
Arka dan Rallyn menatap Jo secara bersamaan. Mereka tak menyangka bahwa Jo akan melakukan hal itu dan membuat keributan di sana.
"Kurang ajar kamu ya." Arka menunjuk ke arah Arka. "Berani sekali kamu mengajak istri saya makan siang dan kalian hanya berdua," sambung Jo.
"Pak, saya bisa jelaskan," ucap Arka.
"Apa! Saya sudah melihat semuanya dengan mata kepala saya. Berani sekali kamu menyentuh tangan istri saya," ucap Jo lagi dengan meninggikan suaranya.
"Kamu apaan, sih marah-marah gak jelas gini? Kamu sadar gak, kamu membuat aku malu, kamu membuat Pak Arka malu," ucap Rallyn tanpa emosi sedikit pun.
"Kamu ini istriku. Wajar kalau aku marah." Jo meraih tangan Rallyn lalu menggenggamnya.
"Jadi, kamu masih menganggap aku istrimu?" tanya Rallyn sembari menatap Jo dengan tatapan dalam.
"Aduh, Ashka makanya kalau cari istri itu jangan dari kalangan bawah karena mereka akan menjadi wanita rendahan. Mereka akan mencari selingan saat suaminya tidak ada, mereka gila harta," ucap Kalila sembari berjalan menghampiri mereka.
Perkataan Kalila semakin menarik perhatian pengunjung di sana. Mereka semua terus menatap ke arah empat orang itu terutama Rallyn dan Jo.
"Dasar *******, mending lo pergi aja dari kehidupan Ashka. Lo gak pantas menjadi istrinya Ashka," ucap Kalila dengan tatapan dan senyuman yang merendahkan Rallyn.
"Gak malu, kamu bicara seperti itu? Gak nyadar di sini siapa yang wanita rendahan dan gila harta? Aduh Kalila, kamu punya cermin gak, sih di rumah kamu? Coba kamu berkaca dan lihat siapa kamu," ucap Rallyn dengan penuh penekanan.
"Maksud kamu apa?" Nampaknya Kalila tidak terima Rallyn berucap seperti itu padanya.
Rallyn berjalan mendekati Kalila lalu mendorong Kalila untuk menjauhkannya dari Jo. Sedari tadi Kalila memang asyik menggandeng tangan Jo hingga membuat Rallyn cemburu.
"Kamu bicara seolah aku ini wanita rendahan dan gila harta tapi lihatlah dirimu ... kamu ada di sini bersama suamiku dan dengan tanpa malu kamu, kalian berdua mengumbar kemesraan di depan umum. Seharusnya dari kelakuan kamu saja kamu sudah termasuk perempuan rendahan yang gila harta sehingga kamu rela menjadi cewek simpanan. Oh ya, satu lagi kamu bilang aku Jal*ng. Apa buktinya? Mana buktinya? Lihatlah dirimu Kalila! Berpakaian terbuka bahkan terbilang kurang bahan, kamu menjajakan tubuhmu pada suamiku. Apa itu namanya bukan perempuan rendahan, perempuan jal*ng yang kerjanya menjual tubuh pada laki-laki kaya demi kehidupan yang mewah? Sungguh miris sekali hidupmu, Kalila," ucap Rallyn penuh penekanan.
Mendengar semua perkataan Rallyn, membuat Kalila marah dan tak terima dengan apa yang dituduhkan oleh Rallyn. Dia mengepalkan tangannya dan setelah beberapa detik, tangan itu melayang hendak menampar Rallyn.
__ADS_1
Dengan sigap, Rallyn menangkis tangan Kalila. Dia mencekal pergelangan tangan Kalila dengan erat lalu membantingnya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu karena sedikit pun aku tidak akan membiarkan tangan kotormu mendarat di pipiku," ucap Rallyn.
"Aaah." Kalila meringis seolah kesakitan padahal Rallyn hanya menghempaskan tangannya saja.
"Ashka kamu diam saja saat tahu dia begitu kasar padaku," ucap Kalila sembari menggenggam tangan Jo.
"Terus saja perlihatkan dirimu yang asli. Dasar perempuan rendahan," ucap Rallyn sembari pergi meninggalkan tempat itu. Dia tidak perduli dengan banyaknya orang-orang yang menonton perdebatan mereka. Saat ini yang ada dalam pikiran Rallyn hanyalah pergi, secepatnya dia harus pergi dari sana.
"Bu Rallyn! Bu tunggu sebentar!" seru Arka sembari melangkah menyusul Rallyn.
"Rallyn! Rallyn tunggu aku!" seru Jo sembari melepaskan tangannya dari genggaman Kalila lalu mulai berlari mengejar Rallyn.
"Ashka! Ashka kamu mau kemana?" Kalila tidak membiarkan Jo pergi, dia menarik jas Jo agar dia tidak meninggalkannya.
"Dasar pelakor," ucap salah satu pengunjung pada Kalila.
"Ada ya perempuan seperti kamu ... murahan, rendahan bahkan dirimu pantas disebut *******."
"Perempuan gak punya hati."
Kira-kira seperti itulah perkataan pengunjung perempuan yang merasa benci pada Kalila. Awalnya mereka bersikap biasa saja karena tidak tahu permasalahannya tapi setelah Jo mengatakan bahwa Rallyn adalah istrinya, mereka mulai menyimpulkan bahwa Jo berselingkuh dengan Kalila hingga membuat Rallyn marah dan tentunya kecewa.
Kalila sangat marah dan malu pada semua pengunjung yang ada di sana. Wajahnya memerah karena merasa malu dan marah. Kalila tak menyangka Rallyn menghinanya dan mempermalukan dirinya sampai seperti itu. Kalila pun langsung pergi dari sana dengan amarah yang memuncak.
Di tempat lain.
"Rallyn tunggu sebentar. Maafkan aku," ucap Jo sembari menarik tangan Rallyn dengan kencang hingga tubuh Rallyn jatuh ke pelukannya.
__ADS_1
Jo pun langsung memeluk Rallyn dengan erat. Dia tidak rela melepaskannya pelukannya itu karena dirinya sangat merindukan Rallyn.
"Jangan pergi Rallyn. Aku mohon, aku mencintai kamu," ucap Jo sembari terus memeluk Rallyn dengan sesekali dia mencium pucuk kepala istrinya itu.
Rallyn terdiam, tak terasa dia juga memeluk Jo, air matanya menetes merasakan pelukan yang akhir-akhir ini dia tidak pernah dia dapatkan lagi dari suaminya. Sebenarnya Rallyn pun sangat mencintai Jo dan sangat merindukan suaminya yang dulu, suaminya yang hanya mencintai dirinya saja.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku, Jo!" Beberapa detik saling berpelukan, Rallyn memberontak ingin lepas dari pelukan Jo. Dia tidak ingin terlihat lemah karena cintanya, dia harus berusaha kuat agar Jo tidak menganggapnya wanita yang lemah dan hanya menerima saja semua perlakuan suami.
"Kamu sadar gak, Jo. Kamu sudah mempermalukan aku dan Pak Arka di sana," ucap Rallyn sambil menangis.
"Mereka akan mengira bahwa aku berselingkuh dengan Pak Arka dan nama baik Pak Arka akan tercemar," ucap Rallyn lagi seolah dia sedang mengkhawatirkan tentang Arka.
"Aku cemburu melihat kamu sama dia. Aku marah karena aku sayang sama kamu, aku tidak mau kehilangan kamu, Rallyn. Mengertilah Rallyn," ucap Jo.
"Kamu selalu ingin aku mengerti padamu tapi kamu tidak pernah mengerti aku. Kamu makan berdua bersama perempuan itu, bahkan perempuan itu mencium kamu di depan umum. Apa kamu pernah mengerti perasaan aku? ... tidak, sedikit pun kamu tidak pernah mengertikan perasaan aku."
"Aku salah, aku akui aku salah. Maafkan aku Rallyn," ucap Jo dengan meremas jemari Rallyn.
"Mungkin kita tidak ditakdirkan berjodoh. Kejarlah perempuan itu, perempuan yang kamu inginkan bila nanti kamu sadar bahwa akulah yang paling mencintaimu, maka jangan menyesal karena saat itu aku sudah bersama orang lain. Aku sadar siapalah aku ini, Kalila lebih pantas untukmu, dia memang ibu kandungnya Alika sedangkan aku ... aku tidak mungkin merebut posisinya," ucap Rallyn lagi.
"Tidak. Aku tidak mau kita pisah, aku butuh kamu, Alika butuh kamu. Aku tidak mungkin bisa tanpa kamu."
"Buktinya kamu bisa makan siang romantis dengan Kalila saat aku sedang pergi. Sebenarnya kamu tidak mencintai aku, kamu hanya membutuhkan aku untuk merawat Alika dan juga keluargamu saja. Kenapa kamu tidak menjadikan aku babysitter untuk Alika saja dan bukan diperistri tapi disakiti, aku punya hati dan perasaan, aku hancur kamu buat begini," ucap Rallyn sembari membelakangi Jo.
Jo terdiam. Dirinya memang bisa bersama Kalila tapi hatinya terus saja memikirkan Rallyn. Dirinya tidak tenang saat Rallyn tidak ada di sampingnya.
Bersambung
__ADS_1