
di rumah yana masih riuh dengan suara anak-anak berlarian di depan kios nya yana, halaman rumah yana begitu luas membuat anak-anak senang bisa bermain, rumput yang ada di halaman tidak sedikit menghalang niat mereka untuk bermain bermain.
emak-emak duduk berjejer di sepanjang tembok depan kios yana, yana sibuk melayani telatah anak-anak sambil berlarian sambik memesan bakso crispy, kadangkala kentang goreng. penghasilan dari kios bisa yana pergunakan untuk belanja lagi besok, uang dari hasil jualan brownis di kantin sekolah sudah tiga hari menunggak, membuat yana tidak bisa lagi berbelanja untuk kebutuhan kue nya.
" umi parah kali orang tu, kok bisa-bisanya dia ngak mau bayar uang kue kita, bilang nya besok dia kasih, sudah tiga hari loh umi!" merepet azham pada yana ketika mereka sedang asyik di dapur.
azham anaknya yana memang selalu membantu uminya bikin kue, azham tidak sampai hati membiarkan uminya sendirian di dapur, kalau ngak di bantu yana akan siap jika sampai larut malam, sejak di bantu azham, yana bisa siap jam sebelas malam. ayah yang selalu di rindu kan selama ini ngak pernah ada di rumah, terakhir di lihat azham pagi kemarin, ketika ayahnya pulang ngak jadi mangkal.
"mungkin besok sudah di kasih, kalau besok di kasih pulang nya terus belanja azham, barang umi banyak yang habis!" yana masih telaten menaruh toping di atas cup brownisnya.
jika di pikir-pikir untungnya ngak seberapa, apalagi sekarang bahan baku semua mahal, di bikin ukuran lebih kecil ngak ada yang beli, besar dikit berebutan, tapi kitanya yang rugi. yana tidak memikirkan uang berlebih, baginya cukup jajan untuk anaknya sehari-hari sudah lebih dari cukup.
" mudah-mudahan dia kasih ya umi!' ujar azham yang masih memerhatikan uminya menghiasi brownis.
malam makin larut, azham sudah beberapa kali menguap, dia sudah mengantuk berat, tapi di kuatkan bola matanya, dia harus menemani uminya yana menyelesaikan perkerjaan nya. hujan di luar belum ada tanda berhenti, makin lama makin deras ,atap rumah dari seng mengeluarkan suara yang sangat keras, sehinga suara uminya berbicara ngak bisa di dengar oleh azham.
" yuk masuk umi sudah siap ni?" ajak uminya, azham ngak bisa mendengar suara uminya, cuma azham bisa memahami isyarat tangan yang uminya tunjukan.
azham menghempas badannya di atas ranjang, mata azham sudah ngak bisa di ajak kompromi lagi, apalagi sekarang lagi turun hujan, bertambah enak tidurnya.
__ADS_1
rasya adiknya sudah tidur sejak tadi, rasya memang tipe cepat sekali tidur, jika waktu tidur tiba, di dalam tumpukan sampah pun rasya tetap akan bisa terlelap juga.
di kamar lain...
masuk aja ke kamar yana langsung terbayang akan wajah suaminya, pagi tadi suaminya meminta izin pamit pulang ke kampung sebentar, kata suaminya yana, faizal mendapatkan perkerjaan yang bagus di kampung nya, faizal akan pulang ke rumah seminggu sekali, yaitu pada hari gajian, yana menerima saja apa yang suaminya bilang.
selama ini pun yana hidup bersama anak-anak nya tanpa kehadiran dan bantuan faizal suaminya, tubuh yana yang kelelahan di bawa berbaring untuk beristirahat sejenak sebelum subuh menampakkan layarnya, tubuh yana sebenarnya sudah kelelahan tapi demi si buah hati harus tetap di kuatkan.
loteng kamar menjadi tempat yana melukis segala mimpi nya, apa ia akan menjadi kenyataan atau pun tidak, yang jelas yana akan tetap terus melukis mimpi-mimpi nya dan terus bermimpi, bermimpi untuk hidup yang lebih baik bersama anak-anak nya kelak.
entah berapa jam yana bermimpi akhirnya yana terbuai juga dalam mimpi, yana tertidur bersama anak bungsunya hafiz.
sesudah menunaikan perintah nya yana berlari menuju ke pekerjaannya, pekerjaan nya sudah menumpuk di meja menanti tangan gesitnya untuk di hias dengan cantik, agar anak-anak sekolah menyukai brownisnya.
azham yang sudah siap pun meminta kue yang akan di bawa ke sekolah, setelah kepergian azham yana masih banyak pekerjaan yang harus di bereskan sebelum anak-anak nya bangun.
" ada brownis kakak hari ini?" tanya anak seumuran azham yang tidak pernah yana di kenal sebelum ini.
" ada dek, mau berapa ribu dek?" pelanggan tadi masih kecil, kira-kira baru berusia tujuh atau lapan tahun, seumuran azham anaknya yana.
__ADS_1
" mau lima ribu kak, tapi topingnya keju semua ya!" anak tersebut menunggu aku mengambil pesanannya tadi.
" ini dek! terima kasih banyak ya?" ucap ku sambil menghulur kan pesanannya.
" iya kak sama-sama!' jawabnya singkat.
Alhamdulillah dagangan yana kebelakang ini makin di minati, bisa juga buat anak-anak jajan, dia akan berhemat sambil menunggu suaminya pulang membawa rezeki, biarlah dia makan apa yang ada, jika suaminya pulang barulah anak-anak nya bisa makan enak lagi.
matahari hari ni segan menampakan wajah nya, hari yang mendung tapi berhawa panas, seperti hati yana hari ini, dia jadi kurang bersemangat karena brownis nya ngak kunjung di bayar juga hari ni, hari ini sudah masuk hari ke empat, yana butuh modal untuk jualannya besok, jika terus menerus begini yana pasti akan gulung tikar, bagaimana yana mau kasih uang jajan untuk anaknya.
" jadi gimana donk umi?" keluh azham pada yana yang tertunduk lesu di depan kios nya.
mau ngak mau yana harus bikin brownis lagi besok, dia akan meminta sendiri ke tuan punya kantin sekolah, tapi bahan yana bikin kue semuanya sudah habis, yana pusing mau cari modal di mana, mau minta pinjam sama tetangga ngak ada yang menaruh simpati padanya, jangan kan untuk meminjam hak fakir miskin aja yana ngak pernah dapat, sedangkan orang kaya, yang lebih berkemampuan dari yana aja masih bisa dapat.
" umi harus datang sendiri besok ke sekolah kamu azham, tapi gimana ya? umi ngak ada modal lagi untuk bikin kue besok!" rintih yana pada azham yang masih tertunduk lesu.
yana harus mencari jalan agar mendapat kan modal jualan besok, tapi bagaimana, jualannya aja hari ini begitu sepi, yana terus berpikir dari mana dia bisa mendapat kan uangnya.
" kak yana ngak beli tepung hari ni, aku mau ke pasar ni?" Riki sepupunya yana tiba-tiba muncul di depannya.
__ADS_1
puncuk di cita ulam pun tiba, begitulah kata pepatah orang tua dahulu, riki yang jarang keluar rumah karena asyik dengan alat gawai nya hari ni seakan terpanggil pergi ke rumah yana, yana yang lagi buntu seakan mendapat kan jalan setelah melihat riki berdiri tegak di depannya.