
Yana jad serba salah, satu sisi dia mau pulang ke rumah mertuanya, sebab Yana tahu mertuanya pasti akan menjaga dia dan anaknya dengan baik, satu sisi lagi Yana tidak mau bikin masalah baru dengan Maknya.
"Kita pulang ke rumah Mak aku aja Abang, ngak enak dengan Mak nanti, bertambah Mak benci kita jik kita pulang ke rumah orang tua Abang." ucap Yana sambil di setuju oleh suaminya.
Tepat hari yang sudah di tunggu, Yana pulang ke rumah Makanya dengan di temani suami dan mertuanya, Yana pulang dengan menaiki mobil yang sengaja di sewakan oleh suaminya, anak mereka di pangkuan mertuanya, perjalan yang terasa begitu cepat berbanding ketika Yana berangkat tiga hari yang lalu.
"Bisa jalan Dek?" ucap Munzir pas Yana baru saja menapaki kakinya di jalan.
"Bisa Abang, ngak apa-apa, aku bisa!" sahut Yana sambil menuruni mobil yang sudah membawanya pulang.
Walau bagaimanapun Munzir tetap tidak membiarkan Yana berjalan sendiri, Munzir memimpin tangan istrinya agar bisa berjalan dengan seimbang.
Tidak ada sambutan dari Mak Yana, bahkan rumah Yana terlihat sepi, padahal Yana sudah menelpon keluarganya bahwa dia akan pulang hari ini.
"Kok sepi Dek? apa Mak ngak ada di rumah ya?" tanya Munzir agak aneh dengan suasana rumahnya yang sepi.
"Mungkin Mak ada di belakang Abang, ngak apa-apa kita masuk aja dulu ke dalam rumah." Yana tahu kebencian Mak Yana semakin terlihat padanya dan suami, Yana sendiri tidak tahu salah dan silap Yana di mana.
__ADS_1
bentuk rumah Yana memanjang, depan rumah dan dapur rumahnya sama-sama mempunyai pintu depan rumah, jadi Yana dan Maknya tinggal terpisah, rumah depan dan dapur mempunyai dinding penyekat seolah-olah rumah tersebut mempunyai dua penghuni yang berbeda.
Yana terus masuk ke rumah sambil di bimbing oleh suaminya, mertuanya mengekor dari belakang sambil membawa bayi perempuan mereka, anak Yana berjenis kelamin perempuan dan di beri nama Gisya.
"Kok Mak ngak peduli sama kita Dek? ngak ada persiapan apa-apa untuk menyambut kepulangan kita." Munzir sudah terasa hati dengan mertuanya.
"Mak lupa kali kita pulang hari ini, Abang ambil aja tikar mengkuang yang ada dalam lemari tu, malam ini aku dan Mamak tidur di ruang tamu aja dulu." ucap Yana menyembunyikan rasa benci Mak Yana terhadap mereka, padahal mereka sama-sama tahu akan sikap Mak Yana kebelakang ini.
Munzir mengambil tikar yang di perintahkan oleh Yana, tikar tersebut diletakkan di ruang tamu sesuai yang Yana inginkan, Yana dan anak yang baru berusia empat hari pun diletakkan di tikar tersebut dengan beralaskan kasur yang sudah Yana sediakan sejak beberapa bulan yang lalu.
"Kamu sudah pulang Yana? kok Mak ngak tahu." Mak Yana tiba-tiba nonggol di depan pintu rumah.
Mak Yana masuk langsung mendekati cucu barunya, ini satu-satunya cucu perempuan dalam keluarga Yana, adik Yana yang laki-laki akan menikah setelah Yana habis berpantang.
Mertuanya Yana setiap hari mengurus cucu dan menantunya Yana, tapi entah kenapa mertua Yana tiba-tiba ingin pulang ke rumahnya, Yana tidak bisa membantah keputusan mertuanya, akhirnya mertua Yana pun pulang.
Hari berlalu begitu cepat, Yana di urus sendiri oleh suaminya, dari jamu sampai lah menjaga anak mereka, suami Yana dengan sigap mengurus istrinya sebelum dia pergi bekerja, Mak Yana memang setiap hari memasak, tapi Yana tidak pernah meminta makan jika dia lapar, Mak Yana pun tidak pernah bertanya Yana mau makan atau tidak.
__ADS_1
Yana akan menunggu anaknya pulang untuk Yana minta makan siang, kini anak Yana sudah pun berusia dua bulan, terasa begitu cepat sekali anaknya membesar.
"Yana...rencananya Mak mau mengadakan pesta pernikahan adik mu hujung bulan ini." ucap Mak Yana suatu hari.
Yana diam tanpa ekspresi, dia tahu adiknya tidak mempunyai uang yang cukup untuk melamar kekasihnya.
"Emangnya Rizal sudah mempunyai uang yang cukup untuk menikah Mak?
"Rizal tidak mempunyai uang sih, tapi sebagai laki-laki wajib untuk menikah, di sebabkan dia tidak mampu maka orang tua yang akan menanggung sepenuhnya." Mak Yana ngak cerita pun Yana sudah tahu, Mak Yana pasti akan mengeluarkan modal yang banyak untuk anak laki-lakinya menikah.
Berbeda dengan Yana yang harus menanggung semua biaya pernikahannya sendiri, sebab Yana adalah anak perempuan dan seorang janda.
"Oh...begitu ya Mak, ya sudah ikut mana baiknya aja Mak." ucap Yana seakan-akan Mak Yana tidak pernah menganggap Yana juga anaknya.
Pernikahan adik Yana di adakan dengan meriah, Yana juga ikut bahagia dengan kebahagian adiknya, tidak pernah sekali pun Yana membenci adiknya, bagi Yana adiknya tidak bersalah, yang salah adalah orang tua mereka sendiri yang tidak bisa adil dengan anak-anaknya, dan terlalu memilih kasih.
Setelah beberapa bulan pernikahan adik Yana, dia berselisih pendapat dengan Maknya, di hari itu juga Yana harus angkat kaki dari rumah, tapi yang paling menyakitkan adalah Yana di usir bersama suami dan anaknya Munzir, tapi orang tua Yana melarang Yana membawa anak-anaknya dengan Faizal.
__ADS_1
"Kalau kamu mau pindah dari rumah ini, pindah aja sana, tapi ingat!!!
"Jangan pernah kamu membawa Azham dan Hafiz, kamu pikir mampu mau kasih makan mereka? kalian aja masih menumpang hidup disini." suara Abah juga tiba-tiba membenci Yana dan suaminya.