Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 6 curhat


__ADS_3

Rallyn menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur milik Alice dan membiarkan tasnya terjatuh di sisi tempat tidur itu!


"Kamu kenapa sih uring-uringan gitu?" ucap Alice.


Bukannya menjawab pertanyaan Alice. Rallyn malah menangis sembari mengacak-acak tempat tidur itu hingga selimut, bantal dan semua yang ada di atasnya berpindah posisi dan sudah tak karuan lagi!


"Rallyn! Rallyn sadar. Ya ampun ini anak kenapa sih?" ucap Alice lagi sembari mencoba menenangkan Rallyn.


"Aku gak mau nikah, aku gak mau menjadi istri," ucap Rallyn sambil terus meraung-raung.


"Ada apa hah? Orang tuamu memaksa kamu menikah dengan laki-laki pilihannya?"


"Alice, aku sudah menikah," jelas Rallyn.


"Hah! Menikah? Kapan, sama siapa? Emang ada yang mau sama kamu?" ucap Alice dengan tatapan yang terus tertuju pada Rallyn.


"Tolong aku, aku gak mau sama dia," rengek Rallyn.


"Gimana aku bisa menolong kamu sedangkan aku saja tidak tahu permasalahnya apa. Ceritakan yang sebenarnya terjadi apa," ucap Alice lagi.


"Sebenarnya kemarin saat pulang bekerja aku bertabrakan sama seorang laki-laki dan kami terjatuh dengan posisi dia menindih tubuh aku. Malam kemarin memang sial karena kejadian itu warga yang melihat kami pun langsung berpikir kalau kami sedang berpacaran, mereka menggerebeg kami dan memaksa orang tuaku untuk menikahkan kami," jelas Rallyn.


"Serius?" Alice lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Rallyn.


"Kayak cerita novel yang aku baca kalau gak salah judulnya ketika perawan tua menikah," sambung Alice.


"Ih kamu kok malah bercanda, aku serius."


"Iya-iya sekarang aku serius. Kenapa minta bantuanku? Kamu bicara saja pada laki-laki itu untuk menceraikan kamu," ucap Alice.


"Udah tapi dia gak mau karena katanya dia gak mau jadi duda lagi," ucap Rallyn.


"Apa! Duda?" Alice terkejut.


"Dia udah tua Lice, bahkan dia udah punya anak." Tangis Rallyn semakin pecah saat mengatakan bahwa Jo sudah punya satu anak.


"What? Gak salah, itu artinya kamu dinikahi om-om dong," ucap Alice.


"Tolong aku Lice, please tolong aku. Aku ingin lepas dari orang tua itu."


"Lyn mending kamu minta tolong orang tuamu aja. Minta mereka agar mereka meminta suami kamu menceraikan kamu," ucap Alice.

__ADS_1


"Udah tapi mereka malah membiarkan laki-laki itu mempertahankan pernikahan gila ini," ucap Rallyn.


"Kalau boleh tahu, siapa nama dia?"


"Namanya Jo, gak tahu Jo apa yang aku tahu Jo aja," ucap Rallyn.


"Ganteng gak?"


"Iih kamu kok malah mengintrogasi aku." Rallyn kesal karena Alice terlalu banyak tanya.


Alice menghela napasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan, ia duduk di tepi ranjangnya dengan mulut yang tertutup rapat. Tak ada yang bisa ia katakan lagi pada temannya itu, baginya masalah yang dihadapi oleh Rallyn adalah masalah besar dan sangat serius.


********


Di kediaman orang tua Rallyn.


Jovanka masih duduk di kursi yang ada di depan rumah orang tua Rallyn, dia masih setia menunggu kepulangan istri yang baru dinikahinya karena kesalahpahaman.


"Nak, memangnya tadi Rallyn turun di mana?" tanya Pak Hardi yang merasa tidak enak pada Jo, pasalnya putrinya itu tidak juga kembali ke rumah meski sudah mau maghrib.


"Tadi dia minta diturunkan di jalan raya depan sana," ucap Jo.


"Katanya mau bertemu dengan temannya," sambung Jo.


"Kalau gitu biar Ayah susul dia," ucap Pak Hardi.


"Jangan, Pak. Biarkan saja Rallyn di sana dulu mungkin dia buruh waktu untuk bercerita pada temannya," ucap Jo.


"Tapi–"


"Nanti kalau sudah jam sembilan dia tidak pulang juga, saya yang akan menjemputnya," ucap Jo memotong perkataan Bu Herlina.


"Siapa nama kamu? Ayah lupa dengan nama kamu?" tanya Pak Hardi.


"Wajar kalau Bapak lupa. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya," ucap Jo.


"Panggil Ayah saja," ucap Pak Hardi.


Jo tersenyum tipis ke arah Pak Hardi.


"Nama saya Jovanka Ashkara, dulu saya pernah menikah dan sudah memiliki satu anak yang sekarang sudah berusia lima tahun. Istri saya pergi setelah melahirkan anak kami," jelas Jo.

__ADS_1


"Kamu sudah dewasa dan sudah pernah berumah tangga, apa kamu yakin ingin melanjutkan pernikahan kamu dengan Rallyn sementara dia masih terlalu muda untuk menjalin rumah tangga. Rallyn belum mengerti bagaimana cara menjadi istri yang baik apalagi kamu sudah punya anak pastinya Rallyn akan merasa kesulitan untuk menerima anak kamu," ucap Pak Hardi.


"Benar yang dikatakan Ayah. Bukannya kami melarang kamu untuk menjalankan niat baik kamu tapi dengan keadaan Rallyn yang belum cukup dewasa kami takut pernikahan ini hanya akan menyebabkan luka dalam diri kalian masing-masing," sambung Bu Herlina.


"Ayah, Ibu tolong izinkan saya mencoba untuk mempertahankan pernikahan kami, jika dalam waktu beberapa bulan tidak ada perubahan atau tidak ada cinta diantara kami, baru saya akan melepaskan Rallyn, saya akan mengembalikan Rallyn pada Ayah dan Ibu," ucap Jo.


"Kami tidak bisa melarang kamu karena biar bagaimana pun sekarang kamu adalah suaminya Rallyn, sekuat apa pun kami melarang kamu tapi kalau kamu tetap ingin bertahan, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Ayah hanya minta agar kamu jangan pernah sakiti Rallyn baik fisik atau batinnya dan tolong jangan buat Rallyn hamil dulu, kami sebagai orang tua tak tega jika melihat Rallyn kehilangan masa mudanya," ucap Pak Hardi.


"Saya mengerti akan hal itu, Ayah dan Ibu jangan khawatir saya tidak akan merusak masa mudanya Rallyn, dia akan mendapatkan semua haknya," ucap Jo.


"Syukurlah kalau kamu mengerti," ucap Bu Herlina.


*******


Di kediaman Jovanka


"Eyang, apa malam ini Papa gak akan pulang lagi?" tanya Alika pada Bu Reni.


"Sepertinya tidak. Kamu kan sudah biasa ditinggal Papa ke luar kota atau ke luar negeri, anggap saja sekarang Papa kamu sedang ada tugas di luar," ucap Bu Reni.


"Kenapa Mama juga harus kerja? Bukankah Papa sudah punya cukup uang untuk keluarga kita," ucap Alika dengan polosnya.


Gadis kecil itu tidak pernah melihat apa lagi bertemu dengan Mamanya karena itulah saat Jo mengenalkan Rallyn sebagai Mamanya, Alika langsung percaya.


"Sayang, mending sekarang kita siap-siap untuk shalat. Tuh adzan maghrib udah berkumandang," ucap Bu Reni.


"Setelah itu apa aku mau curhat sama Allah."


"Emang mau curhat apa sama Allah?"


"Aku mau keluarga kita kumpul. Ada Mama ada Papa ada aku dan juga Eyang," ucap Alika.


Bu Reni tersenyum lalu mengusap rambut panjang milik Alika!


"Udah yuk, sayang kita siap-siap shalat," ucap Bu Reni.


Alika mengangguk lalu segera pergi ke kamarnya untuk mengambil alat shalatnya!


Bu Reni masih berdiri di tempat semula sembari menatap kepergian Alika.


"Kasian anak itu. Semoga saja istri Jo mau tinggal di sini bersama kita," batin Bu Reni.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2