Penjara Hati Sang Mafia

Penjara Hati Sang Mafia
Penyesalan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Hiks hiks hiks." Clayton mulai membuka matanya ketika mendengar suara isak tangis dari seseorang.


Saat itu juga, dirinya sadar bahwa kini ia terbangun bukan di kamar nya. Ia mengedarkan pandangan, hingga matanya kini menangkap pada sosok punggung wanita yang putih nan mulus dengan rambut yang tergerai menyamping, namun masih ada beberapa helai yang hinggap di punggung nya.


Shiena, iya Clayton baru teringat bahwa semalam dirinya sudah melakukan kesalahan besar. Ia memang jahat, sadis dan bajingan. Namun seumur hidup, baru kali ini Clayton melakukan hal sejauh itu.


Marah? benci? kecewa? tentu saja Clayton merasakan hal itu. Meskipun ia membenci orang tua Shiena, namun tetap saja dirinya juga salah karena sudah merebut kesucian nya. Mungkin, bila di suruh memilih, lebih baik Clayton membunuh seseorang daripada memperkosa seseorang.


'Damt!' umpat Clayton, seraya mengusap wajah nya dengan kasar.


Clayton menarik nafas nya dengan dalam, lalu ia segera bangkit dan mencari pakaian nya yang sudah tercecer di lantai. Sementara Shiena, ia masih duduk di lantai dengan memunggungi Clayton, dan tubuh nya pun masih polos hanya tertutup selimut sebagian..


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun Clayton segera pergi begitu saja meninggalkan kamar Shiena. Hingga membuat gadis yang baru kehilangan mahkota itu kian menjerit dalam tangis nya.


"Mamii hiks hiks. Shiena benci sama Papi, Shiena benci hiks hiks!" teriak nya dan terus memukul mukul bantal di pangkuan nya.

__ADS_1


Ia tak habis pikir, mengapa Clayton bisa bersikap sekejam itu padanya. Setelah apa yang dia lakukan semalam penuh, kini langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Huaaaaaaarrrrkkkhhh!


Teriak Shiena, kini ia sudah beranjak dan melemparkan seluruh benda yang ada di dalam kamar nya. Hidup nya sudah hancur, kini sudah tidak ada yang bisa ia banggakan lagi. Bagaimana nanti bila dirinya menikah? apakah masih ada laki laki menerima wanita yang sudah cacat sepertinya.


"Cowok brengsekkk, bajingann! aku benci kalian semua!" pekik nya lalu tubuh nya luruh ke lantai dengan kepala yang bersandar pada sisi lemari pakaian nya.


Sementara itu, Clayton yang baru saja membersihkan diri, begitu terkejut ketika melihat dua manusia yang dekat dengan nya sudah berada di dalam kamar nya.


"Bagaimana semalam? enak? puas?" tanya Edward tak kalah datar menatap pada Clayton yang tengah mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil.


"Apakah ini cara kamu membalas dendam? ini di luar rencana kita, Clay!" imbuh Davis seraya menghela nafas nya berat.


"Aku tau!" jawab Clayton dengan cepat, "Ini semua karena Bram sialan itu!" ungkap nya dengan rahang mengeras hingga membuat giginya bergemurutuk menahan amarah.


"Tapi kamu sudah merebut mahkota nya" saut Edward.

__ADS_1


"Aku terpaksa! karena efek dari obat itu—"


"Tapi kamu menikmati nya!" seru Edward menghela napas nya dengan kasar.


"Kamu tidak harus perduli dengan nya!" saut Davis dengan cepat.


"Aku yang membawa nya menemui Bram!" kata Clayton terus membela diri.


"Kamu membenci nya. Ayah nya adalah musuh kita, musuh kamu." ucap Davis mengingatkan, "Kamu bisa merendam nya dalam bathtub. atau membawa nya ke rumah sakit!"


"Hah, Bathtub. Bahkan aku membiarkan nya berendam dalam kolam renang lebih dari satu jam!" jelas Clayton dengan kesal dan menatap tajam pada dua orang temannya hingga membuat dua orang itu saling bertatap tak percaya.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang, padanya?" tanya Davis mengalihkan pembicaraan.


"Aku—"


Dorrr!

__ADS_1


__ADS_2