Penjara Hati Sang Mafia

Penjara Hati Sang Mafia
Bekerja


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Clayton, lepaskan. Aku mau mandi,” gumam Shiena pelan, seraya mencoba menggeser lengan kokoh suami nya yang kini memeluk dirinya dari belakang.


Setelah pergumulan panas yang mereka lakukan sejak semalam, kini rasanya tubuh Shiena sangat remuk dan lengket. Ia ingin berendam dalam bathtub dengan air hangat, mungkin itu bisa merilexkan tubuh nya yang teramat sangat lelah, seperti saat ini. Tapi lihatlah, suaminya sejak tadi begitu enggan melepaskan rengkuhan nya. Semakin Shiena berusaha melepaskan, maka Clayton akan semakin mengeratkan pelukan nya.


“Kita mandi bersama,” balas Clayton langsung membuka mata ya.


“Gak mau!” tolak Shiena dengan cepat, “Biarkan aku istirahat, sebentar saja,” pinta Shiena memohon dengan amat sangat.


“Mandi bersama, atau tidak usah sama sekali!” kata Clayton tersenyum menyeringai, lalu ia kembali memejamkan mata dan mengeratkan pelukan nya lagi.


“Clay, apa kamu tidak bekerja? Apakah kamu pengangguran? Selama kita menikah, aku tidak pernah melihat mu bekerja.” Celetuk Shiena menghela napas nya kasar, membuat Clayton langsung membuka mata kembali dan melepaskan pelukan nya.


“Coba katakan sekali lagi?” ucap Clayton langsung membalikkan tubuh Shiena agar menatap ke arah nya.

__ADS_1


“Kita disini sudah tiga hari. Dan selama itu juga kamu terus mengurung ku disini. Apakah kamu tidak capek? Apa kamu tidak punya kesibukan lain? Oke, kalau kamu memang akan menjadikan ku jalaang karena hutang orang tua ku. Tapi apakah kamu tidak takut semakin miskin kalau tidak bekerja? Uang kamu sudah banyak di bawa kabur oleh Papi ku, di tambah uang yang kamu pinjamkan kepada mami ku. Dan sekarang? Apakah kamu yakin uang kamu masih cukup untuk hidup? Kenapa kamu tidak mau bekerja?” ucap Shiena panjang lebar tanpa adanya titik koma, membuat Clayton tertawa.


Deg!


Untuk pertama kalinya, Shiena melihat suaminya tertawa begitu lepas. Entah mengapa, melihat Clayton yang tertawa, membuat jantung Shiena semakin berdetak begitu cepat. Bahkan, saat ketika bersama keluarga nya pun, Clayton tidak pernah tertawa. Hanya mungkin tersenyum dan terkekeh kecil bila bersama Claudya, dan sekarang ia tertawa. Apakah Shiena tidak salah lihat? batin nya.


“Kenapa kamu tertawa? Benar bukan apa yang ku katakan?” tanya Shiena lagi berdecak karena pertanyaan nya malah di tertawakan oleh Clayton. “Aku tidak takut hidup susah, miskin. Aku sudah pernah merasakan nya walaupun hanya beberapa bulan. Tapi aku sudah tahu rasanya, tapi—“


“Tapi apa?” potong Clayton dengan cepat, “Apa kau pikir aku semiskin itu?”


“Cckck, meskipun aku tidak pergi bekerja, aku masih mampu menghidupi ratusan bahkan ribuan orang sekalipun!” tekan Clayton berdecak.


“Apa kamu punya perusahaan? Dimana? Apa namanya? Bolehkah aku ikut bekerja?” tanya Shiena begitu semangat, membuat wajah suami nya kini semakin berdecak dan kesal.


“Kamu ingin bekerja?” tanya Clayton mengerutkan dahi nya menatap Shiena dengan intens.

__ADS_1


Dengan cepat, Shiena langsung menganggukkan kepala nya. Shiena berfikir, bila dirinya bisa bekerja, maka ia bisa menghindari serangan serangan dari Clayton. Selain itu, dirinya juga bisa mencicil hutang orang tua nya. Walaupun ia tidak tau, kapan ia bisa melunasi hutang itu dan pergi sejauh mungkin dari Clayton.


“Apakah uang yang ku berikan padamu, kurang?” tanya Clayton, karena ia selalu mengirimkan uang ke rekening Shiena.


“Uang apa?” kata Shiena malah balik bertanya. Ya, memang setiap Clayton mengirimkan uang, ia tidak pernah mengatakan apapun kepada Shiena. Clayton sengaja memberikan uang sebagai hitungan setiap kali Shiena melayani nya. Namun, Shiena tidak pernah tahu akan hal itu, karena ia tidak memiliki mobile bangking atau semacam nya. Dan juga, sejak menikah ia tidak pernah lagi mengecek saldo ATM nya.


“Baiklah, kalau kamu mau bekerja. Gampang,” ucap Clayton dengan senyum menyeringai.


“Benarkah? Aku bisa bekerja di kantor mu? EH tapi tunggu, kamu belum menjawab pertanyaan ku. Apakah kamu punya kantor?” tanya Shiena sekali lagi dan kini ia memanyunkan bibir nya tidak sabar menunggu jawaban Clayton.


“Tidak perlu ke kantor. Kamu cukup bekerja di rumah,” jawab Clayton begitu santai.


“Kerja di rumah?” Kening Shiena kembali berkerut, ia masih mencerna ucapan Clayton cukup lama.


“Hemm, kamu bisa bekerja di rumah. Karena pekerjaan mu sangat mudah. Cukup bernyanyi di bawah ku, dan nikmati setiap waktu nya,” bisik Clayton yang tiba tiba sudah menindih tubuh Shiena, hingga membuat mata Shiena membulat dengan sempurna.

__ADS_1


“Aku lebih memilih jadi pengangguran, daripada begini!” jerit Shiena dan berusaha memberontak, namun apalah daya, tenaga nya tidak sebanding dengan tenaga Clayton. Di tambah, posisi keduanya masih sama sama polos, hingga membuat sesuatu yang tadi sempat tertidur mudah terbangun. Shiena tidak bisa memberontak lagi, dan kini dirinya hanya bisa pasrah di bawah kungkungan suami nya.


__ADS_2