
Sejak kejadian tersebut Yana tidak lagi di bekali bahan perlengkapan dapur oleh orang nya, Yana lebih memilih tinggal bersama suami nya berbanding tinggal bersama orang tua nya sendiri, Yana ngak sanggup harus hidup menjanda di usia yang begitu muda, status yang bergelar janda begitu menakutkan di pikiran Yana, lagipula Yana ngak mau jadi cibiran orang-orang jika dirinya berpisah dari suami, orang kampung pasti akan menghina nya dan memandang nya Yana sebelah mata. Yana tetap akan mempertahan kan keutuhan rumah tangga nya selagi Yana sanggup.
lanjutkan lagi ke beli obat anak ya...
Azham dan Hafiz di titip di rumah tante nya, rencananya malam ini Yana dan suami akan membawa Rasya pergi ke klinik yang berdekatan, yang tidak jauh dari keberadaan posisi kota Yana tinggal, Yana dan suami nya tidak tinggal serumah atau sekampung, Faizal dan Yana tinggal berpisah, Yana di kota lain dan Faizal di kota yang lain juga.
motor yang di kendarai Faizal terus melaju pesat menuju ke tempat yang mereka ingin tuju, tidak lupa Rasya di bekali baju jaket untuk menutup tubuh nya yang kedinginan.
" Di sini aja bang Faizal, jangan jalan terlalu jauh lagi, takut nya bertambah parah batuk nya Rasya nanti." ujar Yana yang sedang menuruni jok motor.
Rasya dalam gendongan Yana masih saja diam tidak memberi reaksi apa-apa, sebelumnya Rasya seorang yang ceria, suka ketawa, tiba-tiba berubah setelah batuknya datang ngak sembuh-sembuh.
"Kamu masuk aja sana, bang Faizal tunggu di sini aja ya?" Yana mengangguk setuju, Yana pun masuk ke dalam.
Kebetulan hari itu sepi tidak ada pasien lain kecuali meraka, sambil menggendong Rasya Yana terus masuk ke dalam klinik yang bersih dan rapi.
" Selamat malam bu! Ada yang bisa saya bantu?" tutur ramah perawat yang ada di klinik tersebut.
Klinik bernuansa warna pink soft dan putih enak jika di pandang, rak yang menjulang tinggi, terlihat botol-botol obat penuh terisi dan di susun rapi di sepanjang rak tersebut, perawat yang cantik memakai baju seragam berwarna yang sama dengan dinding klinik yaitu warna pink berwajah ceria menerima kedatangan Yana satu-satunya pasien malam ini.
" Malam juga! dokter ada ngak dek?" balas ku menyapa mereka.
Wajah mereka selalu menyungging senyuman begitu manis, perawat yang berumur di bawah dua puluh tahun tersebut terdiri empat orang, mereka duduk berkumpul di satu tempat, mungkin sebab ngak ada pasien mereka bisa berbual kosong sambil berkerja, terlihat pelayanan mereka begitu bagus dan sopan di sini.
__ADS_1
" Ada kak! sini kak daftar dulu, nanti langsung bisa masuk ketemu dokter di sana!" jari telunjuk perawat tersebut menunjuk ke arah pintu kamar yang tertulis nama dokter yang bertugas di kamar tersebut.
Kartu berwarna pink atas nama Rasya sudah ada di tangan, kaki Yana terus berjalan ke arah pintu yang perawat tunjukan tadi, Rasya diam saja kemana Umi nya bawa, Rasya pasrah akan keadaan yang begitu lemah sekarang, tubuh nya ngak bisa bergerak lincah seperti dulu, mungkin Rasya sudah lelah dengan batuk yang ngak kunjung sembuh.
" Berapa semuanya? uang nya cukup kan?" tanya bang Faizal setelah melihat ku keluar dari pintu klinik.
Rasya hanya batuk biasa, itu yang dokter kasih tau, Rasya sedikit lemah sebab batuk yang menguras tenaga setiap kali batuk menyerang nya. Faizal bukan menanyakan keadaan anak nya, Faizal malah menanyakan uang nya.
Faizal takut Yana akan meminta uang lebih jika uang yang di kasih kemarin ngak cukup.
" Sudah yok pulang, sampai rumah nanti terus kasih Rasya obat, jangan lupa ya?" perintah Faizal pada Yana yang sudah duduk berboncengan di belakang Faizal suami nya.
Perjalanan pulang begitu singkat, tidak seperti pergi tadi terasa lama sekali sehingga Yana kecapean berboncengan di belakang, sampai pinggang Yana terasa mau putus, motor terus melaju membelok- belok sesuai yang Faizal mau, jalan menuju ke rumah Yana banyak tikungan yang berbelok-belok.
" Tante..tante...lihat Rasya bentar dia kenapa ya tante?" Yana berlari-lari kecil ke rumah tante nya.
Dalam suasana yang gelap gulita akibat pemadaman listrik bergilir Yana berlarian ke rumah tante nya yang berada di belakang rumah nya, sambil mengendong Rasya dalam pangkuan nya, Yana ngak terasa memijak rumput yang berduri, Yana tidak peduli, yang tahu Yana terus saja meredah apa pun yang berada di depan nya, Rasya sudah batuk ngak berhenti sejak magrib tadi, akibat kelamaan batuk membuat Yana menjadi kuatir dengan keadaan Rasya yang semakin parah.
" Dia makan apa tadi? kok dia seperti tertelan sesuatu sih?" ucap tante sambil membelek-belek ke dalam mulut Rasya, batuk nya masih belum hilang juga. makin lama makin parah batuk nya.
" Ngak makan apa-apa tante, kalau ada yang tertelan kan dari sore tadi sudah tersedak bukan sekarang, ini baru saja tadi pas mau tidur malah batuk, sampai sekarang." ujar yana lagi menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Baju Rasya sudah di buka semua oleh tante nya, baju batik motif coklat yang Yana pakai kan tadi sore kini sudah terlepas dari badan Rasya.
__ADS_1
" Coba masuk kan jari ke dalam mulut dia, mana tau ada benda tersekat di kerongkongan nya!" perintah tante lagi pada Yana.
Yana langsung melakukan yang tante nya suruh, dua tiga kali Yana berbuat hal yang sama, sehingga terkeluar bunyi seperti orang kenyang dari mulut Rasya.
" Hah...Kan benar tante bilang tadi!" ujar tante nya melihat Rasya sudah diam, batuk nya pun sudah hilang.
malam ini malam yang begitu lama bagi Yana, seluruh kota tempat Yana tinggal mati lampu akibat pohon tumbang, Rasya sudah diam ngak terdengar lagi batuk dari tadi menyerang nya, rasa kasihan muncul di hati Yana, kasihan melihat Rasya sudah tertidur akibat kecapean batuk berpanjangan.
" Dia sudah tidur itu, jangan di ganggu lagi, kasihan dia capek dari tadi." Yana memandang wajah anak nya dalam pangkuan nya yang sudah terlelap.
" iya tante, dari tadi batuk ngak berhenti-henti sejak tadi." sahut Yana sambil tangan nya terus menggenggam tangan anak nya Rasya.
Tangan Rasya lunglai ngak berdaya, seolah-olah tidak ada tulang di anggota tubuh Rasya, Yana merasa sedikit aneh dengan tubuh anak nya yang terasa tidak bertulang.
" Tante kenapa ya tangan Rasya kok lain ya." pikiran Yana sudah memikirkan yang bukan-bukan.
seorang ibu pasti mempunyai pikiran yang buruk, Yana makin panik melihat anak nya tidak bergerak lagi bahkan setelah di sentuh berkali-kali, di goyang kan tubuh anak nya yang terbaring di pangkuan nya, tetap juga ngak ada perubahan, dalam suasana yang gelap gelita Akhirnya Yana meminta Rifki anak tante nya menghantar nya ke rumah sakit yang berdekatan dengan tempat mereka tinggal.
" Rifki bisa bantu kakak hantar kan ke rumah sakit bentar?" ucap Yana pada Rifki yang duduk tidak jauh dari mereka.
Rifki bangkit dari duduk nya, motor yang sudah di bawa masuk ke dalam di keluar kan lagi dari dalam rumah, dengan cepat Rifki membonceng kakak sepupu nya menuju ke rumah sakit, anak Yana yang di tinggal kan di rumah sejak Yana ke rumah tante nya tadi di titip sama tante nya lagi. Azham dan adik nya Hafiz di tinggal di rumah, Yana tidak terpikir sampai harus ke rumah sakit.
Tunggu kelanjutannya besok...
__ADS_1