
...~Happy Reading~...
“Clay, apa yang kamu lakukan!” pekik Shiena ketika Clayton kini mengikat kedua tangan nya pada sudut tempat tidur.
Sementara Clayton, yang mendengar jeritan Shiena yang terus memberontak ingin di lepaskan. Seolah sengaja menulikan telinga nya, bahkan kini wajah nya terkesan sangat datar dan begitu dingin, hingga membuat air mata Shiena semakin deras membasahi wajah nya.
“Clay, aku mohon lepasin aku. Sakit Clay!” pinta Shiena ketika merasakan ikatan di tangan nya terasa begitu menyakitkan, terlebih setiap kali dirinya bergerak dan memberontak hingga membuat pergelangan tangan nya membekas dan berdarah.
“Sssttt, kamu harus jadi kucing yang penurut. Jangan sampai kamu bertemu dengan kucing besar ku, diam disini dan jangan sampai mereka menemukan mu,” bisik Clayton seketika membuat Shiena begitu sulit menelan saliva nya.
“A—apa yang kamu katakan? Apa maksud kamu? Aku mohon lepasin hiks hiks,” ucap Shiena terus menangis dan berusaha melepaskan ikatan tangan nya.
__ADS_1
“Aku bilang diam!” bentak Clayton untuk pertama kali nya bernada kasar dan tinggi kepada Shiena.
Mungkin dulu Clayton pernah kasar padanya, namun bentakan serta perlakuan kasar Clayton kali ini benar benar sangat berbeda di banding dulu. Shiena tidak takut, hanya saja ia merasa sakit ketika melihat raut wajah Clayton yang seolah begitu marah padanya.
“Kamu cukup diam disini, tunggu sampai aku kembali nanti. Jangan bersuara, atau kamu akan ketahuan oleh mereka.”
“Me—mereka siapa? Aku gak ngerti, aku mohon Clay, katakan. Jangan—“
Ciuman itu sangat singkat, namun begitu membekas untuk Shiena. Clayton sudah melepaskan pagutan nya, ia segera pergi meninggalkan ruangan yang memang sudah ia siapkan untuk Shiena. Setelah mengunci nya, Clayton kembali menggeser Vas besar dan lemari untuk menutupi pintu ruangan tersebut.
Memang tidak akan ada yang tahu bahwa di sana ada sebuah kamar. Karena selain memang warna pintu yang senada dengan dinding. Tapi Clayton juga menutup nya dengan sebuah Vas dan lemari hingga hanya terlihat sedikit celah untuk pintu tersebut. Sehingga bila melihat dengan mata kosong maka tidak akan melihat bahwa di sana ada sebuah ruangan tersembunyi.
__ADS_1
“Mereka sudah datang,” ujar Davis yang ketika melihat Clayton masih berdiri di depan lemari.
“Berapa banyak pasukan yang mereka bawa?” tanya Clayton dengan raut wajah datar nya.
Sementara itu, Davis hanya menggelengkan kepala nya karena tidak bisa mengira berapa banyak musuh yang datang menyerang ke mansion utama nya.
Ya, hari ini, Clayton memang sengaja membuka pintu rahasia nya untuk persembunyian Shiena. Karena ia sudah mendapatkan kabar bahwa akan ada musuh yang datang menyerang mansion nya. Lari pun percuma karena mansion nya sudah di kepung baik dari darat dan udara. Bukan dia takut, bahkan untuk mati pun Clayton tidak pernah takut. Hanya saja, menurut nya ini belum saat nya dia mati, terlebih bila harus melihat Shiena yang tidak tahu apapun menjadi korban nya.
Woah, benarkah ia tidak rela Shiena terluka?
Clayton segera menggelengkan kepala nya ketika kalah berdebat dengan hati dan pikiran nya. Ia berusaha untuk menolak kesadaran nya bahwa ia mulai nyaman dengan Shiena. Ia hanya tidak ingin melihat Shiena mati di tangan musuh nya. Clayton hanya akan membiarkan Shiena mati di tangan nya.
__ADS_1