Penjara Hati Sang Mafia

Penjara Hati Sang Mafia
Perlu bantuan?


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Clay, kamu yakin mau ke kantor?” tanya ayah Stiev ketika melihat penampilan anak nya yang Sudah rapi dengan pakaian kantor.


“Hem,’ jawab Clayton singkat, bahkan ia begitu enggan menatap sang ayah ketika berbicara. Fokus nya kini hanya pada makanan nya, dan memikirkan kembali semua ucapan yang di katakan oleh Shiena.


Tidak usah di paksakan, karena hanya akan menyakiti kita berdua.


Kata – kata itu terus terngiang di telinga Clayton. Tidak hanya pikiran nya yang pusing memikirkan hal itu, namun hati nya juga terasa begitu sesak ketika membayangkan kembali bagaimana saat Shiena mengatakan hal itu pagi tadi. Apakah dirinya begitu kelewatan? Batin Clayton.


“Clay, dimana istri kamu?” tanya bunda Ella yang baru saja bergabung di meja makan.


“Masih istirahat Bun, dia bilang mau sarapan di kamar saja.” Jawab Clayton masih dengan wajah datar nya.


“Kakak, jam berapa jadwal periksa, kakak ipar? Claudy mau ikut lagi. Ihhh Claudy gak sabar banget buat ketemu sama sama my little boy,” kata Claudya bertanya kepada sang kakak.

__ADS_1


Seketika itu juga, Clayton langsung menghentikan makan nya. Ia menatap wajah sang adik yang begitu sumringah dengan dahi berkerut. Jadwal periksa, bahkan Clayton tidak mengetahui hal itu. Tentu saja ia bingung.


“Clay, lebih baik kamu urungkan niat bekerja hari ini. Selain kesehatan kamu masih belum pulih sepenuh nya, kamu juga lebih baik temani Shiena periksa hari ini,” ujar bunda Ella.


“Nah, bener itu kata Bunda. Tapi tungguin Claudy pulang sekolah ya, plisss!” pinta Claudy mengantupkan dua tangan nya di dagu menatap kakak nya.


“Claudy, hari ini kamu ada les. Jangan bolos,” ucap ayah Stive ikut menimpali permintaan putri nya.


“Iks, ayah. Biasanya juga Claudy bolos kalau kakak ipar mau periksa!” kata Claudy langsung berdecak kesal.


“Itu dulu, sekarang kakak kamu sudah sehat. Biarkan dia yang mengantarkan istri nya. Tugas kamu sekolah yang benar!” kata ayah Stive datar dan penuh penekanan.


“Menyebalkan,” cetus Claudya, ia segera mengakhiri sarapan pagi nya, lalu pamit dan pergi ke sekolah.


Sementara itu, Clayton masih terdiam. Mengapa Shiena tidak mengatakan padanya bila hari ini ia ada jadwal kontrol kandungan. Mengapa dirinya harus tahu dari adik nya, batin Clayton sedikit tak terima.

__ADS_1


“Clay naik ke atas dulu Bun,” ujar Clayton mulai beranjak dari tempat duduk nya. Ia ingin kembali ke kamar untuk menanyakan langsung kepada Shiena.


Cklek!


Tanpa mengetuk pintu, Clayton langsung membuka pintu kamar nya begitu saja. Sehingga ia bisa melihat apa yang di lakukan oleh Shiena saat itu.


Shiena masih belum menyadari kedatangan Clayton. Karena wanita itu tengah berdiri di depan kaca dengan perut terbuka lebar. Shiena sedang berusaha memasang penyangga perut yang baru saja ia beli kemarin, dan baru saja akan ia coba. Maka dari itu, ia berusaha untuk memasang nya di depan cermin yang berada di meja rias sebelah tempat tidur.


Sebenarnya, ada cermin yang berada di walk in closed. Hanya saja, cermin itu pecah beberapa hari yang lalu, dan belum sempat di ganti, sehingga mengharuskan Shiena untuk selalu memakai cermin yang berada di dalam kamar.


“Perlu bantuan?”


Deg!


Shiena langsung mengehentikan pergerakan tangan nya ketika mendengar suara yang begitu familiar di telinga nya.

__ADS_1


__ADS_2