
Ke dua karyawan tadi sontak kaget dengan permintaan Yana, apa tidaknya mereka berencana menutup toko mereka, tiba-tiba Yana datang meminta mereka menunggu sesuatu yang tidak pasti.
"Tapi ini sudah larut malam kak...apa benar suami kakak benar-benar ke sini, jangan capek-capek menunggu nanti ngak jadi datang." ucap salah satu karyawan pada Yana yang masih berdiri di hadapan karyawan tadi.
Yana semakin salah tingkah untuk membuktikan kepastiannya, Yana tidak tahu harus bicara apa lagi pada mereka.
"Gini aja Dek, beri kakak waktu lima belas menit, jika suami kakak ngak sampai juga kalian tutup aja tokonya." ucap Yana tegas.
Yana benar-benar butuh kipas malam ini, Yana tidak mau melewatkan malam pertamanya dalam keadaan kepanasan, dalam hati kecil Yana tidak henti-hentinya berdoa semoga suaminya bisa sampai tepat waktu yang sudah di janjikan.
"Kak...sudah jam dua ni...suami kakak serius ngak sih mau ke sini?" panggil karyawan tadi yang sudah ngak sabar menutup tokonya.
Mungkin mereka sudah mengantuk, ngak bisa lagi bertahan menunggu kedatangan Munzir yang datang dari kampungnya berbeda kota.
"Kakak mohon Dek, tunggu sebentar aja lagi, suami kakak akan sampai tidak lama lagi, lima menit aja lagi Dek." mohon Yana pada karyawan tadi.
Yana tidak tega sebenarnya menyuruh mereka menunggu, Yana tahu mereka sudah mengantuk, tapi Yana juga begitu membutuhkan kipasnya malam ini.
Mata Yana terus menatap ke arah jalan, Yana sudah beberapa kali menghubungi suaminya, tapi Munzir tidak menjawab panggilan telpon dari Yana, Yana berpikir mungkin suaminya lagi di perjalan makanya Munzir tidak mengangkat telpon dari Yana.
Brummmmm....
__ADS_1
Tiba-tiba suara motor yang tidak asing lagi di telinga Yana berhenti tepat di hadapan Yana berdiri.
"Alhamdulillah ya Allah...akhirnya suami hamba sampai juga dengan selamat." ucap Yana dalam hatinya.
Munzir yang terus memberhentikan motornya di hadapan toko tersebut, dengan langkah cepat Munzir terus masuk ke dalam toko tersebut, pintu toko sudah di tutup separuh, Yana sengaja tidak menunggu di dalam toko, dia tidak mau orang berpikiran yang bukan-bukan padanya.
Munzir gegas meluru masuk ke dalam toko tersebut tanpa mempedulikan Yana yang berdiri sejak tadi, Yana dengan sabar sudah menunggunya dari tadi.
"Dek maaf ya...lambat dikit." ucap Munzir begitu sampai di meja kasir.
"Oh...Abang suami kakak yang berdiri di luar itu ya?
Yana ikut masuk ke dalam toko begitu suaminya masuk, dengan tubuh yang lelah Yana sebisa mungkin kelihatan masih kuat.
"Ambil aja salah satu Abang, jangan lama-lama lagi, adik tu dari tadi mau menutup tokonya." ucap Yana tidak jauh dari arah posisi Munzir berdiri.
Lalu Munzir mengambil salah satu kipas yang di inginkan, lanjut Munzir membayar tagihan sesuai harganya, tidak lupa Munzir memberikan sedikit uang lebih atas kebaikan mereka menunggunya datang.
Yana dan Munzir masing-masing pulang dengan mengendarai motornya masing-masing, Munzir pulang ke rumah Yana sambil memegang kipas yang sudah di beli tadi, sementara Yana pulang tanpa membawa apa-apa.
Karena waktu yang sudah larut malam membuat Munzir begitu mudah membawa kipas, Yana mengekor di belakang suaminya dengan mengendarai motor dengan kecepatan sederhana.
__ADS_1
"Bawa masuk aja ke kamar Abang." ucap Yana begitu Munzir sampai di teras rumahnya.
Munzir mengangguk setuju dengan permintaan Yana, Munzir langsung masuk ke kamar Yana sambil menenteng kipas di tangannya.
Yana tidak ikut ke kamar, melainkan Yana menuju ke dapurnya yang masih berselerakan sejak di tinggal mandi tadi, banyak piring-piring kotor yang masih tertinggal, ada juga beberapa tetangga yang masih belum pulang walaupun jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
"Abang sudah makan belum?" Yana sempat menjenguk suaminya di kamarnya sebentar.
"Sudah tadi di rumah sebelum Abang pulang ke sini...
....Kamu kapan tidur sih Dek?" tanya Munzir pada Yana.
Yana sendiri sudah mengantuk dan pingin cepat-cepat istirahat tapi apa daya Yana sendiri merasa tidak enak dengan tetangga yang masih belum pulang-pulang lagi dari rumahnya.
"Tunggu tetangga pulang dulu ya Abang, tidak enak dengan mereka." sahut Yana sambil tersenyum manis ke arah suaminya yang berada di dalam kamar, sedang Yana berdiri di pintu kamar.
Yana tidak berani masuk ke dalam kamar, Yana takut akan di terkam langsung oleh suaminya, makanya Yana menjaga jarak dengan suaminya.
"Sabar dulu ya Abang, besok-besok kan bisa juga." ucap Yana tersenyum sumbing ke arah suaminya yang sudah menunjukkan wajah yang ngambeknya.
Tanpa peduli reaksi suaminya Yana balik lagi menuju ke dapur, piring-piring sudah Yana cuci semua, sekarang tinggal membersihkan dirinya lagi, sebentar lagi Yana akan melayani suaminya di ranjang.
__ADS_1