Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Bertemu langsung dengan keluarga


__ADS_3

Perbualan mereka semakin lama semakin jauh ke lebih ke hal yang lebih serius, waktu berjalan cepat, lelahnya hilang seketika dengan perbualan mereka yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.


Munzir terus melancarkan aksinya untuk mendapatkan keinginannya untuk memperistri kan Yana, Yana sendiri belum tahu akan niat sebenarnya yang sudah Munzir rencana kan.


'Jika aku boleh tahu, kenapa ya kamu menghubungi ku sampai tiga puluh kali... ada yang penting kah yang ingin kamu bicarakan?' tanya Yana dengan sopan.


'Sebelum aku jawab pertanyaan kamu, aku bisa meminta kamu sesuatu?


'Bisa' sahut Yana, 'Tolong untuk lain kali jika bicara dengan ku jangan pernah lagi memanggil aku kamu, bisa?' ucap Munzir dengan lembut.


'Jadi aku harus panggil kamu apa donk? aku kan lebih tua dari kamu, kan bisa aku panggil kamu nama saja' memang benar jarak antara Yana dan Munzir berbeda dua tahun.


Yana lebih tua dari Munzir, itu sebabnya mengapa Yana selalu memanggil Munzir dengan panggilan nama atau kamu saja.


'Jika kamu tidak mau memanggil dengan panggilan Abang, maka aku tidak mau berceritakan sebab apa aku menelpon mu.' ancam Munzir lagi.


Yana jadi serba salah, mau panggil Abang Yana masih merasa malu, sedang kan di antara mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa, apa lagi mereka belum pernah bertatap muka secara langsung.


'Kalau ngak mau ya sudah aku tutup dulu telponnya ya?' Munzir masih belum berputus asa menghadapi tantangannya pada Yana.


'Baiklah Abang Munzir, apa mau Abang Munzir ceritakan pada ku sampai harus menghubungi ku tiga puluh kali.' akhirnya Yana mengalah dengan Munzir.


'Bukan Abang Munzir, tapi Abang!' Munzir terus bersikeras menyuruh Yana memanggilnya Abang.


'Iya-iya Abang... puas hati?' jika Munzir bisa melihat mulut Yana yang manyun pasti Munzir akan ketawa terbahak-bahak dengan tingkah laku Yana sekarang..

__ADS_1


'Nah gitu donk.' sahut Munzir lagi.


Akhirnya Munzir menceritakan tentang hal yang ingin di beritahukan pada Yana ketika Munzir menelponnya, Yana menjadi tidak tahu harus berkata apa dengan ucapan yang keluar dari mulut Munzir.


Hampir sejam mereka membahas tentang rencana Munzir yang ingin melamar Yana menjadi istrinya, Yana terima saja jodoh yang datang padanya, tapi Yana belum yakin dengan orang tua Munzir, apa orang tua Munzir akan sama seperti orang tua Badaruddin juga?


Besok paginya Yana terus memberithu kan pada Abah dan Mak nya tentang keinginan Munzir tersebut, Abah tidak menolak, bahkan Abah menyuruh orang tua Munzir langsung datang ke rumah.


"Abah...besok orang tuanya Munzir akan ke sini." ucap Yana suatu hari pada orang tuanya.


"Kita akan tunggu kedatangan meraka, jadi kapan mereka akan datang ke sini?" tanya Abah lagi pada Yana yang sedang duduk di sarapan di meja makan.


"Abang Munzir bilang sih malam Abah, sebab ngak mau jadi tatapan orang jika mereka datang siang-siang ke sini." lanjut Yana lagi.


___________


Malam besok tidak ada persiapan yang mereka sediakan, menurut ucapan Munzir, dia hanya datang berdua dengan Mamaknya, itupun hanya ingin melihat keadaan Yana bukan melamar Yana.


Abah dan Mak Yana sudah duduk di teras depan menunggu tamu yang akan datang sebentar lagi, sementara Yana berada di kamarnya, dia tidak mau ikut campur urusan orang tua, walau sebenarnya Yana sudah bisa ikut campur sebab Yana bukan lagi gadis.


Brummmmm.... brummmmm....


"Itu Abah suara motor mereka sudah datang." ucap Mak Yana begitu terdengar suara motor memasuki halaman rumahnya.


Abah cuma tersenyum menanggapi ucapan istri yang duduk berdampingan dengannya di teras rumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum Abah...?" ucap Munzir begitu turun dari jok motornya.


Mamak Munzir yang berboncengan di belakangnya melemparkan senyum ke arah Abah dan Mak Yana yang sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Waalaikum salam... mari masuk dulu!" sahut Abah sambil mempersilakan tamunya semua masuk ke dalam rumah.


Tanpa menunggu lama Mamaknya Munzir terus saja ke pokok tujuannya, dia tidak mau basa basi terlalu jauh.


"Kamu tahu status anak saya Munzir?" tanya Abah pada calon menantunya yang sedang duduk berhadapan dengannya.


"Tahu Abah." sahutnya singkat.


"Sudah berapa lama kenal dengan Yana?" tanya Abah lagi pada calon menantunya tersebut.


"Sudah dekat setahun Abah, cuma kami cuma telponan, tidak pernah bertemu langsung." jujur Munzir pada calon Ayah mertuanya lagi.


"Kok bisa kamu suka sama Yana sebelum bertemu langsung dengannya...jangan-jangan sesudah ketemu nanti kamu jadi batal melamar Yana." canda Abah di ikuti ketawa terkekeh-kekeh dari Mak Yana dan Mamaknya Munzir.


"Insya Allah ngak Abah, aku sudah menetap kan hatiku padanya, walau apa sekalipun keadaannya aku akan tetap melamar Yana Abah." ucap Munzir bersungguh-sungguh.


Kata-kata yang keluar dari mulutnya Munzir membuat Abah yakin Munzir bersungguh-sungguh dengan Yana, apalagi Munzir datang langsung dengan membawa sertakan orang tuanya.


Ayah Munzir sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, Munzir cuma mempunyai seorang Ibu, seorang abang dan dua orang kakak, Munzir anak bungsu, berbeda dengan Yana anak tunggal.


"Apa kamu ingin bertemu dengan Yana secara langsung...kalau mau Abah bisa panggilkan." ucap Abah sambil tersenyum manis ke arah Munzir yang sudah menunduk malu dengan ucapan calon Ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2