
...~Happy Reading~...
Malam sudah tiba, dua insan yang sejak tadi saling berdiam, kini akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.
“A—aku akan tidur di kamar sebelah, bila kamu tidak nyaman dengan keberadaan ku,” ucap wanita yang sedang mengandung enam bulan itu dengan menundukkan kepala ya.
Meskipun tidak mengingat, namun Clayton juga tidak tega melihat wanita yang di katakan semua orang bahwa dia adalah istrinya, menunduk menahan tangis seperti itu. Wajah nya memang datar, namun hatinya terasa seperti ter cubit, ketika melihat wajah wanita polos itu mengusap perut besar nya.
“Tidurlah, kamu pasti lelah,” jawab Clayton masih dengan wajah datar nya, namun ia menatap lekat pada wajah dan tubuh Shiena yang kini memang terlihat semakin berisi.
Shiena menggelengkan kepala nya, “Aku tidak mau mengganggu istirahat mu. Kamu masih dalam masa pemulihan, aku akan pindah.”
Shiena segera beranjak dari tempat duduk nya. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba tiba ia merasakan sebuah tendangan yang cukup membuatnya memekik karena sakit dan juga terkejut.
__ADS_1
Dug!
“Auwhh!”
Hampir saja dirinya tersungkur, bila saja Clayton tidak menangkap nya. Dengan perlahan, Clayton menuntun Shiena untuk kembali duduk di sisi tempat tidur.
“Apakah sakit?” tanya Clayton sedikit mengerutkan dahi saat melihat perut Shiena yang begitu besar.
“Hah!” Lagi dan lagi, Clayton di buat takjub ketika melihat perut Shiena yang terus saja bergerak menonjol ke sana dan kemari, dan sesekali ia juga melirik ke arah wajah Shiena yang tengah menggigit bibir bawah nya.
“Bolehkan aku memegang nya?” tanya Clayton pelan sambil mendongakkan kepala, karena entah sejak kapan laki- laki itu sudah merubah posisi nya dengan duduk berjongkok di depan Shiena.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Shiena berupa anggukan kepala, Clayton mulai memberanikan tangan nya untuk memegang perut itu dengan sangat perlahan dan hati- hati.
__ADS_1
Dug!
“Auwhh!”
Setiap kali Clayton menyentuh perut itu, maka Shiena akan terus memekik terkejut. Karen bayi yang ada di kandungan Shiena akan langsung merespon nya dengan memberikan tendangan maut, hingga membuat Shiena sedikit merasakan ngilu.
“Slow baby, ini Papa,” gumam Clayton setengah berbisik dan masih mengusap perut Shiena, “Bisakah kamu lebih lembut? Apa kamu tidak kasihan kepada mama mu hem?”
“Nah, sehat selalu ya. Harus jadi anak yang kuat agar kita bisa segera bertemu,” ucap Clayton kembali mengajak anak nya mengobrol.
Dengan perlahan, Shiena memundurkan posisi nya, hingga menyentuh head board agar dirinya bisa bersandar. Pinggang nya sejak tadi sudah cukup terasa begitu pegal karena terlalu lama duduk dengan menjadikan kedua tangan nya bertumpu di belakang. Tak hanya Shiena yang mengubah posisi, kini Clayton pun juga ikut bangkit dan naik ke atas tempat tidur. Ia membantu Shiena untuk mencari posisi nyaman, lalu dirinya tanpa sadar langsung meletakkan kepala nya pada paha Shiena. Ia melanjutkan kembali obrolan obrolan perdana nya dengan sang calon bayi nya.
‘Kamu pasti senang kan? Papa sudah bersama kita. Inilah momen yang kita tunggu selama ini, dan mama berharap semoga papa akan terus bersama dengan kita seperti ini,’ gumam Shiena dalam hati nya.
__ADS_1
Senyum nya tak pernah luntur, ketika mendengar ucapan demi ucapan yang di katakan oleh Clayton kepada anak nya yang masih berada di dalam perut. Dan entah berapa lama, Clayton mengobrol dengan bayinya yang masih berada di perut. Hingga tanpa sadar, membuat Shiena tertidur sambil bersandar pada head board. Karena tak tega, Clayton pun segera tersadar dan bangun dari posisi nya. Ia perlahan membenarkan posisi Shiena agar tidur dengan benar, tak lupa ia juga menarik selimut agar anak nya tetap hangat di dalam sana.
‘Begini rasanya,’ gumam Clayton sedikit menyunggingkan senyum melihat istrinya tertidur pulas dengan perut yang sudah begitu besar.