
Deghhhhh...
Hati Yana begitu sakit, kini Abah sama-sama ikutan membenci mereka, semuanya masalah bermula waktu adik Yana pulang ke rumah orang tuanya, setelah menikah adik Yana ikut tinggal di rumah istrinya.
Flash back...
Dari jauh sudah terdengar suara motor Rizal masuk ke halaman rumah, sejak menikah Rizal sudah jarang pulang ke rumah, ini menyebabkan Yana tidak pernah lagi bertemu dengan adiknya, tapi berbeda dengan Mak dan Abah, mereka selalu bertemu di toko, sebab Rizal dan istrinya diberi kepercayaan mengurus toko yang sebelumnya Yana yang kelola.
"Assalamualaikum?" salam Rizal dari balik pintu yang tertutup tapi tidak di kunci.
Yana sengaja menutup pintu sebab Yana berada di dapur memasak untuk lauk siang mereka.
"Waalaikum salam...masuk lah." sahut Yana sambil bergegas menuju ke depan rumah.
Terlihat Rizal dan istrinya sudah duduk di ruang tengah menonton tifi yang memang selalu terbuka. Yana mendekat ke arah adiknya, tapi mereka seakan-akan cuek dengan kehadiran Yana, Yana sendiri tahu Yana juga menumpang di rumah Maknya, jadi Yana anggap adiknya bukan tamu tapi penghuni rumah yang sudah pulang.
Gegas Yana pergi lagi ke arah dapur, lauk udang tumis yang sudah masak di matikan apinya, tiba-tiba anak Yana menangis di kamar mereka, Azham dan Hafiz sudah keluar bermain.
Secepat kilat Yana sampai ke kamarnya, Yana melanjutkan mengayunkan anaknya lagi dalam ayunan, sampai-sampai Yana sendiri ikut terlelap.
"Umi ketiduran ya?" tanya Azham begitu melihat Yana keluar dari dalam kamar dengan wajah seperti orang linglung.
"Kamu ni Azham, bukan bagitahu Umi kamu ambil adik dari ayunan, mau jantungan Umi tadi lihat Gisya ngak ada di dalam kamar." ujar Yana dengan wajah yang tidak bisa di gambarkan.
__ADS_1
Yana sudah seperti orang gila saat bangun dari lelapnya tiba-tiba anaknya tidak ada lagi dalam ayunan, Yana pikir anaknya jatuh dan merangkak keluar, makanya secepat kilat Yana bangun.
"Tadi Gisya nangis Umi tidur, makanya Azham ambil bawa aja keluar, takut menganggu Umi tidur." ucap Azham penuh perhatian pada Yana.
Perut Yana tiba-tiba mengeluarkan suara mau di isi, baru Yana teingat tadi dia belum makan siang, rencananya sesudah masak Yana mau makan, tiba-tiba Gisya menangis, Yana langsung membawa tubuhnya menuju ke dapur.
"Loh...kok lauknya sudah habis?" ucap Yana begitu melihat kuali yang berisi udang tumis sudah kosong di atas dapur.
Yana memutarkan badannya ke tempat Azham duduk tadi, Yana ingin bertanya pada anaknya, kenapa lauknya di makan sampai habis, tidak pernah anak-anaknya begini sebelumnya.
"Azham kok lauknya dihabiskan sih? Ayah dan Umi mau makan apa sore nanti." tanya Yana pada Azham yang sedang bermain dengan adiknya.
Yang Yana maksud Ayah adalah Munzir, setelah Yana menikah dengan Munzir, dia tidak mau ada sekatan antara dirinya dan anak tirinya, sejak itu anak-anak Yana memanggil Munzir Ayah.
"Azham belum makan lagi Umi, Azham aja baru mau tanya sama Umi, kenapa Umi belum masak lagi?" Azham juga merasa heran dengan Yana yang masih belum masak walaupun sudah sore.
"Emangnya Om ke sini tadi?
"Iya...dia ke sini bersama istrinya, setelah Umi siap masak, adik kamu menangis makanya Umi tinggal begitu saja lauk di atas kompor tadi." Yana coba mengingat kejadian yang terjadi padanya tadi.
"Kalau begitu sudah pasti itu Om yang makan, siapa lagi kalau bukan dia, tapi kenapa Om habiskan semua, kita mau makan apa hari ini Umi?" tanya Azham lagi pada Yana.
Dengan telur ayam sisa dua butir di dalam kulkas, itulah yang menjadi teman makan malam siang mereka hari itu, Yana bertekad ingin memberitahu pada Maknya jika Rizal sudah menghabiskan lauk siang mereka.
__ADS_1
Sebelum sempat memberitahu pada Maknya, Rizal sudah melakukan hal tersebut berulang kali, mau di tegur Yana merasa tidak enak, akhirnya sore itu Yana sengaja menunggu Maknya pulang dari toko.
"Mak tolong dong bilang sama Rizal, kalau makan di sini jangan di habiskan lauknya, ingat kita donk yang belum makan." ucap Yana pada Maknya dengan wajah cemburut.
"Azham sudah kasih tahu pada Omnya kemarin, emangnya Azham ngak kasih tahu ke kamu Yana?" sahut Mak Yana dengan wajah kurang suka dengan Yana.
"Ngak Mak.
"Rizal bilang sama Azham, yang dia tahu apa yang ada dalam rumah ini semua punya Mak, makanya dia bisa makan sesuka hati, dia tidak peduli siapa yang beli...
...Kamu aja makan tidur gratis di sini, ngak apa-apa donk jika sekali-kali dia makan di sini, jika kamu kurang suka bisa angkat kaki dari rumah ini." hati Yana hancur berkeping-keping mendengar ucapan orang yang sudah melahirkannya.
Selama ini segala hinaan Mak Yana di sembunyikan dari suaminya Munzir, Yana tidak mau memperkeruh keadaan lagi, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Mak Yana mengusir Yana secara terang-terangan, Yana dengan terpaksa harus angkat kaki dari rumah orang tuanya.
Flash back...
Kita kembali lagi saat Abah Yana mengusir anak perempuan satu-satunya di keluarga Yana.
"Tapi aku tidak sanggup berpisah dari mereka Abah." lirih Yana lagi pada Abahnya.
"Abah bilang ngak boleh tetap ngak boleh, silakan kalian keluar dari rumah ini... tapi ingat!!!!
__ADS_1
...Jangan tinggalkan bekas kalian di sini walau pun hanya sampah." Yana menangis sejadi-jadinya.
Munzir belum pulang lagi dari tempatnya bekerja, Yana terus mengemaskan baju-baju ke dalam tas dengan linangan air mata yang tidak berhenti mengalir dari pipinya.