Penjara Hati Sang Mafia

Penjara Hati Sang Mafia
Nyawa balas nyawa


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Aku akan menikahi mu!" ucap Clayton dengan raut wajah datar nya dan tanpa menatap ke arah Shiena.


Kini keduanya tengah berbaring di atas tempat tidur yang sama. zsetelah keduanya berhasil mencapai puncak bersama, Clayton langsung ambruk dan menatap langit langit kamar. Sementara Shiena, ia memilih memunggungi Clayton dan enggan untuk menimpali ucapan nya.


"Apa kau tidak mendengar ku!" sentak Clayton dan kembali mengukung tubuh Shiena.


"A—aku mendengar nya! lepasin!" Shiena berusaha memberontak dan mencengkram erat selimut yang menutupi bagian dada nya.


"Jadilah kucing penurut. Jangan membuat ku marah, atau kau akan tau sendiri akibat nya!" bisik Clayton dengan suara serak nya, hingga membuat Shiena seketika memejamkan mata kembali.


"Sekarang bersihkan tubuh mu, dan ikut aku!" Clayton hendak bangkit dan kembali memakai pakaian nya di depan Shiena. Ia tidak perduli sama sekian, bahkan seolah urat malu nya sudah putus.


"Kemana? ini aku masih sakit, bisakah kita pergi besok?" tanya Shiena menahan isak tangis nya.


"Sekarang atau tidak sama sekali!"

__ADS_1


"Tapi—"


Shiena langsung menghentikan ucapan nya. Ia sudah tidak membantah Clayton lagi, kala laki laki itu memberikan nya tatapan yang begitu tajam dan menusuk.


Sshhhtt


Dengan langkah gontai menahan perih nya. Shiena mulai beranjak dan menuju kamar mandi nya. Setiap kali ia menggerakkan kaki, maka ia akan meringis menahan perih. Bahkan tak jarang air mata nya yang mengalir deras membasahi pipi nya.


Sementara itu, lagi dan lagi setiap kali Clayton keluar dari kamar Shiena. Maka ia akan mendapatkan cecaran dari dua manusia yang selama ini menemani nya.


Tentu saja hal itu membuat kedua temannya terkejut dan membola.


"Kamu serius? tapi dia kan—"


"Ini akan semakin memudahkan rencana ku berikut nya!" saut Clayton dengan cepat di sertai seringai licik di wajah nya.


"Sumpah, aku udah gak ngerti lagi sama jalan pikiran kamu. Terserah, aku cuti. Besok aku harus kembali ke Jakarta, karena aku sudah terlalu lama disini, " kata Edward seraya mengangkat kedua tangan nya di udara.

__ADS_1


"Pergilah, tidak ada yang menahan mu disini, " ujar Clayton cuek, lalu segera meninggalkan Edward dan Davis begitu saja.


"Menurut mu bagaimana?" tanya Edward menyenggol baju Davis yang berada di samping nya.


"Entahlah, biarkan saja. Biar dia menyesal dengan sendiri nya. Karena percuma kita melarang juga!" kata Davis menghela nafas nya dengan berat.


Edward pun hanya menganggukkan kepala nya saja. Lalu ia segera bergegas pergi ke rumah kedua ayah nya untuk berpamitan karena ia akan memilih penerbangan malam ini.


Lebih cepat, lebih baik bukan? pikir Edward tersenyum bahagia.


Di dalam kamar nya, Clayton hanya berdiri mematung di depan kaca yang begitu besar. Ia menatap pantulan diri nya di dalam cermin. Ia tidak percaya bahwa semua berjalan di luar rencana nya. Dan ia juga tidak mengerti dengan apa yang sudah ia lakukan saat ini.


"Aku pastikan, kalian akan membayar semua nya satu per satu!" gumam Clayton meremas tangan nya dengan kuat.


Clayton menyeringai puas membayangkan bagaimana nanti dirinya sukses membalas dendam. Dan mengembalikan semua keadaan seperti semula. Senyum seringai yang begitu menyeramkan dan menakutkan bagi siapa pun yang melihat nya. Tatapan matanya begitu tajam seolah siap menerkam mangsa nya.


"Kaki, di balas dengan kaki. Tangan, di balas dengan tangan, jantung di balas dengan jantung, dan nyawa harus di balas dengan nyawa!"

__ADS_1


__ADS_2