
...~Happy Reading~...
Deg!
Pagi hari, ketika Shiena membuka mata, ia begitu terkejut karena hal pertama yang ia lihat adalah wajah suami nya yang berada tepat di depan wajah nya. Jantung nya seketika berdegup dengan begitu cepat, bibir nya melengkung membentuk sebuah senyuman kebahagiaan, ia tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba. Setelah sekian lama dirinya menunggu, akhirnya ia bisa kembali berada di pelukan suaminya, walau entah sadar atau tidak. Yang jelas kini, Shiena merasa sangat bahagia karena bisa merasakan pelukan hangat suami nya lagi.
Tangan mungil nya terulur untuk menyentuh wajah suami nya dengan begitu lembut agar tidak membangunkan sang empu nya.
“Terimakasih,” gumam Shiena pelan dengan wajah yang masih terus tersenyum.
Tidak ingin mengganggu atau membangunkan suami nya. Shiena pun segera beranjak dan bangun. Namun, baru saja dirinya menurunkan kaki nya ke lantai, dengan posisi masih terduduk di tempat tidur, tiba tiba ia merasakan sebuah lengan kekar merengkuh nya dari belakang. Tangan kekar itu langsung mengusap perut besar nya dengan begitu pelan dan penuh kelembutan.
“Kamu mau kemana?” tanya nya dengan suara yang masih serak khas bangun tidur.
__ADS_1
“A—aku, emmt... aku mau mandi,” jawab Shiena masih sedikit gugup.
“Ini masih pagi,” gumam Clayton lagi setelah melirik ke arah jam di dinding nya.
“A—aku ... aaaahhhh!” pekik Shiena ketika Clayton malah menarik tubuh nya hingga kembali telentang di tempat tidur, dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
“Tidur lagi,” kata Clayton lalu ia kembali menutup mata nya, dan memeluk Shiena. Bahkan, ia mengunci kaki Shiena dengan kaki nya agar Shiena tidak beranjak dari tempat tidur.
“Clay, ja—jangan seperti ini. A—aku harus bangun,” gumam Shiena yang merasakan tubuh nya kaku lantaran tidak bisa bergerak.
“Clay, aku harus membantu bunda untuk membuat sarapan,” kata Shiena lagi membuat alasan.
“Apakah ayah ku sudah jatuh miskin sampai tak bisa membayar pembantu? Kenapa harus kamu yang memasak!” ujar Clayton tiba- tiba menjadi sangat ketus.
__ADS_1
“Hah!” Tentu saja Shiena langsung terkejut, mendengar suara ketusan Clayton yang mengatai ayah nya, “Bu—bukan begitu maksud ku. A—aku ... “
“Sudahlah, jangan pikirkan masakan. BUkankah kamu bilang kalau kamu istri ku? Ya sudah, tugas mu berada di sisi ku, bukan di dapur!” kata Clayton tak ingin di bantah lagi.
Shiena pun hanya bisa menganggukkan kepala nya dengan pasrah. Di satu sisi, ia bersyukur karena suami nya mau berlama- lama dengan nya. Namun, di sisi lain, ia juga bingung mengapa Clayton sangat berbeda dengan biasanya. Bahkan, ketika Clayton belum hilang ingatan, Clayton juga tidak akan mengekang nya seperti ini.
“Clay, kepala kamu baik baik saja kan?” tanya Shiena pelan dan hampir tak terdengar, ia segera menggigit bibir nya karena takut Clayton akan marah.
Dan benar saja, mendengar pertanyaan dari istrinya, Clayton langsung membuka mata nya dan menatap sang istri dengan cukup tajam.
“Bu—bukan begitu, aku hanya merasa, emmmtt kamu sedikit aneh,” imbuh nya langsung menundukkan kepala nya agar tidak menatap wajah Clayton.
“Katakan, apa yang aneh? Apakah aku harus bersikap dingin dan kasar pada mu? BUkankah ini yang kamu inginkan? Lantas aku harus bagaimana? Semua orang memaksa ku untuk memperlakukan mu dengan baik. Orang tua ku, adik ku bahkan para sahabat ku ikut campur urusan ku. Sementara aku tidak ingat apapun bagaimana dulu aku memperlakukan mu. Lantas aku harus bagaimana? Jelaskan!” kata Clayton pajang lebar seketika membuat Shiena begitu terkejut.
__ADS_1
Sakit, tentu saja. Shiena merasakan dada nya terasa sangat sesak. Bahwa ternyata sikap Clayton semanis ini bukan dari dalam hati nya. Melainkan karena suruhan orang orang di sekitar nya. Ingin rasanya Shiena berteriak dan menangis, namun ia hanya menarik nafas nya panjang dan membuang nya perlahan. Sebisa mungkin ia berusaha untuk menahan air mata nya agar tidak menetes.
“Ja—jangan dengarkan orang lain.Cukup dengarkan kata hati mu sendiri. Kalau memang kamu tidak bisa menganggap ku sebagai istri. Biarkan, jangan paksakan diri kamu. Karena itu hanya akan menyakiti kita berdua. Jangan paksakan,” ucap Shiena dengan suara serak menahan tangis, ia pun segera bangkit perlahan seraya memegang perut nya dan berjalan menuju kamar mandi.