Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 22 Gimana mau bikin cucu?


__ADS_3

Setelah menghilangkan hausnya dengan meminum air putih yang ia ambil dari dalam kulkas, Rallyn segera kembali dengan membawa teko kecil berisi air dingin dan sebuah gelas.


"Aku suka kehausan dimalam hari jadi, aku mau bawa air minum ke kamar," ucap Rallyn saat melihat Jo yang masih berdiri di tempat tadi.


"Rallyn, bisa kita bicara sebentar?" ucap Bu Reni dengan suara halus.


Rallyn tersenyum lalu mengangguk.


"Duduklah biar aku yang menyimpan minum ini ke kamar," ucap Jo sembari meraih teko dan gelas dari tangan Rallyn.


Rallyn tak menjawab, dia langsung duduk di kursi itu!


"Mau bicara apa, Bu?" tanya Rallyn pada Bu Reni.


"Jangan panggil Bu, panggil saja Mama," ucap Bu Reni.


"Baik, Ma," ucap Rallyn canggung.


"Selama ini tidak pernah ada seorang pun yang menolak Ashka malah banyak gadis-gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkan Ashka tapi kenapa kamu tidak mau padanya? Ashka memang sudah dewasa tapi dia masih terlihat seperti usia dua puluh lima tahun dan juga dia tampan dan lagi dia punya segalanya," ucap Bu Reni yang merasa heran karena Rallyn menolak Ashka mentah-mentah.


"Beda orang beda pandangan. Saya yang hanya orang biasa tidak terlalu memikirkan tentang harta dan rupa wajah, yang penting dia punya pekerjaan tetap meski gaji kecil bertanggungjawab pada keluarga dan tugasnya sebagai suami," jelas Rallyn.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan kamu dengan Ashka?" tanya Bu Reni lagi.


Rallyn terdiam sembari menundukkan kepalanya, ia sendiri tidak tahu bagaimana nasib pernikahan terpaksa itu akan seperti apa.


"Alika sangat menyayangi kamu, tolong buka pintu hati kamu untuk Ashka. Dia memang pernah gagal dalam membina rumah tangga tapi itu bukan kesalahannya," ucap Bu Reni.


"Saya sedang berusaha, Bu. Bukannya saya tidak mau menerima Pak Ashka, seperti yang Ibu tahu kalau saya ini karyawannya di kantor rasanya tidak mungkin kami bersatu. Yang saya khawatirkan adalah restu dari keluarga Pak Ashka meski sebenarnya saat menikah saya tidak tahu siapa laki-laki yang sudah menikahi saya tapi saya tahu laki-laki itu adalah orang kaya," ucap Rallyn.


"Mama ... panggil Mama jangan Ibu. Mama tidak pernah memilih siapa yang akan menjadi menantu Mama, asalkan dia mencintai Ashka dan anaknya udah cukup."


"Rallyn sayang sama Alika dan juga sayang sama aku, Ma," ucap Jo sembari berjalan menghampiri Bu Reni dan Rallyn.


Bu Reni dan Rallyn menoleh ke arah Jo dan menatap Jo secara berbarengan.


"Buktinya kamu gak pernah membiarkan aku kelaparan dan juga kedinginan saat aku tidur," ucap Jo sembari menatap Rallyn.


"Kalau kamu kelaparan nanti kamu sakit dan saat kamu kedinginan tidurmu berisik," ucap Rallyn.


"Tapi kenapa kamu juga sangat perhatian sama Alika?" tanya Jo lagi.


"Karena aku gak tega melihat dia bersedih," sahut Rallyn.

__ADS_1


"Tuh Ma, Rallyn tuh sayang sama aku dan Alika hanya saja dia butuh waktu untuk mencintai aku," ucap Jo penuh percaya diri.


"Assalamualaikum!" seru seseorang dari arah pintu masuk.


Semua orang di sana menoleh ke arah ruang tamu karena mendengar suara langkah seseorang sambil berucap, "waalaikumsalam."


"Ibu," ucap Bu Reni dengan raut wajahnya yang tak percaya ibu mertuanya datang saat malam hari.


Bu Reni segera berjalan menyambut sang ibu mertua! Sedangkan Jo dan Rallyn hanya terdiam di tempatnya.


"Ibu, kenapa gak telpon kalau mau ke sini? Kan aku bisa suruh Ashka atau orang-orang ku untuk menjemput Ibu di bandara," ucap Bu Reni pada sang ibu mertua lagi.


"Gak apa-apa, Ibu mau bikin kejutan sama kalian," ucap Bu Ningrum ~ neneknya Jo.


"Hai, Nek selamat datang," ucap Jo yang langsung memeluk Bu Ningrum dan setelah itu baru mencium punggung tangan Bu Ningrum.


"Ashka, kamu masih seperti yang dulu ya," ucap Bu Ningrum sembari mengelus punggung Jo.


Rallyn tersenyum ramah pada Bu Ningrum lalu menyodorkan tangannya hendak mencium tangan Bu Ningrum.


Bu Ningrum menatap Rallyn dengan tatapan aneh, meski begitu Bu Ningrum tetap menjabat tangan Rallyn dan membiarkan Rallyn mencium punggung tangannya.


"Ini siapa?" tanya Bu Ningrum.


"Ini Rallyn, Bu. Istrinya Ashka," jelas Bu Reni.


"Iya, Nek maaf ya, aku belum sempat memberitahu Nenek tentang pernikahan kami," ucap Jo.


"Sebenarnya kalian masih menganggap saya sebagai keluarga gak sih? Jangan mentang-mentang anak saya udah meninggal terus kalian tidak mengundang saya di pernikahan cucu saya?" ucap Bu Ningrum dengan emosi yang memuncak.


"Bu, tenang dulu. Ayo duduk, kita bicara baik-baik," ucap Bu Reni sembari mengarahkan Bu Ningrum untuk duduk di kursi yang ada di belakangnya.


"Mbak Lela! Buatkan minum untuk Nenek!" seru Jo pada asisten rumah tangganya.


"Biar aku aja," ucap Rallyn lalu berjalan memasuki dapur.


"Bu, Ashka dan Rallyn itu menikah karena terpaksa. Mereka digerebeg warga makanya kami belum sempat memberitahu Ibu," jelas Bu Reni sembari terus mengusap tangan Bu Ningrum agar wanita tua itu bisa lebih tenang.


"Apa?" Tanpa basa basi Bu Ningrum langsung menjewer telinga Jo dengan keras.


"Ah! ah! sakit, Nek," ucap Jo. meringis.


"Apa yang kamu lakukan sampai digerebeg warga? Kamu bikin malu keluarga saja," ucap Bu Ningrum tanpa melepaskan tangannya dari telinga Jo.

__ADS_1


"Aku bisa jelasin. Lepaskan dulu," ucap Jo.


"Nenek, minum dulu," ucap Rallyn pada Bu Ningrum sembari menyodorkan segelas air putih pada Bu Ningrum.


"Bu, minum dulu habis ini kita bicara bersama," ucap Bu Reni.


Bu Ningrum pun melepaskan tangannya dari telinga Jo dan menatap Rallyn sekilas lalu mengambil gelas berisi air minum dari tangan Rallyn.


"Kamu diapain sama cucu saya sampai digerebeg warga?" tanya Bu Ningrum pada Rallyn.


"Tidak ada. Dia laki-laki baik yang tidak mungkin melakukan hal tak senonoh pada sembarang perempuan," ucap Rallyn.


"Lalu kenapa kalian sampai digerebeg? Bikin malu saja."


"Dia ... duda ini menabrak saya lalu kami terjatuh dengan posisi dia menindih tubuh saya," jelas Rallyn singkat.


"Ceroboh sekali kalian," ucap Bu Ningrum.


"Eh, dimana Alika?" sambung Bu Ningrum sembari mencari-cari gadis kecil bernama Alika itu.


"Sudah tidur," sahut Jo.


"Tidur? Baru jam segini udah tidur," ucap Bu Ningrum lagi.


"Dia sangat bahagia karena sekarang memiliki seorang ibu. Tadi dia minta dikelonin sama Rallyn eh ternyata langsung tidur. Nenek tahu sendiri kan selama ini Kalila tidak pernah datang untuk menemui Alika?" ucap Jo.


"Ya sudahlah terserah kalian saja. Nenek capek mau tidur sama Alika saja," ucap Bu Ningrum.


"Alika tidur di kamarku, dia mau tidur bareng Rallyn katanya," ucap Jo.


"Heh, kalian ini baru menikah masa tidur bertiga? Gimana mau bikin cucu laki-laki buat, Nenek kalau ada Alika di kamar kalian," ucap Bu Ningrum.


"Bu, mereka menikah bukan karena cinta tidak mungkin melakukan itu secepat yang Ibu bayangkan," ucap Bu Reni.


"Nenek gak mau tahu. Buatkan cucu laki-laki atau Nenek keburu mati," ucap Bu Ningrum.


Bu Ningrum memang sangat menginginkan cucu laki-laki dari Jo tapi karena pernikahan mereka tidak berjalan dengan mulus akhirnya Bu Ningrum harus memendam keinginannya itu sementara waktu.


"Nenek, kenapa bicara seperti itu?" ucap Jo.


"Ibu. Ibu terlalu capek kayaknya, ayo aku antar ke kamar Alika nanti biar Jo memindahkan Alika ke kamarnya," ucap Bu Reni sembari meraih tangan sang ibu mertua dan membawanya ke kamar Alika!


"Nenek pesan cucu laki-laki ya," ucap Bu Ningrum pada Rallyn sebelum akhirnya dia pergi.

__ADS_1


Rallyn hanya terdiam dengan sedikit senyum yang dipaksakan sebagai tanggapan atas permintaan neneknya Jo itu.


Bersambung


__ADS_2