Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Yana tumpah darah


__ADS_3

Baju yang di pakai Yana sebelumnya sudah di ganti dengan baju yang sering di kenakan di rumah, Yana segara mengganti baju, dia tidak mau sampai suami nya tahu bahwa Yana baru saja pulang sejak dia pergi tadi pagi.


Tidak berapa lama Yana di kamarnya, tiba-tiba motor yang sering membawa suaminya pergi berbunyi dengan keras di luar rumah, motor tersebut baru saja masuk ke perkarangan halaman rumah Yana.


Yana yang berada di kamar bergegas keluar menyambut kepulangan suaminya dari pulang bekerja, dengan wajah di buat semanis mungkin menyambut kekasih hatinya pulang.


"Kamu sudah pulang Dek?" tanya Munzir melihat istrinya sudah berada di rumahnya.


"Sudah pulang dari tadi, bentar aja kok ke tempat Nabila tadi." bohong Yana pada suaminya.


Sambil bergandengan tangan dengan mesra Yana membawa suaminya masuk ek kamarnya, Munzir tidak pernah sekalipun pulang ke rumah Yana dalam keadaan kotor dengan baju kerjanya, Munzir akan mandi dan berganti pakaian dulu sebelum pulang ke rumah Yana.


"Abang sudah makan?" tanya Yana pada suami yang sudah berganti memakai kain sarung.


"Sudah tadi di rumah Mamak Dek." sahut Munzir yang begitu menyayangi istrinya.


Bahkan Munzir menyuruh anak-anak Yana memanggilnya dengan sebutan Ayah, dia tidak mau di panggil Om atau pun sejenis lainnya.


Yana ingin menunda dulu kehamilannya kerena Yana ingin Suaminya bisa mencurahkan perhatian kasihnya dulu pada anak-anak Yana sebelum Yana mempunyai anak dari Munzir.

__ADS_1


Yana yang sudah berbaring di ranjangnya merasakan sesuatu yang aneh di bahagian perutnya, Yana merasakan sakit yang teramat sangat di bahagian perutnya tersebut.


Munzir yang sedang bermain di puncak gunung Yana merasa aneh dengan wajah istrinya seperti menahan kesakitan yang teramat sangat.


"Kamu kenapa Dek...kok wajah mu di tekuk begitu?" ucap Munzir melihat keanehan pada istrinya.


"Perutku terasa sakit banget ini Abang...


"Kamu makan apa tadi di rumah Nabila?


"Aku ngak makan apa-apa Abang, aku pergi kan cuma sebentar aja tadi." bohong Yana pada suaminya.


Begitu sampai di kamar mandi sesuatu langsung keluar seperti air dari alat bawahnya, sontak Yana kaget dengan keadaan tersebut.


Iya...darah keluar dengan banyaknya dari alat bawah Yana, darah kental berwarna agak kehitaman keluar dengan banyaknya, Munzir yang melihat keadaan tersebut merasakan ketakutan, dia ingin berlari memberitahu pada orang tua Yana, tapi di cegah oleh Yana sendiri.


"Kamu makan apa tadi Dek...kok bisa-bisanya kamu begitu." terdengar suara tegas Munzir keluar dari mulutnya.


Yana tetap kekeuh tidak ingin Munzir tahu bahwa Yana sudah minum air bersoda tersebut, kini Yana baru tahu Yana sebenarnya sudah hamil, tapi akibat Yana minum air tersebut, itu yang membuat kandungan Yana tidak bisa bertahan.

__ADS_1


Darah yang keluar kini sudah berhenti, Yana kembali masuk ke dalam kamarnya, Yana memang berencana tidak ingin punya anak dalam waktu dekat, setelah ini Yana akan meminum penunda kehamilan dulu.


"Kamu istirahat aja dulu, malam ini kita libur dulu ya." ucap Munzir dengan nada kecewa.


Jauh di lubuk hati Munzir dia begitu pingin mempunyai buah cintanya dari Yana, kejadian ini membuat Munzir benar-benar terluka, Yana yang sudah berbaring fi samping Munzir terus memejamkan matanya, Munzir dengan sabar bermain di puncak gunung Yana, hanya itu yang bisa membuat Yana terlelap.


Sayup-sayup Yana terdengar suara tangisan yang bisa di dengar jelas oleh telinga Yana, suara tersebut begitu dekat jika di perdengarkan baik-baik, dengan terpaksa Yana membuka matanya perlahan-lahan. Ternyata yang menangis tepat berada di sampingnya, dengan duduk membelakangi tubuh Yana Munzir menangis sendirian, tanpa di sedari Yana sudah terbangun dari tidurnya.


"Abang kenapa menagis...ada sesuatu kah yang terjadi?" suara Yana mengagetkan Munzir yang menangis pilu.


Yana mengusap air mata yang mengalir di pipi suaminya dengan penuh kasih, Yana belum pernah melihat seorang laki-laki bisa menangis seperti ini.


"Tidak ada apa-apa Dek...kamu tidur saja lagi, Abang tidak apa-apa." ucap Munzir sambil memeluk istrinya dengan mesra.


"Aku ngak akan tidur sebelum Abang cerita yang sebenarnya, kenapa Abang menangis, aku ada berbuat salah kah pada Abang...apa aku menyakiti hati Abang...


...Jika memang Abang sakit hati dengan sikap ku, aku minta maaf Abang." ucap Yana dengan wajah sedihnya.


Yana juga ikut menangis melihat suaminya menangis tanpa sebab yang Yana tahu.

__ADS_1


"Kamu tidak salah Dek, Abang sendiri yang salah, Abang mengutuk diri Abang sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa." ujar Munzir lagi.


__ADS_2