
" Angan angis yagi Umi, anti atu juga itutan angis, nanti adik asya juga angis." tutur Hafiz sambil menyapu air mata yang mengalir di pipi Yana.
Rumah sudah tidak gembira ketika masih ada Rasya di rumah, sebelum ini dia lah penyeri dalam rumah, sekarang hilang sudah seri nya.
Waktu berlalu dengan cepat, hari berganti hari, Faizal berubah hanya lah sebentar, tidak berapa lama balik lagi ke sikapnya yang dahulu, sejak akhir-akhir ini Yana hanya di kasih nafkah sepuluh ribu perhari, sepuluh ribu itu harus cukup untuk satu hari, untuk makan, dan jajan anak, Faizal ngak tahu harga beras satu liter berapa, Faizal juga ngak peduli harga minyak, ikan, dan kebutuhan lain nya berapa, anak-anak harus di kasih jajan berapa satu hari, Faizal ngak mau tahu masalah itu semua.
" Azham! kalau Umi pergi bekerja kami bisa ngak jaga adik Hafiz di rumah?" tanya Yana suatu hari pada anak nya.
Yana tidak bisa mendiamkan diri terlalu lama di rumah, anak nya mau di kasih makan apa, setiap hari Yana harus mematok nasi untuk anak nya makan, agar cukup untuk satu hari, Yana pernah tidak makan seharian agar anaknya ngak kelaparan.
" Aku bisa aja Umi, tapi aku kan pulang nya siang, kalau pagi siapa yang akan menjaga adik Hafiz, emangnya Umi pergi kerja siang ya?" ujar Azham sambil terus membuka baju nya sepulang dari sekolah.
Pulang sekolah Azham biasa nya akan pergi mengaji, sebelum pergi Azham akan makan dulu, jika nanti Umi nya berkerja Azham berencana akan membawa sekalian adik nya tersebut ke tempat nya mengaji.
" Kalau pagi Umi akan meminta mama nya om Rifki menjaga Hafiz sebelum kamu pulang, kamu ngak mau kan kita kelaparan?" Yana bertanya pada anak nya yang duduk di hadapan nya sambil menyuap kan nasi ke dalam mulut nya.
Pagi-pagi sekali Yana sudah bangun membereskan persiapan makan anak-anaknya sehingga dia pulang bekerja nanti, Yana mulai pagi ini akan berkerja di sebuah warung ayam penyet milik mas Bambang, Yana berpikir jika dia berkerja di warung nasi, pulang nya pasti du bekali nasi, jadi Yana ngak repot lagi memikirkan isi perut anak-anak nya.
" Azham! bangun nak, mandi dulu nanti kamu lambat ke sekolah!" ucap Yana dari arah dapur.
Yana yang sudah jadi kebiasaan nya dulu akan melihat dan cek anak nya yang masih tidur di ranjang, pagi ini tiba-tiba Yana berbuat hal yang sama, mungkin Yana terlupa anak nya sudah tidak ada.
" Eh! kemana si Rasya, kok hilang di ranjang? tumben ni anak bangun cepat." gerutu Yana sendiri sambil berjalan menuju ke kamar Azham.
__ADS_1
Yana berencana menanya kan keberadaan Rasya pada anak sulung nya, namun beberapa langkah Yana berjalan baru dia teringat akan anak nya yang sudah tiada tersebut, Yana menghapus air mata yang mengalir deras di pipi nya, ini lah seorang Ibu takkan pernah melupakan anaknya walaupun sudah tidak ada sekali pun.
" Umi yakin bisa berkerja ni? nanti Umi capek lagi!" ujar Azham sambil merapikan baju batik bermotif burung garuda yang di kenakan nya hari ini.
Azham memang anak yang begitu perhatian pada ku, mungkin dia kasihan melihat ku yang susah payah mencari nafkah untuk kami keluarga, sedang bang Faizal sudah sebulan menghilang kan diri entah kamana, Yana tidak berniat sekali pun untuk mencari suami nya lagi.
Suasana begitu cerah hari ini, Azham sudah berangkat ke sekolah sejak pagi tadi, kini Yana hanya tinggal menghantar Hafiz ke rumah tante, rumah tante nya tidak berapa jauh dari rumah Yana
" Sudah mau berangkat kerja ya Yana?" tanya tante kala Yana menghantar Hafiz ke sana.
Yana sudah menyiapkan perlengkapan Hafiz dari baju dan makan nya, walaupun hanya telor dadar tapi Yana tidak mau bikin tante repot dengan kebutuhan anak nya.
" Iya tante, ini semua perlengkapan Hafiz ya? nanti kalau Azham sudah pulang, dia akan menjemput adiknya ke sini." jelas Yana lagi lebih terperinci.
" Ada yang salah atau ada yang tidak sesuatu tante?" tanya Yana lagi pada tante nya yang terlihat aneh.
Penampilan Yana hari ini terlihat rapi, Yana mengena kan gamis warna maroon dan di padan kab hijab warna dongker yang bermotif kotak-kotak maroon, pas sekali di pandang dengan gamis tersebut.
" Bukan Yana, kamu oke kok, oke banget malah hari ni." sahut tante nya yang sudah mengambil barang perlengkapan Hafiz dari tangan Yana.
Barang Hafiz di taruh dia dalam keranjang yang ada tutup nya, perlengkapan Hafiz cukup untuk semua kebutuhan nya, Yana tidak mau merepotkan tante nya sebab menjaga Hafiz.
" Tapi kok wajah tante aneh gitu sih melihat ku?" lanjut Yana lagi.
__ADS_1
" Aneh gimana sih? apa wajah tante hitam semua ya?" ucap tante nya separuh bercanda dengan Yana.
Yana ngak habis pikir dengan tante nya, apa yang membuat nya aneh melihat ke arah Yana.
" Gini ya Yana, besok-besok kamu tidak perlu membawa keg ginian, besok kamu tinggal bawa Hafiz aja ke sini, tante ada kok beras dan lauk untuk anak-anak mu di rumah, walau pun hanya telor ayam sebutir pasti ada.
Yana menggangguk sambil tersenyum ke arah tante nya. kaki Yana terus menggerak kan langkah nya untuk mengais rezeki untuk anak-anak nya, terlalu berat beban yang harus di tanggung seornag wanita seperti Yana, dengan pendidikan yang minim Yana tidak bisa mencari perkejaan yang layak untuk dirinya sendiri.
Mata orang yang lalu lalang terus tertuju pada Yana, kdang kala Yana merasa risih dengan pandangan mata mereka, Yana di anggap aneh kerena berjalan kaki seorang diri, semua pasti tahu musim ini tidak ada lagi pejalan kaki seperti zaman dahulu, sudah nasib Yana di takdir kan serba kekurangan.
" Mbak yang mau kerja hari ini ya?" tanya istri bos Yana pada nya.
Istri bos Yana bernama Eni, orang nya masih muda, masih jauh umur nya di bawah Yana, Eni mempunyai seorang anak perempuan bernama Azkia, warung yang mempunyai ruang agak terbatas membuat warung teras penuh dengan barang perlengkapan jualan, bangku papan berjejer tersusun rapi dari pintu masuk sampai ke belakang.
"Iya dek! Bos nya ada?" tanya Yana basa basi.
Mata Yana terus menyusuri tiap celah yang ada di warung, di warung tidak ada yang berkerja di sini kecuali yang punya warung, mas Bambang dan istri nya, Yana belum melihat lagi wajah bos nya seperti apa, Yana di rekomendasikan oleh orang lain untuk berkerja di sini.
" Ngak usah ketemu bos nya, mbak kerja aja dulu." sahut Eni dengan nada yang ketus.
" Baru ketemu sudah begini, apa lagi besok-besok ya? ngak kerja aku butuh uang, jika aku kerja apa aku sanggup setiap hari di bentak sama istri bos." batin Yana dalam hati.
Sapu yang tertengek di pojok ruangan segera di ambil Yana, seluruh warung kelihatan masih kotor, mungkin mereka berdua ngak sempat nyapu sebab terlalu banyak perkejaan yang tidak sebanding tenaga mereka berdua.
__ADS_1
" Eh siapa ini?