Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 50 kekhawatiran Jo


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan diri, Jo langsung keluar kamarnya dan menghampiri Rallyn yang sedang menemani Alika belajar. Setiap hari setelah setelah maghrib Rallyn memang selalu menemani Alika belajar atau mengerjakan PR sembari menunggu waktu isya tiba.


"Lagi belajar apa?" tanya Jo pada Alika. Jo duduk di samping Alika dan mulai bergabung bersama mereka.


Rallyn yang masih kesal dan marah pada Jo, hanya diam dan tak sedikit pun menatap laki-laki yang sebenarnya belum jelas mengkhianati dirinya atau tidak. Setelah melihat Jo dan Kalila begitu mesra tadi siang, dirinya menjadi benci pada laki-laki yang kini duduk di depannya itu.


"Aku mengerjakan PR, Pa," sahut Alika.


"Udah beres belum? Mau Papa bantu?" tanya Jo.


"Udah selesai. Gak usah bantu lagian Alika juga udah mau merapikan alat tulusnya," ucap Rallyn.


"Mama benar. Mama yang terbaik karena selalu membantu Alika dan selalu ada buat Alika," ucap Alika bahagia.


"Alika Sayang, rapikan semuanya ya. Mama mau ke kamar mandi sebentar," ucap Rallyn sembari mengusap kepala Alika.


Sebenarnya Rallyn tidak ingin ke kamar mandi, dia hanya beralasan saja karena tak ingin melihat wajah Jo di sana. Dia berjalan memasuki kamarnya tanpa menatap Jo sedikit pun.


Jo masih belum menyadari kesalahannya. Dia pikir Rallyn tidak tahu apa yang dilakukannya tadi siang, karena itulah dia masih santai sekolah tak terjadi apa-apa.


Setelah merapikan semua alat tulisannya. Alika langsung membawa tasnya masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan sang papa yang masih duduk di sana.


"Ma, tadi Rallyn pulang jam berapa?" tanya Jo pada Bu Reni.


"Masih siang. Kalau gak salah jam dua siang atau setengah tiga, Mama gak terlalu memerhatikan," sahut Bu Reni.


"Rallyn istri yang baik. Dia tidak akan macam-macam di luar," ucap Bu Ningrum.


"Aku tahu, Nek. Aku hanya bertanya saja, aku rasa ada yang aneh sama dia. Gak biasanya Rallyn cuek sama aku," ucap Jo.


"Mungkin dia sedang lelah tadi sama Alika biasa saja tidak ada yang berubah," jelas Bu Ningrum.

__ADS_1


"Mungkin juga, dia sedang datang bulan. Biasanya perempuan yang sedang berhalangan seperti itu moodnya suka jelek," tambah Bu Reni.


"Mungkin saja. Aku takut dia sakit," ucap Jo.


Di kamar Rallyn.


Rallyn duduk di sofa yang ada di sudut kamar itu. Dia menangis mengingat Jo yang memperlakukan Kalila begitu lembut, dia terus teringat saat Jo menggenggam tangan Kalila dan tersenyum manis pada mantan kekasihnya itu.


Sebagai seorang istri tak bisa dipungkiri dirinya cemburu dan marah melihat suaminya dekat dengan perempuan lain apa lagi perempuan itu adalah mantan istri dari suaminya. Rallyn tak bisa menahan air matanya perih yang dia rasakan dalam hatinya membuat air mata itu terus keluar dari sudut matanya.


"Kenapa dia kembali setelah lima tahun pergi? Astaghfirullah, aku kenapa? Semoga yang aku pikirkan ini salah," batin Rallyn yang sudah berpikir bahwa suaminya sudah kembali pada Kalila dan berhubungan di belakangnya.


Rallyn terus menangis sampai dia mendengar suara langkah kaki yang menuju kamarnya. Dia pun segera mengusap air matanya dengan tissue karena tak ingin ketahuan dirinya sedang menangis.


"Kenapa gak turun lagi. Ayo makan malam!" ajak Jo yang berdiri di balik pintu dan hanya menyembulkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka sedikit.


"Duluan saja. Perutku sakit, aku makan belakangan saja," ucap Rallyn.


"Sakit kenapa? Tadi siang kamu makan apa? Kok bisa sakit perut?" tanya Jo secara beruntun.


"Tadi teh Abdi ngaemam wadul, makana haneu'eul kana hate," ucap Rallyn dengan bahasa Sunda.


"Kamu bicara apa, Sih? Jangan bicara bahasa asing, aku gak ngerti," ucap Jo yang memang tidak tahu Rallyn berkata apa.


"Ari teu ngartos cicing. Aing geuleuh ka anjeuna," ucap Rallyn lagi sembari berjalan memasuki kamar mandi.


Jo hanya diam sembari menatap kepergian Rallyn. "Apa aku harus searching di google biar tahu Rallyn bicara apa? Wadul, cicing, an_anjuna? Aaah apa, sih Rallyn ini. Bikin aku pusing saja," gumam Jo sembari berpikir keras mencoba mengartikan perkataan Rallyn.


"Apa jangan-jangan yang dikatakan itu nama penyakit? Tapi mana ada nama penyakit sepanjang itu. Rallyn kamu bikin aku khawatir, tahu gak." Jo berjalan menghampiri pintu kamar mandi untuk memastikan kondisi Rallyn.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


"Rallyn! Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Jo sembari mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku baik-baik saja. Makan saja duluan! Nanti aku nyusul," sahut Rallyn dari dalam kamar mandi.


Jo tidak menjawab lagi perkataan Rallyn. Dia berjalan menghampiri tempat tidurnya dan duduk di atasnya. Jo tidak mungkin meninggalkan Rallyn saat sedang sakit, dirinya tidak ingin istrinya itu sampai kenapa-kenapa karena telat mendapatkan penanganan medis saat sedang sakit.


Setelah beberapa menit. Rallyn keluar dari kamar mandi karena mengira Jo sudah tidak ada tapi saat dirinya sudah keluar dari kamar mandi, dirinya baru melihat Jo yang ternyata sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Dia menghentikan langkahnya karena terkejut melihat sosok Jo yang ternyata masih ada di dalam kamarnya.


Melihat Rallyn yang sudah keluar dari kamar mandi. Jo langsung berjalan menghampiri Rallyn dan tanpa basa-basi langsung memangku tubuh Rallyn ala bridal style lalu membawanya ke tempat tidurnya.


"Apaan, sih? Aku bisa jalan sendiri," ucap Rallyn sembari meronta.


"Aku tahu tapi aku gak tega melihat kamu kesakitan. Apa kita ke dokter aja sekarang?" ucap Jo sembari membaringkan Rallyn di atas tempat tidur.


"Kamu gak tega melihat aku kesakitan tapi kenapa kamu menyakiti aku dengan menemui Kalila diam-diam?" batin Rallyn.


Mendapat perhatian yang lebih dan melihat Jo yang begitu khawatir padanya saat sakit, rasanya tidak percaya bahwa Jo sudah membohongi dirinya. Kalau saja tak melihat sendiri mungkin sampai kapan pun dirinya tidak akan percaya itu.


"Hey, kenapa diam? Ayo ke rumah sakit!" ajak Jo lagi pada Rallyn.


"Gak usah. Aku hanya butuh istirahat sebentar. Pergilah makan malam, aku tidak lapar saat ini," ucap Rallyn sembari mempolisikan tubuhnya menyamping membelakangi Jo.


"Ya udah, nanti aku bawain makan untuk kamu. Kamu istirahat dulu aja," ucap Jo lalu langsung keluar dari kamarnya.


"Kenapa Jo. Kenapa kamu seperhatian ini sama aku? Kalau di hatimu masih ada Kalila, kenapa kamu berusaha menumbuhkan cinta diantara kita? Sekarang aku sudah sangat mencintai kamu," batin Rallyn yang tanpa sadar meneteskan air matanya.


Rallyn menyusupkan kepalanya ke bawah bantal agar suara isak tangisnya tak dapat terdengar sampai ke luar kamarnya. Saat ini dirinya masih belum bisa melupakan kejadian tadi siang tapi juga dirinya belum bisa membicarakannya dengan Jo karena belum ada waktu yang tepat. Dirinya tak ingin ada orang lain yang tahu tentang kejadian tadi siang apalagi keluarga Jo, dirinya tak ingin ADs masalah yang lebih besar lagi kalau Bu Reni dan Bu Ningrum sampai tahu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2