
...~Happy Reading~...
Setelah perdebatan panjang dan lebar, kini akhirnya Shiena pergi ke rumah sakit dengan di antar kan oleh Clayton. Bahkan, Clayton juga tidak membawa supir seperti biasa. Shiena sendiri masih sedikit bingung dengan perubahan sikap Clayton yang sangat drastis hari ini. Shiena berpikir, setelah apa yang ia katakan pagi tadi, maka Clayton akan benar benar menjauhi nya. Namun ternyata ia salah, Clayton malah semakin dekat dan posesif dengan nya.
Ingin rasanya Shiena bertanya kembali, namun ia takut bila nanti ternyata Clayton akan kembali marah padanya. Dan Shiena juga takut, bila nanti teryata hubungan nya akan semakin menjadi sangat jauh. Jujur, Shiena benar benar sangat membutuhkan Clayton berada di dekat nya, bukan hanya dirinya namun juga bayi nya.
“Selamat siang, perkenalkan saya dokter Toni yang akan menggantikan jadwal dokter Widhi,” ucap seorang dokter yang menyambut Shiena dan Clayton di ruang pemeriksaan.
“Sebentar dok, kemana dokter Widhi nya? Kenapa harus anda?” tanya Clayton sambil mencegah Shiena agar tidak duduk di kursi.
“Kebetulan, dokter Widhi sedang cuti. Hari ini adalah hari ulang tahu anak keduanya. Jadi—“
“Hanya sekedar ulang tahun. Tidak bisa begini dong, jelas jelas dia sudah tahu bagaimana jadwal jadwal pasien nya untuk periksa. Bahkan semalam istri saya sudah menghubungi beliau bahwa akan periksa hari ini, kenapa seenaknya saja dia tidak datang dan di gantikan dokter seperti anda? Apakah rumah sakit ini kekurangan dokter?” kata Clayton panjang lebar, seketika membuat Shiena dan dokter Toni melongo menatap tak percaya.
__ADS_1
“Maaf Pak, dokter seperti saya? Apa maksud anda?” tanya dokter Toni dengan menahan sedikit rasa geram nya.
“Hemm, maaf dok. Mungkin, mungkin maksud suami saya bukan seperti itu, maaf dok,” ujar Shiena sedikit menunduk tak enak hati kepada dokter.
“Tidak bisakah rumah sakit ini menerapkan pasien wanita harus dokte rwanita juga?mengapa harus anda yang menangani istri saya?” kata Clayton akhirnya menjelaskan walau masih terbilang ambigu.
“Mohon maaf Tuan, saya adalah dokter Obgyn. Apakah ada laki laki yang bisa mengandung? Dan itu jawaban nya, mengapa saya berada disini untuk mengecek kandungan istri anda!”
“Clay, sudah! Jangan begini,” kata Shiena semakin merasa tak enak kepada dokter Toni yang terlihat sudah sangat menahan kesal nya.
“Auuwhh, Clayton sakit!” pekik Shiena langsung menepis tangan Clayton yang mencengkram pergelangan tangan nya.
Clayton segera melepaskan tangan Shiena dengan cukup kasar karena Shiena lebih membela dokter Toni daripada dirinya. Terlebih juga, ternyata Shiena menerima begitu saja ketika dokter Toni mau memeriksa nya.
__ADS_1
Clayton mengambil ponsel nya yang berada di dalam saku jas nya, ia segera mengotak atik ponsel nya sebentar untuk mencari nomor seseorang. Setelah mendapatkan nya, ia segera menghubungi nomor tersebut.
‘Halo,’ jawab seseorang di seberang sana.
“Lagi ngapain? Ini masih siang!”cetus Clayton yang merasa semakin gerah karena amarah nya masih memuncak. Di tambah, ia harus mendengarkan suara yang sangat tak patut untuk dia dengar.
‘Apakah harus ku jawab? Huh!’ terdengar suara dengusan di seberang sana, membuat Clayton ikut mendengus, ‘Ada apa sih?”
“Apakah rumah sakit mu bangkrut? Kenapa kamu minim dokter perempuan, kenapa harus ada dokter kandungan, laki- laki. Dan juga, kenapa kamu membiarkan dokter mu bersenang senang padahal ini jam kerja!” celetuk Clayton panjang lebar meluapkan kekesalan nya, seketika membuat Shiena, dokter Toni dan seseorang yang di seberang sana menggelengkan kepala nya.
“Aku tunggu disini tiga puluh menit. Hubungi dokter Widhi, suruh dia segera kesini. Anggap ini sebagai imbalan karena aku kamu bisa merasakan seperti sekarang!” ucap Clayton lalu ia segera menutup panggilan telfon nya.
“Kulkas kampreeettt!” pekik seorang laki- laki itu yang tak lain adalah Kenzo. Ia langsung melempar ponsel nya ke kasur dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
__ADS_1
Sementara Naura yang tidak mengerti apapun hanya menatap bingung wajah suaminya yang meninggalkan nya begitu saja dengan wajah kesal.
‘Pada kenapa sih?’ gumam Naura menggaruk kepala nya yang tidak gatal.