Penjara Hati Sang Mafia

Penjara Hati Sang Mafia
Kulkas mesum!


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Kakak!" seru Claudia langsung menatap kesal pada kakak nya, ketika Clayton baru saja membuka pintu mobil nya.


"Clau pikir, kakak udah pergi lagi!" imbuh nya seraya kini ia memeluk sang kakak dengan begitu erat.


Ya, sejak Clau pulang dari sekolah, ia segera mencari keberadaan sang kakak. Dan ketika ia tidak menemukan nya, ia menangis sekencang mungkin karena mengira bahwa Clayton sudah pergi lagi meninggalkan Rumah.


"Kenapa kau jadi sangat cengeng?" Clayton hanya menghela nafas nya dengan kasar dan menggelengkan kepala.


"Biarin, yang penting masih cantik kok," jawab Clau tanpa perduli, ia segera menggandeng tangan kakak nya dan membawa nya masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, Shiena yang melihat interaksi antara Clayton dan adik nya. Merasa sedikit iri, andai saja dirinya memiliki seorang kakak. Mungkin, kakak nya bisa selalu melindungi nya dan menjaga nya. Ia bisa bermanja manja, mengeluh dan sharing kepada kakak nya. Namun, semua itu hanya mimpi belaka.


Jangankan seorang kakak, orang tua saja kini dirinya tidak punya.

__ADS_1


Huffftt


Shiena menghela nafas nya dengan kasar, lalu segera mengambil beberapa barang belanjaan nya dan membawa masuk ke dalam rumah.


"Shiena, kenapa tidak minta tolong saja. Di luar ada—"


"Tidak apa Bunda. Hanya sedikit kok, Shiena bisa membawa nya sendiri," ujar Shiena tersenyum ketika bunda menghampiri nya dan hendak membantu nya membawa belanjaan.


Memang benar, ketika di luar tadi. Shiena hendak membawa belanjaan nya, sudah di hampiri beberapa pelayan atau pengawal yang ingin membawakan belanjaan nya. Hanya saja, Shiena menolak, karena ia tidak mau terlalu merepotkan di sana. Lagi pula, belanjaan nya tidak banyak dan ia bisa membawa nya seorang diri.


"Dimana Clayton?" tanya bunda Ella ketika tidak melihat keberadaan putra nya.


Bunda Ella menganggukkan kepala, lalu segera menyuruh Shiena agar istirahat.


Hari demi hari berlalu. Tanpa terasa, satu minggu sudah Clayton dan Shiena di rumah utama. Tidak ada perkembangan apapun dalam hubungan keduanya. Hanya saja, di sana Shiena merasa lega karena kembali merasakan kasih sayang seorang ibu. Bila boleh memilih, mungkin Shiena akan lebih memilih tinggal di Jakarta daripada harus kembali ke Italia dengan Clayton. Tanpa ada nya mami dan papi nya yang entah pada kemana meninggalkan nya seorang diri.

__ADS_1


"Tidurlah," ujar Clayton begitu dingin tanpa menatap kepada Shiena.


"Hemm," jawab Shiena sedikit menguap namun begitu enggan untuk menutup mata nya. Ia masih fokus menatap pemandangan di balik kaca jendela pesawat pribadi milik Clayton.


Sementara itu, Clayton yang jengah melihat Shiena terus menguap namun enggan untuk istirahat menjadi sangat gemas sendiri.


"Tidur!" tekan Clayton sekali lagi, namun kini di iringi dengan tangan nya yang menekan kepala Shiena agar bersandar pada bahu nya.


Sehingga tanpa sadar membuat degup jantung keduanya semakin berlomba beradu suara. Terlebih ketika Shiena mendongakkan kepala menatap ke arah Clayton, seolah hendak protes, namun tak jadi karena lidah Shiena mendadak menjadi kelu.


"Kalau kau tidak tidur, apakah aku harus membuat mu lelah dulu? kita bisa—"


"Aku sudah tidur!" jawab Shiena dengan cepat menutup mata nya, ia tahu maksud dari perkataan Clayton yang akan membuat nya lelah.


Laki laki satu itu memang memiliki tingkat kemesuman yang luar binasa. Sehingga membuat Shiena tidak memiliki pilihan lain kecuali benar benar tidur. Daripada ia harus melayani Clayton kembali di dalam pesawat.

__ADS_1


Shiena sudah merasa sangat lelah, karena selama di rumah utama hampir setiap malam dirinya tidak bisa tidur akibat ulah Clayton. Dan kini, ia ingin istirahat dengan menikmati pemandangan awan, namun malah mendapatkan ancaman seperti itu. Bukankah sangat menyebalkan? pikir Shiena.


'Dasar kulkas mesuum!' umpat Shiena dalam hatinya tanpa berani untuk membuka mata.


__ADS_2