
Sore hari setelah pulang dari kantor. Jo langsung pergi ke rumah orang tuanya Rallyn untuk menjemput istrinya itu. Dia tak perduli mungkin orang tua Rallyn akan marah padanya dan mungkin tidak mengizinkannya untuk membawa Rallyn ke rumahnya. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah, dia ingin membawa Rallyn ke rumahnya dan hidup bersamanya lagi seperti sebelumnya.
Di depan pintu rumah orang tua Rallyn. Untuk beberapa saat Jo berdiri terpaku dengan tatapan yang terus tertuju pada pintu itu. Ada rasa ragu dan sedikit takut tapi sebagai laki-laki, dirinya harus bisa menghadapi segala kemungkinan terburuk yang akan diterimanya dari kedua orang tua Rallyn. Dia mulai mengetuk pintu itu dan menunggu seseorang membuka pintu untuknya.
"Assalamualaikum!" serunya.
"Waalaikumsalam!" seru seseorang dari dalam rumah.
Jo tahu bahwa itu adalah suara sang ibu mertuanya. Benar saja, tak lama kemudian pintu itu terbuka dan langsung menampakkan sosok Bu Herlina di ambang pintu. Wanita paruh baya itu tersenyum ramah pada Jo dan segera mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Jo segera mencium punggung tangan Bu Herlina dan setelah itu tanpa diduga, Rallyn datang dari dalam rumah dan langsung memeluknya erat. Jo kebingungan, mengapa tiba-tiba Rallyn menjadi baik dan hangat padanya padahal tadi siang dia begitu dingin bahkan menganggapnya tidak ada.
"Kamu sudah pulang dari luar kota?" tanya Rallyn yang membuat Jo semakin kebingungan.
Jo hanya diam karena tidak tahu dan tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Rallyn. Dia hanya menanggapi perkataan istrinya itu dengan senyuman karena takut salah bicara.
"Kamu pasti capek. Ayo istirahat dulu setelah itu baru makan!" ucap Rallyn lagi sembari menggandeng tangan Jo lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Bu Herlina menatap kepergian mereka dengan sebuah senyum yang terukir di bibirnya. Dia bahagia ternyata putrinya begitu baik dan lembut pada suaminya padahal diawal mereka menikah, Rallyn begitu jutek dan sedikit galak pada Jo.
Setibanya di dalam kamar. Rallyn segera melepaskan tangannya yang menggandeng tangan Jo, dia menatap Jo selama beberapa saat lalu mulai bicara.
"Orang tuaku tidak tahu tentang masalah kita. Jangan pernah bicarakan masalah ini di depan mereka," ucap Rallyn dengan nada pelan karena tak mau sang ibu mendengar pembicaraan mereka.
"Jadi, kamu tidak memberitahu mereka," batin Jo.
"Pulanglah, Rallyn. Aku mohon," ucap Jo setelah dia terdiam beberapa detik.
"Aku tidak mau. Buktikan dulu kalau kamu memang benar-benar menginginkan aku," ucap Rallyn.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berbohong sama kamu. Aku masih mencintai Kalila tapi aku lebih memilihmu, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk melupakan dia. Kumohon pulanglah, Rallyn, aku sangat mencintaimu dan aku memilihmu," ucap Jo.
"Aku butuh bukti bukan bualan." Rallyn berjalan menghampiri lemarinya lalu mengambil handuk untuk Jo.
"Ini handukmu!" Rallyn memberikan handuk itu pada Jo. "Mandilah habis itu kita kumpul bersama keluargaku, aku tidak mau mereka sampai curiga apa lagi sampai mengetahui kelakuan kamu yang buruk itu," sambung Rallyn lalu berjalan ke luar dari kamarnya untuk membuat teh.
Sudah menjadi kebiasaan Rallyn setiap hari sebelum rumah tangga mereka bermasalah, Rallyn selalu membuatkan teh untuk suaminya dan kadang suka memijat pundak suaminya saat merasakan kelelahan yang amat sangat. Menikah diusia muda tak membuat Rallyn lupa dengan kewajibannya sebagai istri, hanya setelah Jo ketahuan berselingkuh dengan Kalila, Rallyn tak pernah lagi memperlakukan suaminya seperti biasanya.
Di dapur. Dengan penuh cinta dia membuatkan teh manis untuk Jo, ini pertama kalinya dia membuatkan teh lagi untuk Jo setelah belakangan ini rumah tangganya rusak akibat adanya orang ketiga.
"Udah larut kali, tuh gulanya," ucap Pak Hardi yang merasa terganggu oleh suara denting sendok yang beradu dengan gelas.
Rallyn yang sedang mengaduk teh itu pun segera menghentikan pergerakan tangannya lalu tersenyum ke arah sang ayah. "Ayah, mau teh juga?" tanyanya pada sang ayah.
"Ayah udah bikin kopi dan udah ada di meja depan tv," jelas Pak Hardi.
Rallyn hanya mengangguk lalu dia meninggalkan sang ayah yang sedang mencari camilan di rak penyimpanan makanan ringan. Dia meletakkan teh itu di atas meja lalu pergi ke kamarnya lagi untuk menjemput sang suami.
"Airnya gak mau keluar, aku mandi cuma sedikit," jelas Jo.
"Gak keluar? Perasaan tadi gak kenapa-kenapa," ucap Rallyn.
Jo tak menyahut, dia sibuk memakai pakaiannya sementara Rallyn berjalan memasuki kamar mandi untuk mengecek kran airnya. Setelah selesai menggunakan bajunya, Jo menyusul Rallyn ke dalam kamar mandi.
"Percaya 'kan airnya gak keluar?" tanya Jo.
"Iya, padahal tadi aku mandi gak bermasalah," ucap Rallyn.
"Ya udahlah, besok cari tukang buat cari tahu apa masalahnya," ucap Rallyn lagi.
__ADS_1
"Ingat ya, bersikaplah biasa saja seperti tidak ada masalah," ucap Rallyn lagi mengingatkan Jo.
"Iya, Sayang. Aku paham, besok pulang sama aku ya," sahut Jo lalu meraih tangan Rallyn dan menggenggamnya.
Setelah itu mereka keluar dari kamarnya dengan senyum dan kemesraan penuh sandiwara. Rallyn bersikap seolah dirinya bahagia dengan Jo padahal dalam hatinya masih menyisakan luka yang teramat dalam. Dirinya tak ingin orang tuanya tahu tentang masalah rumah tangganya sebelum rumah tangganya benar-benar hancur dan mereka sudah resmi berpisah.
"Kalian itu romantis sekali, persis seperti ayah dan ibu waktu dulu," ucap Bu Herlina saat Jo dan Rallyn tiba di ruang keluarga.
"Semua karena Rallyn mendapatkan suami yang baik yang sayang sama dia," ucap Pak Hardi.
"Maafkan aku ayah, ibu. Seandainya kalian tahu yang sebenarnya mungkin kalian ayah tidak akan berbicara seperti itu," batin Rallyn dengan terus mengulas senyum di bibirnya.
"Aku akan buktikan kalau aku memang sayang sama Rallyn," batin Jo.
"Mas, ini teh punyamu," ucap Rallyn sembari memberikan secangkir teh manis pada Jo setelah mereka duduk di kursi itu.
"Punyamu mana? Kamu gak bikin teh?" tanya Jo sebelum akhirnya dia menyeruput teh itu.
"Aku gak bikin teh. Aku takut gendut kalau kebanyakan minum minuman manis," jelas Rallyn.
"Kamu tetap cantik dan aku tetap mencintai kamu walaupun kamu gendut. Kamu tenang saja," ucap Jo sembari mencubit pipi Rallyn.
"Aduh, Mas. Apaan, sih kamu," ucap Rallyn. Saat itu tawa bahagia keluar dari mulut mere berdua. Sudah lama mereka tidak bercanda ria seperti itu.
"Ari ngomong jiga nu bener wae anjren teh. Ah dasar buaya darat," batin Rallyn.
Melihat anak dan menantunya bahagia, Bu Herlina dan Pak Hardi ikut bahagia. Mereka bersyukur Rallyn mendapatkan pasangan seperti Jo yang pada dasarnya adalah sosok penyayang.
Bersambung
__ADS_1