutan," jelas Jo.


Bu Reni menghela napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.

__ADS_1


"Dasar kamu," ucapnya lalu memukul tangan Jo dengan remote televisi yang ia pegang.


Bersambung


__ADS_2