
Azham gelisah Umi nya belum pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul lapan malam, selama bekerja ngak pernah Umi nya pulang kerja sampai begini lewat.
" Kenapa Umi belum pulang ya nek?" Azham bertanya pada tante nya Yana yang masih berdiri di muka depan pintu rumah nya, tante Yana ngak tahu harus menjawab apa, sebab dia sendiri ngak tahu keadaan Yana sekarang, jujur hatinya tante Yana juga kuatir dengan keponakannya.
" nenek juga ngak tahu Azham, kamu tidur aja dulu, kalau sebentar lagi Umi kamu belum pulang, nenek akan suruh om Rifki mencari Umi kamu." ujar tante Yana lagi membuat Azham sedikit lega.
" Iya nek." ucap Azham datar sambil kaki Azham melangkah pelan masuk ke dalam rumah, adik nya sudah tertidur di ruang depan rumah tante Yana. Azham pun ikut baring di sebelah adik nya, mata Azham memandang ke loteng rumah, pikiran Azham terbawa suasana yang azham sendiri tidak bisa gambar kan, dia takut jika sesuatu terjadi pada Umi nya apa akan terjadi pada nya dan adik nya. Ayah nya pun hilang tanpa jejak, hanya Umi yang jadi sandaran satu-satunya saat ini.
tok... tok...tok...
Ketukan terdengar dari arah pintu depan, Azham sudah terlelap di samping adik nya sejak tadi, tapak kaki tante Yana berjalan dengan cepat menuju ke pintu di mana arah tersebut tadi terdengar.
"Assalamualaikum...?" ucap seseorang yang suaranya tidak asing lagi di telinga tante Yana.
" Waalaikum salam...!" sahut tante Yana lagi dari dalam rumah
Klekkkk....pintu di buka dengan pelan oleh tante Yana, Yana yang masih berdiri di depan pintu hanya bisa tersenyum melihat wajah tante nya yang membuka pintu rumah nya.
" Kemana aja kamu Yana? kuatir kami, Azham dari tadi menunggu kamu di depan sini!" tunjuk tante Yana ke arah kursi yang ada di depan teras, di mana Azham menunggu Umi nya dari tadi.
" Mas Bambang ngak Pulang tadi sore, ngak ada yang jaga warung maka nya aku tunggu sampai mas Bambang pulang dulu!" jelas Yana lagi pada tante nya.
"Anak-anak mana tante?" tanya Yana sambil melihat ke arah dalam, Yana berpikir anak nya sedang menonton, tapi ternyata ngak ada.
__ADS_1
" Anak-anak sudah tidur tadi, bentar tante bangun kan dulu ya?" ucap tante Yana sambil masuk ke dalam rumah nya, Azham dan Hafiz terkejut ketika di bangun kan nenek nya, ternyata Umi nya sudah pulang, Azham keluar rumah mencari Umi nya yang menunggu di luar.
" Umi kok lama sekali sih pulang nya?" tanya Azham sambil mengucek matanya terus untuk menghilangkan kantuk nya.
" Umi ada kerjaan tadi dikit, maaf ya nak? adik kamu mana?" tanya Yana pas melihat hanya Azham seorang yang keluar dari rumah tante nya.
" Hafiz ngak mau bangun Umi, Umi aja gendong dia!" sahut Azham yang masih mengantuk, segara Yana masuk ke dalam rumah tante nya, Hafiz yang tidur dengan nyenyak di gendong secara hati-hati agar tidak menganggu tidur nya.
" Aku pulang dulu ya tante?" ucap Yana sambil terus berlalu pergi ke rumah nya yang tidak berapa jauh dari rumah Yana, Azham hanya mengekor Umi nya dari belakang.
" Kamu sudah makan Azham? Umi bawa pulang nasi ni?" tanya Yana dari arah dapur, Azham yang berada di kamar mandi karena mau membuang air kecil.
" Azham sudah makan Umi, tapi Azham mau makan juga lagi!" sahut Azham lagi, ngantuk Azham sudah hilang sejak Umi nya bilang perkataan ayam, kantuk Azham lari entah kemana.
" Yeeee....jadi besok Azham bisa bawa bekal lagi ya Umi?" tanya Azham dengan wajah ceria.
" Setiap hari Azham bisa bawa pulang nasi, selama Umi masih berkerja di warung itu." Yana pun mengisi nasi ke dalam piring anak nya. Azham makan dengan lahap sampai nasi nya habis tidak tersisa.
" Kalau sudah siap makan Azham tidur ya? sudah lambat ini!" ujar Yana lagi pada anaknya Azham, Azham sudah menghabiskan semua makanan nya, sekarang waktu nya beristirahat, besok akan datang lebih cepat lagi.
Pagi hari datang dengan bahagia, Yana seperti biasa, pagi-pagi sudah bergulat dengan peralatan dapur, Yana menyiapkan kan bekal untuk Azham ke sekolah, sedang si kecil jam segini masih tidur dengan nyenyak nya.
"Umi Azham berangkat dulu ya?" ucap Azham dari luar rumah.
__ADS_1
" Iya nak hati-hati!" jawab Yana setengah menjerit sebab jarak antara mereka agak sedikit jauh.
Anak Yana izin pamit ke sekolah, di sebab kan ngak enak hati Yana keluar sebentar menghantar anak nya ke sekolah. Sesudah bayang anak nya hilang, Yana kembali lagi bergulat dengan dapur, hari ini harus mencuci pakaian anak-anak dan dirinya sendiri, Yana memikul tanggung jawab dua sekaligus, sebagai Ibu dan juga seorang Ayah.
" Tante titip anak ku ya? aku berangkat dulu!" pamit Yana dari tante nya.
Yana mengayun kan langkah kaki nya, hidup yang serba kekurangan tidak membuat Yana berputus asa demi membahagiakan anak-anak nya, segala cara akan di usaha kan demi anak-anak berkucupan.
" Lambat datang hari ini kak?" sapa Eni pas Yana sampai di depan warung.
" Lambat dikit, banyak kerjaan tadi di rumah." jelas Yana pada Eni, Eni hanya manut mendengar ucapan Yana.
Warung masih berselerakan di mana-mana, istri mas Bambang tidak mau membantu mengerjakan perkerjaan yang ada di warung, semua di serah kan tanggung jawab nya atas bahu Yana.
Pekerjaan menyapu dan menyusun barang di rak sudah selasai, sekarang tugas Yana hanya tinggal menunggu pelanggan.
" Kak cuci piring dulu sana! banyak piring di belakang!" suara Eni memang selalu kasar, tapi Yana tidak peduli, yang penting Yana bisa bekeja mencari sesuap nasi untuk anak nya.
" Iya Eni! tolong bantu tengok kan di depan ya?" ucap Yana pada Eni.
" Iya..iya... pergi aja sana!" sahut Eni ngak kalah kasar dari yang tadi.
Yana melanjutkan tugas nya di kamar mandi, piring kotor sudah banyak bertumpuk di lantai kamar mandi, kebetulan dinding kamar Eni bersebelahan dengan kamar mandi, sedang Yana sibuk mencuci piring tiba-tiba atas kepala Yana jatuh sampah banyak sekali di atas kepala nya, Yana yang heran kepala seperti ada sesuatu.
__ADS_1
" Eh! kok sampah banyak di atas kepalaku ya? dari mana jatuh nya ini?" Yana terus bertanya sendiri sambil terus mengambil sampah di atas kepala, sampah nya berupa plastik jajan, cotton bud, sejenis lidi untuk korek telinga, dan plastik permen, Yana mendongak kepala nya ke atas mencari-cari dari mana sampah ini jatuh?