Penjara Hati Sang Mafia

Penjara Hati Sang Mafia
Keturunan bodoh


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Setelah mendapatkan ancaman dan permohonan maaf dari sepasang suami istri muda yang tak lain adalah cucu dari pemilik rumah sakit tempat nya bekerja. Membuat dokter Widhi yang tadi tengah berbahagia karena hari ulang tahun putra keduanya yang kedua. Kini sedang berjalan dengan tergesa gesa menyurusi koridor rumah sakit.


Bukan dalam keadaan darurat, ia rela meninggalkan acara ulang tahun anak nya. Hanya saja, ia terpaksa karena tahu bahwa ini bukan lagi menyangkut sosal pekerjaan, melainkan soal nyawa keluarga nya.


“Selamat siang, maaf saya sedikit terlambat,” ujar dokter Widhi mencoba tetap tersenyum walau sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya begitu kesal dan emosi.


“Selamat siang Dok, maaf ya dok, kami mengganggu acar Dokter,” ucap Shiena menatap tak enak hati.


“Tidak apa, baiklah, kita bisa memulai sekarang ya,” ujar dokter Widhi lagi, lalu ia segera memanggil asisten nya untuk membantu untuk memeriksa kandungan Shiena.


“Apakah ada keluhan?” tanya dokter Widhi sembari mengoleskan sebuah gel untuk membantu pemeriksaan USG.


“Hemm pinggang saya sering merasa sakit Dok. Dan juga perut bawah saya sering merasa kram di saat saat tertentu,” jawab Shiena sembari menggigit bibir bawah nya lantaran dokter Widhi mulai menekan nekan perut nya dengan perlahan.

__ADS_1


Sementara itu, Clayton yang sejak tadi diam, matanya tidak berkedip sedikitpun dari layar monitor di depan nya.


“Itu hal yang wajar yah, karena kini usia kandungan kamu sudah memasuki minggu ke tiga puluh lima. Kamu bisa ikut senam ibu hamil atau juga bisa berjalan jalan santai setiap pagi agar melancarkan nanti saat persalinan,” ucap dokter Widhi menjelaskan, “Nah, dia sangat aktif yah. Ini yang membuat kamu sering merasakan nyeri dan kram, karena dia sedang mencari jalan.”


“Jalan kemana?” tanya Clayton akhirnya ikut membuka suara.


“Jalan lahir,” jawab dokter Widhi singkat, “Dia belum masuk panggul, jadi harus sering di buat olah raga yah, biar segera masuk ke dalam panggul.”


“Dimana letak jalan nya?” tanya Clayton lagi yang begitu penasaran dan sejujurnya ia kurang mengerti dengan apa yang di bahas dokter Widhi dengan Shiena.


“Jalan nya di bawah, kenapa dia jungkir balik begitu?” celetuk Clayton seketika membuat dokter Widhi dan Shiena melongo, “Bukankah harusnya dia melangkahkan kaki nya ke arah jalan yang di maksud, kenapa dia malah jungkir balik dan kepala nya di bawah begitu?”


“Apakah anak ku akan menjadi bodoh?” celetuk Clayton lagi yang membuat Sheina langsung menatap nya tajam dan tak percaya, “Sayang, apakah dulu nilai pelajaran mu begitu jelek? Kamu lihat anak kita.” Imbuh nya lagi tanpa sadar memanggil Shiena dengan sebutan sayang.


Deg!

__ADS_1


Antara senang namun juga kesal, karena secara tidak sengaja, Clayton menghina kebodohan nya. Padahal sewaktu sekolah, Shiena selalu mendapatkan juara kelas. Bagaimana bisa Clayton menyebut dirinya bodoh.


“Hey boy, balikkan tubuh kamu. Cepat lah keluar agar bisa bertemu papa. Dan nanti, papa yang akan mengajarkan kamu banyak hal agar pandai,” ucap Clayton sedikit berbisik di perut Shiena.


Dug!


Dan benar saja, bayi di dalam perut Shiena segera merespon dengan cepat. Bayi itu langsung menendang setelah mendapatkan bisikan dari sang ayah, membuat Shiena seketika meringis menahan nyeri kembali.


“Bukan anak ku yang bodoh! Tapi ayah nya!” seru Shiena dengan kesal, spontan saja ia langsung memukul bahu Clayton dengan cukup keras.


“Aku yang penasaran, dulu sewaktu kamu sekolah ngapain saja sih!” cetus Shiena lagi, “Mana ada ceritanya bayi keluar harus kaki duluan. Tentu saja posisi dia sudah bagus berada di bawah karena kepala nya duluan yang akan keluar!”


“Kamu kalau berjalan memakai apa? Kepala apa kaki?” tanya Clayton menahan kesal menatap istri nya.


“Memang orang berjalan dengan menggunakan kaki. Tapi orang mencari jalan menggunakan mata, dan mata itu ada di kepala.” Cetus Shiena dengan nafas sedikit memburu, “Ketika kamu tersesat, kamu masih bisa menemukan jalan keluar tanpa kaki . Tapi kamu gak akan bisa mencari jalan keluar bila tidak memiliki kepala!”

__ADS_1


“Maaf permisi! bisa tolong berhenti!" ucap dokter Widhi dengan suara yang cukup tinggi mencoba melerai perdebatan antar suami istri di depan nya. Ia pun langsung menarik nafas nya sedalam mungkin sebelum menjelaskan lebih lanjut.


__ADS_2