
...~Happy Reading~...
“A—aku bisa sendiri,” kata Shiena menolak tawaran dari Clayton.
Shiena masih mengingat dengan jelas, bagaimana Clayton mengatakan bahwa ia terpaksa berbuat baik padanya, karena tuntutan dari teman dan keluarganya. Dan kini, Shiena tidak mau membuat Clayton semakin terpaksa dan tersiksa.
“Bukankah kamu mau ke kantor? Pergilah,” usir Shiena, lalu ia memilih pergi menuju walk in closed. Meskipun di sana tidak ada cermin besar, namun ia membawa sebuah cermin make up yang begitu mini. Tak apalah, batin nya, selama itu bisa membantu.
Sementara itu, Clayton yang melihat Shiena mengabaikan nya dan menolak bantuan dari nya, tidak menyerah begitu saja. Ia pun mengikuti Shiena ke walk in closed, dan melihat bagaimana sulit nya Shiena memasang korset tersebut.
“Dasar keras kepala!” celetuk Clayton datar, ia pun segera berjongkok di depan Shiena yang membantunya memakaikan korset penyangga perut.
“Aku bisa sendiri, Clay!” Shiena hendak menutup kembali pakaian atas nya yang sejak tadi ia singkap hingga atas perut. Namun dengan cepat juga Clayton langsung mendongak dan menatap nya dengan begitu tajam.
__ADS_1
“Diam!” kata Clayton penuh penekanan, lalu ia berusaha untuk memasang nya lagi.
Cukup sulit, bagi Clayton yang tidak terbiasa dan bahkan ia baru kali ini melihat benda seperti itu, hingga membuat nya begitu lama.
“Hanya tinggal di rekatkan itunya Clay,” kata Shiena menghela nafas nya cukup berat.
“Diam lah, aku sudah mengerti!” ucap Clayton tanpa menghiraukan Shiena.
“Clay!” pekik Shiena terkejut ketika melihat Clayton malah membuat alat penyangga nya.
“Benda itu rusak, dan tidak berguna. Jangan di pakai lagi!” kata Clayton datar dan langsung berdiri dari posisi nya.
Tentu saja hal itu membuat hati Shiena semakin kesal dan marah. Bagaimana bisa, Clayton melampiaskan kekesalan nya karena tidak bisa memasang alat penyangga perut dengan seperti itu. Mengapa harus membuang nya? Padahal bisa saja Clayton mengatakan bahwa ia tidak mengerti cara memasang nya atau bilang dia tidak bisa membantu, beres bukan. Kenapa harus di buang? Pikir Shiena begitu kesal.
__ADS_1
“Bukankah kamu mau periksa kandungan? Daripada kamu kesal dengan benda sialan itu, lebih baik kita berangkat sekarang!”
“Kita?” gumam Shiena membeo, dan menatap suami nya dengan tatapan bingung.
“Kalau bukan kita, siapa? Apakah kau akan pergi sendiri? Dengan supir? Atau—“ kata Clayton dengan nada tak suka.
“Cukup Clay! Kamu bisa keluar dulu. Maksud ku keluar dari kamar, lima menit saja,” pinta Shiena memohon karena sudah malas berdebat.
Sejak hilang ingatan, entah mengapa sifat Clayton sering berubah ubah tidak jelas, menurut Shiena. Terkadang baik, lembut, namun juga kadang kasar serta cuek, bahkan seperti saat ini tiba- tiba menjadi suami posesif.
Bukankah hal gila bila Clayton berbicara dengan nada seperti itu ketika menyangkut kepergian nya dengan supir? Nada bicara nya persis seperti seorang suami yang cemburu melihat istrinya pergi bersama laki- laki lain. Tapi sangat tidak mungkin bukan, bila Clayton cemburu apalagi dengan supir orang tuanya.
Shiena berharap bahwa memang Clayton sudah mulai melihat ke arah nya dan mulai membuka hati untuk nya. Ia tidak ingin Clayton mengingat semuanya, hanya saja ia berharap dan ingin, dirinya bisa membuka lembaran baru bersama dengan warna yang lebih cerah dan bahagia.
__ADS_1